Rabu, 15 April 2026

Ramadhan 2025

Merawat Kemabruran Puasa 25 - Dari Syari'ah ke Hakikat

Syaria'h lebih merupakan konsep merambah jalan Tuhan, sedangkan hakikat keabadian di dalam melihat-Nya.

Editor: Syaiful Syafar
TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN
NASARUDDIN UMAR - Foto arsip Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, Imam Besar Masjid Istiqlal saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/5/2023). (TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN) 

Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

DALAM kitab-kitab tasawuf sering kita temukan istilah: Man tashawwaf wa lam yatafaqqaha faqad tafassaq, wa man tafaqqaha wa lam yatashawwafa faqad tazandaq, wa man jama'a baina huma faqad tahaqqaqah (Barang siapa yang bertasawuf (hakikat) tanpa berfikih (syari'ah) maka ia fasik. Barang siapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia zindiq, dan barang siapa yang menggabungkan keduanya maka ia mencapai puncak kebenaran).

Pernyataan ini mengisyaratkan betapa pentingnya penyerasian antara syari'ah dan hakikat.

Menurut Al-Qusyairi, syari'ah merupakan perintah yang harus dilaksanakan dalam bentuk ibadah, dan hakikat merupakan kesaksian akan kehadiran peran serta keTuhanan dalam setiap kehidupan.

Syaria'h lebih merupakan konsep merambah jalan Tuhan, sedangkan hakikat keabadian di dalam melihat-Nya.

Kita masih mengenal satu istilah lain, yaitu tarekat, yang merupakan perjalanan hamba di dalam meniti jalan syari'ah. 

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 24 - Dari Sugesti Setan ke Sugesti Malaikat

Dengan alasan apa pun, tidak ada jalan lain para ahli hakikat untuk meninggalkan syari'ah. Namun idealnya pengamalan syari'ah disemangati oleh hakikat.

Wadah untuk menyinergikan antara syari'ah dan hakikat ialah tarekat.

Orang yang menuntun jemaah untuk melakukan sinergi syari'ah dan hakikat biasanya disebut mursyid.

Sedangkan mursyid adalah representasi atau perpanjangan syekh, yang merupakan pendiri dan penganjur suatu tarekat.

Kehadiran syari'ah yang tidak diikat dengan hakikat tidak dapat diterima.

Sebaliknya kehadiran hakikat tidak dilandasi syari'ah tidak akan berhasil. Bahkan kemungkinannya bisa mengakibatkan penyesatan.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 23 - Dari Self-Love ke Selfishness

Siapapun yang hendak memasuki dunia hakikat lebih jauh sebaiknya memilki mursyid yang akan membimbing mereka.

Syari'ah berisi beban hukum dari Allah SWT kepada para hamba, sedangkan hakikat lebih merupakan dominasi kreatif Al-Haq dan merupakan kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan pada diri hamba.

Al-Qusyairi mencontohkan: Iyyaka na'budu adalah manifestasi syari'ah, sedangkan iyyaka nasta'in adalah manifestasi hakikat

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved