Minggu, 26 April 2026

Ramadhan 2025

Merawat Kemabruran Puasa 23 - Dari Self-Love ke Selfishness

Kata cinta di dalam bahasa Arab bertingkat-tingkat hingga 14 macam jenis cinta. Dalam bahasa Inggris lumayan lebih banyak kosakatanya

Editor: Syaiful Syafar
TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN
NASARUDDIN UMAR - Foto arsip Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, Imam Besar Masjid Istiqlal saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/5/2023). (TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN) 

Self-love bisa merasakan kepuasan sejati di dalam dirinya, terutama kalau dia mampu berbagi dengan orang lain.

Dia bisa merasakan kebahagiaan terlebih dahulu sebelum memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 20 - Dari Shabir ke Mashabir

Dengan demikian, sedikit atau banyak tidak menjadi penentu kebahagiaan dan kepuasan tetapi ukurannya kekayaan dan kepuasaan jiwa.

Sama dengan bahasa agama Islam: Al-Gina gina al-nafs (kekayaan sejati ialah kekayaan jiwa).

Berbeda dengan selfishness yang sesungguhnya sudah menjurus kepada keserakahan dan kelainan jiwa.

Keserakahan yang diperparah dengan penyakit kelainan jiwa inilah yang melahirkan kapitalisme.

Orang-orang yang serakah dalam sistem kapitalisme semakin parah karena kehidupan konsumerisme sudah dipicu dan dirangsang oleh iklan bermacam-macam, karena itu masyarakat kapitalis tidak pernah selesai berkonsumsi.

Konsumerisme sudah merupakan gaya hidup, atau kebudayaan bagi kaum selfishness.

Jika kita melakukan pembiaran terhadap gaya hidup selfishness ini maka cepat atau lambat martabat kemanusiaan akan jatuh ke titik nadir. (*)

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved