Senin, 18 Mei 2026

Ramadhan 2025

Merawat Kemabruran Puasa 31 - Dari Meditasi ke Khalwat

Rasulullah SAW berkhalwat seorang diri di puncak gunung Hira dalam sebua goa (Goa Hira).

Tayang:
Editor: Syaiful Syafar
TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN
NASARUDDIN UMAR - Foto arsip Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, Imam Besar Masjid Istiqlal saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/5/2023). (TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN) 

Boleh saja seseorang tidak memperoleh ketenangan jiwa tetapi sudah berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an atau mengkondisikan diri sebagai ahli ibadah dan ahli dzikir selama beberapa saat.

Ketenangan batin bukan merupakan tujuan akhir.

Yang menjadi tujuan akhir ialah kedekatan diri dengan Allah SWT (taqarrub ila Allah).

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 28 - Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati

Kalau sudah merasa lebih dekat dengan Allah SWT biasanya ketenangan itu dengan sendirinya terwujud (ala bidzikrillah tathmainnul qulub), walaupun itu tidak menjadi tujuannya. 

Seorang peserta meditasi merasa rugi kalau di dalam meditasinya gagal untuk mencapai ketenangan jiwa.

Untuk meraih ketenangan jiwa seringkali peserta meditasi harus dilengkapi dengan berbagai alat dan sarana seperti musik-musik meditasi dan sarana lain untuk mengecoh pikiran (mind) agar tidak ikut terlibat di dalamnya.

Instruktur meditasi sering kali mengeluarkan statement bahwa di dalam menjalankan praktik meditasi peserta harus berada pada posisi "no mind".

Sedangkan dalam khalwat kita diajak untuk bersahabat dan mencintai semua, termasuk pikiran.

Walaupun disadari juga bawa khalwat atau mujahadah yang paling tinggi kualitasnya manakala kita berhasil menyingkirkan segalanya kecuali Tuhan, la ilaha illallah. (*)

IKUTI TULISAN BERSERI HIKMAH RAMADHAN OLEH MENTERI AGAMA DI SINI

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved