Berita Balikpapan Terkini

Proses Pembuatan Eucanusa, Sabun Ramah Lingkungan Karya Kolaborasi SMPN 21 Balikpapan dan Akademisi

Inilah proses pembuatan Eucanusa, sabun inovasi ramah lingkungan lahir dari kolaborasi antara tim akademisi dan SMP Negeri 21 Balikpapan

TRIBUNKALTIM.CO/DOK. SMP 21 BALIKPAPAN
SABUN RAMAH LINGKUNGAN - Eucanusa, sabun cuci tangan berbahan dasar eucalyptus hanya menggunakan satu bahan kimia saja yakni sodium lauryl surfat atau surfaktan. Sehingga meminimalisir penggunaan bahan kimia dan meningkatkan budaya sehat. (TRIBUNKALTIM.CO/DOK. SMP 21 BALIKPAPAN) 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Sebuah inovasi ramah lingkungan lahir dari kolaborasi antara tim akademisi dan SMPN 21 Balikpapan.

Mereka menciptakan sabun cuci tangan berbahan dasar eucalyptus yang diberi nama Eucanusa—singkatan dari Eucalyptus untuk Nusantara. Inovasi ini tidak hanya menjadi solusi kebersihan, tetapi juga upaya edukatif dan ekologis.

Sabun cair ini dikembangkan oleh tiga akademisi, yakni Dimas Saputra, Susi Indayana, dan Anna Widyarti, yang memanfaatkan potensi tanaman eucalyptus yang tumbuh melimpah di lingkungan sekolah.

Menurut Dimas, proses penciptaan Eucanusa dimulai sejak Februari 2025, melalui serangkaian uji coba (trial and error) hingga berhasil disempurnakan pada April 2025.

Yang menarik, proses ini turut melibatkan siswa dalam praktik langsung, menjadikannya sebagai media pembelajaran aktif.

Baca juga: Berbahan Eucalyptus, Guru SMPN 21 Balikpapan Ciptakan Sabun Cuci Tangan Ramah Lingkungan

Ia berkata, saat ini karya tersebut dalam proses pengembangan menggunakan prinsip 4M yakni murah, mudah, mutu dan masif.

"Murah karena bahan bakunya yang gampang ditemui, mudah dari sisi pembuatan, mutu dari proses pembuatan yang terjaga aman dan ramah lingkungan. Kemudian masif dari sisi jumlah produksi," ujar Dimas, Selasa (24/6/2025).

Eucanusa diklaim sebagai sabun yang ramah lingkungan, karena hanya menggunakan satu jenis bahan kimia, yakni sodium lauryl surfactant (surfaktan), dibandingkan sabun komersial yang umumnya menggunakan hingga sembilan jenis bahan kimia.

Hal ini dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan mendorong kebiasaan hidup bersih secara berkelanjutan.

"Jadi dapat meminimalisir penggunaan bahan kimia dan meningkatkan budaya sehat," imbuhnya.
Begitu juga dari sisi antibakteri, yang mana disebutkannya sudah terdapat dalam kandungan daun eucalyptus.

Baca juga: Bank Indonesia Balikpapan Luncurkan Program Wakaf Produktif, Dorong Ekonomi Syariah di Kaltim

Selain surfaktan dan eucalyptus, sabun cair ini juga menggunakan garam, camperlan (sejenis cairan pengental), serta air sebagai bahan pendukung. Semua prosesnya cukup mudah, bahkan bisa diterapkan oleh rumah tangga.

Cara Membuat Sabun Eucanusa

Tahapan awal pembuatan dimulai dengan membuat minyak atsiri (essential oil) dari daun eucalyptus. Berikut langkah-langkahnya:

  • Siapkan 100 gram daun eucalyptus yang telah dicacah kecil.
  • Campurkan dengan 100 mililiter minyak kelapa sawit.
  • Panaskan hingga suhu 85 derajat Celsius, lalu biarkan dingin secara alami.
  • Diamkan selama 3–4 hari agar minyak menyerap aroma khas eucalyptus.
  • Setelah itu, minyak ini siap dijadikan bahan utama sabun cair Eucanusa.

"Untuk berhasil menjadi sabun yang terbaik, essensial oil dibiarkan hingga 3-4 hari agar dapat aroma eucalyptus. Lalu sampai akhirnya siap dibuat menjadi sabun cair," pungkasnya. (*)

Ikuti berita populer lainnya di Google News, Channel WA, dan Telegram.

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved