Selasa, 14 April 2026

Ramadhan 2025

Merawat Kemabruran Puasa 18 - Dari Tahmid ke Syukur

Ada yang mengatakan bahwa syukur terhadap syukur adalah syukur yang paling sempurna. Syukur seseorang itu adalah karena milik Allah...

Editor: Syaiful Syafar
nasaruddinumar.id
NASARUDDIN UMAR - Foto arsip Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. (nasaruddinumar.id) 

Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

TAHMID ialah ungkapan spontanitas seseorang yang baru saja merasakan nikmat dan karunia Allah SWT dengan mengucapkan kata Alhamdulillah. 

Kata ini berasal dari akar kata hamida-yahmadu, berarti segala puji hanya tertuju kepada Allah SWT. Sedangkan syukur lebih dari sekedar bertahmid.

Syukur berasal dari kata syakara-yasykuru, berarti bersyukur, berterima kasih.

Sedangkan menurut istilah oleh sebagian ulama dikatakan mengeluarkan hak-hak orang lain dari nikmat Allah yang kita peroleh, misalnya mengeluarkan zakat minimal 2,5 persen sebagai zakat ditambah dengan sadaqah dan berbagai bentuk pemberian lainnya kepada mereka yang berhak.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 17 - Dari Mukhlish ke Mukhlash

Menurut para ahli, hakekat syukur adalah menyandarkan segala nikmat kepada pemberi nikmat dengan sikap rendah diri.

Atas dasar pengertian inilah Allah SWT mempunyai sifat asy-syakur, syukur yang sangat luas.

Allah SWT memberikan balasan kepada para hamba-Nya atas kesyukurannya.

Al-Junaid mengatakan, syukur ialah engkau tidak memandang dirimu sebagai pemilik nikmat.

Syakir adalah orang yang mensykuri atas adanya pemberian, sedang syakur mensyukuri atas penolakan.

Ada juga yang mengatakan, syakir adalah orang yang mensyukuri atas nikmat, sedangkan syakur adalah mensyukuri atas musibah yang menimpanya.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 16 - Dari Khauf ke Khasyyah

Menurut Al-Syibli, syukur ialah melihat kepada pemberi nikmat dan bukan kepada nikmatnya.

Pernyataan ini diperkuat dengan ucapan Nabi Ayyub AS yang bersikap sabar terhadap musibah yang menimpanya, sehingga ia disebut sebagai hamba yang sebaik-baiknya.

Demikian juga Nabi Sulaiman AS yang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya sehingga ia disebut juga sebagai hamba yang sebaik-baiknya.

Hal ini disebabkan karena keduanya konsentrasi pada pemberi nikmat dan bukan pada musibah dan nikmat itu, sehingga dengan demikian keduanya tidak merasakan sama sekali rasa sakit dan nyaman.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved