Selasa, 7 April 2026

Berita Balikpapan Terkini

Romantisme dan Pengalaman Baru di Gebyar Budaya LPM Margomulyo

Ruwat desa sendiri sengaja digelar sebagai pembuka karena punya makna filosofis, membersihkan desa atau kampung dari hal-hal negatif

Penulis: Januar Alamijaya | Editor: Januar Alamijaya
Tribun Kaltim/Januar Alamijaya
GEBYAR BUDAYA - Forum Komunikasi Kelurahan Margo Mulyo bersama-sama melakukan ruwat bersih desa sebagai bagian dari Gebyar Budaya LPM Margo Mulyo yang digelar di lapangan Gunung 4 Keluarahan Margo Mulyo Balikpapan, Minggu 9 Februari 2025 

TRIBUNKALTIM.CO -  Asap tipis putih membumbung tinggi di udara, diikuti oleh bau kemenyan yang menyeruak masuk ke dalam hidung, membuat suasana Minggu pagi itu sedikit terasa mistis. 

Tak lama seorang tetua membacakan rapalan doa, dikelilingi oleh sejumlah petinggi yang duduk berkeliling diatas panggung. Setelahnya sang tetua membawakan pagelaran wayang dengan lakon Rahwana sembari menjelaskan arti dari ruwatan bebersih desa.

Fragmen ini merupakan pembuka dari rangkaian ruwat bersih desa yang merupakan bagian dari acara Gebyar Budaya LPM Margo Mulyo yang digelar Minggu (9/2/2025) di Lapangan Gunung 4 Balikpapan.

Ruwat desa sendiri sengaja digelar sebagai pembuka karena punya makna filosofis, membersihkan desa atau kampung dari hal-hal negatif yang mungkin terjadi selama perjalanan waktu.

Baca juga: Meriahkan HUT ke-128 Kota Balikpapan Ratusan Pelajar Siap Tampilkan Tari Massal

Setelahnya selama sehari penuh sejumlah kesenian tradisonal disajikan dalam Gebyar Budaya LPM Margo Mulyo yang diselenggarakan sebagai bagian dari HUT ke 128 Kota Balikpapan yang jatuh pada 10 Februari 2025.

Salah satunya adalah tari gandrung yang berasal dari Banyuwangi, Jawa timur. Tarian yang di daerah asalnya merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian ini disajikan secara berpasangan di atas panggung.

Iringan musik yang merupakan perpaduan budaya Jawa dan Bali turut mengiringi pertunjukan tari gandrung dari sejumlah penari.

Sebelumnya para penonton yang hadir telah lebih dulu disuguhi dengan tarian Garuda yang merupkan simbol dari NKRI serta tarian dari suku Dayak yang merupakan suku asli di Kalimantan Timur.

Atraksi yang ditunggu-tunggu oleh sejumlah masyarakat baru ditampilkan pada siang hari yakni kesenian jaranan yang dibawakan oleh Paguyuban Suryo Jati Arum Balikpapan.

Membawa lakon tari Buto kesenian jaranan ini bahkan ditampilkan dalam 3 sesi secara terpisah.

Antusiasme terlihat dari ratusan penonton yang terus berdatangan hingga sore hari menyaksikan atraksi dari pelakon mulai dicambuk badannya hingga memakan beling.

Masyarakat dari berbagai usia mulai kelompok gen X, milenial hingga gen Z bercampur menjadi satu menyaksikan atraksi sembari harap-harap cemas jika sewaktu-waktu sang penari mengejar mereka hingga ke bawah panggung yang pastinya bakal memompa adrenalin

Gen X dan milenial mungkin ingin merasakan romantisme mengenang bagaimana ketika muda dulu mereka menonton kesenian jaranan. Kenangan saat dikejar penari yang kesurupan masih menjadi memori yang sampai saat ini belum bisa dilupakan

Sementara gen z ingin merasakan pengalaman baru menyaksikan budaya dari negeri sendiri setelah selama ini digempur tayangan K-Pop dari negara Shin Tae Yong.

Baca juga: Logo HUT Balikpapan 2025 Lengkap Tema yang Diusung Tahun Ini, Unduh secara Gratis

Percampuran keberagaman ini sesuai dengan tujuan awal diadakannya acara ini, sebagaiman diungkapkan oleh Ketua LPM Margo Mulyo, Munawar.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved