Berita Internasional Terkini
Perang Iran-Israel, Selat Hormuz di Mana? Dampak Jika Teheran Tutup Jalur Perdagangan Minyak Dunia
Perang Iran-Israel, Selat Hormuz di mana? Dampak jika Teheran menutup jalur perdagangan minyak yang vital di dunia.
Pada 16 April 2025, tiga hari sebelum rudal Israel menerjang pertahanan udara Iran, kantor berita Iran IRNA mengutip Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol yang mengatakan bahwa sebanyak 60 persen pasokan minyak di negaranya melalui Selat Hormuz.
EIA juga mengungkapkan AS mengimpor sekitar 700.000 barel minyak mentah dan kondensat dari selat per hari—kira-kira 11 persen dari keseluruhan impor minyak dan 3 persen dari konsumsi bensin.
Sementara itu, minyak yang diangkut ke Eropa melalui Selat Hormuz mencapai kurang dari 1 juta barel per hari.
Mengacu pada kondisi tersebut, negara-negara Arab dan Asia sepertinya akan mengalami kerugian cukup besar ketimbang AS dan Eropa apabila Selat Hormuz ditutup.
Terlebih lagi, AS dan Eropa secara politik sejalan dengan Israel dalam konflik baru-baru ini.
Sedangkan, sejumlah negara Asia masih menjaga hubungan baik dengan Iran.
Pengaruh China
China merupakan konsumen terbesar minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagian besar minyak ini dijual Iran dengan harga di bawah harga pasar global.
Cara ini merupakan jaring pengaman ekonomi yang membantu Teheran bertahan dari rentetan sanksi AS.
Sebagai pembeli utama minyak milik Iran, Beijing tidak menyambut baik kenaikan harga minyak atau gangguan dalam rute pengiriman logistiknya.
China diharapkan bisa menggunakan kekuatan diplomatiknya untuk mencegah penutupan jalur energi yang penting ini.
Anas Alhajji, mitra dari konsultan energi Outlook Advisors, menyampaikan pada CNBC, penutupan Selat Hormuz bisa merugikan sekutu Iran ketimbang musuh-musuhnya.
"Mereka (Iran) tidak mau melakukan sesuatu yang mampu merugikan mereka sendiri," ujar Alhajji.
Ancaman penutupan Selat Hormuz selama bertahun-tahun mendorong negara-negara pengekspor minyak di wilayah Teluk untuk mengembangkan jalur ekspor alternatif.
Berdasarkan laporan EIA, Arab Saudi telah mengaktifkan pipa Timur-Barat, jalur sepanjang 1.200 km yang mampu mengangkut hingga lima juta barel minyak mentah per hari.
Pada 2019, Arab Saudi menggunakan kembali pipa gas alam untuk mengangkut minyak mentah sementara waktu.
Uni Emirat Arab juga telah menyambungkan ladang minyaknya ke Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman melalui pipa dengan kapasitas harian 1,5 juta barel.
Pada Juli 2021, Iran meresmikan pipa Goreh-Jask, yang dimaksudkan untuk mengalirkan minyak mentah dari Teluk Oman.
Belakangan ini, pipa-pipa ini bisa membawa 350.000 barel per hari—meski dari laporan menunjukkan Iran belum melakukannya.
EIA juga memperkirakan rute-rute alternatif ini secara kolektif dapat menampung 3,5 juta barel minyak mentah per hari—sekitar 15 persen dari minyak mentah yang saat ini dikirimkan melalui Selat Hormuz.
Baca juga: Desak Warga Tinggalkan Teheran di Tengah Perang Iran-Israel, Trump Dihujat Anggota Parlemen AS
(*)
Ikuti berita populer lainnya di saluran berikut: Channel WA, Facebook, X (Twitter), YouTube, Threads, Telegram
Artikel ini telah tayang di Kompas.com.
Iran Minta Warganya Berhenti Pakai WhatsApp Imbas Khawatir jadi Alat Mata-mata Israel, Ini Kata Meta |
![]() |
---|
Dampak Perang Israel - Iran Bagi Indonesia, Pakar Sarankan Pemerintah Ambil Langkah-langkah Ini |
![]() |
---|
Perbandingan Kekuatan Militer Iran dan Israel yang Kini Kembali Saling Serang |
![]() |
---|
Panglima Garda Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami Tewas, Reaksi Dunia atas Serangan Israel |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.