Berita Nasional Terkini

Dilaporkan ke KPK dan Polri karena Naik Helikopter, Deddy Sitorus Klarifikasi dan Sebut Nama Jokowi

Politisi dari PDI Perjuangan, Deddy Sitorus ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Mabes Polri terkait dugaan gratifikasi.

Editor: Heriani AM
Fadel Prayoga/Kompas TV
Politisi dari PDI Perjuangan, Deddy Sitorus ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Mabes Polri terkait dugaan gratifikasi. 

"Soal katanya saya flexing naik heli, wah gila ya. Tidak tahu cerita. Kalimatan Utara itu terdiri dari daerah pedalaman jadi hampir 40 persen pemilih ada di daerah pedalaman. Kaltara tidak seperti di Jawa ada jalan raya. Jadi kalau mau ke desa-desa tidak ada jalan raya, tidak ada sungai itu anda butuhkan waktu berhari-hari berjalan kaki. Kalau ada sungai, sungai tidak sampai ke hulu," ujarnya.

Baca juga: Politikus PDIP Deddy Sitorus Bongkar Dosa Jokowi dan SBY Terhadap Megawati, Siapa yang Paling Fatal?

Lebih lanjut Deddy katakan bahwa untuk mendatangi pemilih di daerah perbatasan seperti Nunukan dan Malinau, membutuhkan waktu yang cukup lama dan menguras tenaga.

Sehingga ia memilih untuk menyewa helikopter agar bertemu dengan para pemilihnya di wilayah pelosok.

"Saya gunakan heli untuk datangi pemilih di desa-desa yang tidak didatangi oleh calon manapun. Kami diajarkan partai harus turun ke bawah. Saya keluarkan uang dan sudah dilaporkan ke KPU untuk menyewa heli," tuturnya.

Deddy mengaku bertarung nyawa melewati badai dan gunung untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman.

"Supaya saya bisa dengar keluhan mereka. Kalau Caleg (calon legislatif) lain hanya kirim tim dan siraman money politik. Kita datangi dengan hati. Jadi itu bukan flexing," pungkasnya.

Singgung Keluarga Jokowi

Dalam postingan klarifikasi Deddy, dia menyinggung putra bungsu dan menantu dari mantan Presiden RI Jokowi yakni Kaesang Pangarep dan Bobby Nasution.

"Pergi ke Krayan, anda tidak bisa kalau tidak naik pesawat udara. Seperti di Papua itu bukan pesawat mewah model Kaesang atau Bobby Nasution. Itu pesawat perintis," imbuhnya.

Bahkan menurut Deddy, tudingan terhadapnya merupakan bentuk pembunuhan karakter.

"Jadi anda jangan coba-coba lakukan pembunuhan karakter. Misalnya di Malinau, penduduknya hanya sekira 85.000 jiwa, luasnya lebih luas dari Jawa Barat. Dari satu desa ke desa lain bisa 200 kilometer menembus hutan. Jadi jangan sembarangan. Kaltara itu terdiri dari pulau-pulau dan sungai besar," terangnya.

Baca juga: Blak-blakan Deddy Sitorus Sebut Mustahil PDIP Akur dengan Jokowi Lagi, Kalau Prabowo?

Deddy juga menceritakan perjuangannya mendatangi simpatisan di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan pada Pemilu 2019.

"Saya harus carter speedboat biaya lebih besar. Mati mesin satu, sisa satu dan itu di rawa isi buaya semua. Lewat Nunukan yang hanya dipisahkan sungai kecil dengan Malaysia dikejar Polis Marine. Ketika hujan, di speed hanya ada lampu Hp tidak bisa lihat apa-apa. Jadi semuanya dilakukan untuk bisa menyapa pemilih bukan flexing," jelasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunKaltara.com dengan judul Dilaporkan ke KPK dan Polri Soal Gratifikasi, Deddy Sitorus Beri Klarifikasi dan Singgung Jokowi.

Ikuti berita populer lainnya di Google News, Channel WA, dan Telegram

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved