Sabtu, 11 April 2026

Ramadhan 2025

Merawat Kemabruran Puasa 21 - Dari Takut ke Taqwa

Kata taqwa tidak bisa diartikan dengan takut karena mungkin tingkat kebenarannya hanya 35 persen, terutama jika dihubungkan dengan Allah SWT.

Editor: Syaiful Syafar

Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

BAHASA Arab terkadang sulit dicari padanan terjemahannya di dalam bahasa Indonesia.

Banyak bahasa Arab Al-Qur'an yang terpaksa diterjemahkan dengan kata aslinya, karena tidak dijumpai padanannya yang tepat di dalam kamus bahasa Indonesia. Salah satu di antaranya ialah kata taqwa.

Kata taqwa berasal dari akar kata waqa-yaqi berarti memelihara seseorang dari bahaya atau kesakitan, kemudian membentuk kata tawaqqa yang bisa diartikan dengan "takut". 

Kata taqwa tidak bisa diartikan dengan takut karena mungkin tingkat kebenarannya hanya 35 persen, terutama jika dihubungkan dengan Allah SWT.

Dalam firman Allah SWT disebutkan: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Q.S. Ali 'Imran/3:102).

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 20 - Dari Shabir ke Mashabir

Kata ittaqullah diartikan bertakwalah kepada Allah, tidak diterjemahkan takutlah kepada Allah. 

Taqwa dalam bahasa Arab merupakan kombinasi antara rasa takut yang sangat kuat, rasa cinta yang sangat dalam, dan rasa segan yang amat tinggi.

Kalau diartikan taqwa dengan takut, maka unsur cinta dan segannya hilang, padahal itu juga merupakan unsur penting dalam taqwa.

Ilustrasinya seperti anak kecil terhadap ibu dan bapaknya.

Seorang anak pasti sangat mencintai ibu dan bapaknya, tetapi pada sisi lain ia juga sangat takut dan segan terhadapnya.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 19 - Dari Syukur ke Syakur

Sang anak pasti sangat takut pada orangtuanya karena segalanya masih tergantung pada keduanya. 

Namun, sang anak juga sangat mencintai kedua orangtuanya karena dialah yang menjadi tumpuan cinta kasihnya.

Pasa saat bersamaan juga ia sangat respek dan segan terhadapnya karena segala keperluannya masih disuplai oleh kedua orangtuanya.

Tidak heran kalau dalam kitab-kitab tasawuf sering dikatakan bahwa latihan untuk takut, cinta, dan respek terhadap Allah SWT ialah takut, cinta, dan respek pada kedua orangtua.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved