Uji Coba Taksi Terbang di Samarinda
Ekonom dari Unmul Samarinda Kritisi Taksi Terbang, Celah Bagi Investor Asing dan Kesenjangan
Ekonom yang juga akademisi dari Universitas Mulawarman Kota Samarinda, Purwadi Purwoharsojo, memberi kritik uji coba taksi terbang di Samarinda
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Ekonom yang juga akademisi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Kota Samarinda, Purwadi Purwoharsojo, memberi kritik uji coba taksi terbang untuk transportasi ke Ibu Kota Nusantara (IKN Nusantara) di Kalimantan Timur.
Menurutnya, teknologi kendaraan sky taxi yang dikembangkan oleh Korea Aerospace Research Institute (KARI) dan Hyundai Motors Company (HMC) nampaknya membuat Indonesia bertumpu ke negara lain.
Kehadiran kendaraan teknologi canggih di Ibu Kota Nusantara dari negara luar dan bukan dari hasil kreasi putra-putri tanah air Indonesia.
Sebab, Indonesia memiliki perusahaan yang bergerak di bidang transportasi penerbangan yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dan tentu memiliki insinyur yang kompeten dalam pengembangan transportasi di Tanah Air.
Baca juga: BREAKING NEWS: Uji Coba Prototype Taksi Terbang Berlangsung di Bandara APT Pranoto Samarinda
“Ya kita punya PT Dirgantara Indonesia, tapi tidak diberikan kesempatan untuk putra-putri terbaik bangsa. Masa kita tidak bisa memberdayakan putra-putri terbaik bangsa? Katanya generasi emas, jangan sampai tidak ada tempat juga untuk mereka di 2045,” tuturnya kepada TribunKaltim.co pada Senin (29/7/2024) malam.
Pemerintah yang berniat menghadirkan kendaraan canggih sebagai fasilitas di IKN Nusantara, menurut Purwadi tak bisa buru–buru.
Hal lain juga harus diperjelas, terkait kesepahaman dalam penggunaan teknologi sky taxi di IKN Nusantara itu.
"Teknologi ini apakah benar-benar akan memberi manfaat pada Indonesia, ataukah justru kembali menjadi celah adanya investor asing masuk ke Tanah Air," ujarnya.
Kehadiran teknologi bernilai bertolak belakang dengan kondisi masyarakat Kaltim, yang untuk beberapa daerahnya, masih sulit untuk fasilitas primer, seperti air dan listrik.
Secara makro, Purwadi menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sedang tergerus, dengan hampir 40 persen konsumsi menengah menurun, yang berdampak pada daya beli masyarakat.
Perlakuan pemerintah terhadap ragam kelas ekonomi tidak menjunjung asas keadilan, teknologi canggih tak selaras dengan kondisi masyarakat rakyat masih susah.
Baca juga: Uji Coba Taksi Terbang IKN Nusantara di Bandara AAP Samarinda, Jurnalis Kaltim Dicegah Ambil Gambar
Jika bicara penyangga IKN Nusantara, kesenjangan masih terjadi di Kabupaten Mahulu dan Kutai Barat, dan beberapa Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur.
“Buat apa ada taksi terbang kalau rakyat kita masih susah. Susah air, susah listrik. Jalan rusak masih ada di mana-mana. Belum lagi ketersediaan sekolah, masalah kemiskinan, stunting dan lain-lain,” tukasnya.
Sementara itu, pada Senin 29 Juli 2024 siang, prototype sky taxi (taksi terbang) telah menjalani uji coba perdana di Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda, Kalimantan Timur.
Dalam siaran pers Otorita IKN, Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Transformasi Digital, Mohammed Ali Berawi, mengatakan bahwa taksi terbang yang diuji coba di IKN bisa mengakomodir penumpang hingga 5 orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20240729_Taksi-terbang-di-Samarinda-Kaltim-2024.jpg)