Berita Samarinda Terkini
Perkuat Lereng, Proyek Terowongan Samarinda Siapkan Perpanjangan Struktur 72 Meter
Penguatan struktur lereng Terowongan Samarinda di sisi inlet dan outlet terus dimatangkan oleh tim pelaksana proyek untuk mencegah longsor
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Amelia Mutia Rachmah
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Penguatan struktur lereng Terowongan Samarinda di sisi inlet dan outlet terus dimatangkan oleh tim pelaksana proyek sebagai langkah antisipatif terhadap risiko longsor yang sempat terjadi beberapa waktu lalu. Dalam upaya ini, penguatan teknis tidak hanya difokuskan pada stabilitas tanah, tetapi juga pada desain ulang struktur untuk menjamin keselamatan jangka panjang.
Prasetyo Nur selaku Site Engineer operator terowongan, mengungkapkan bahwa struktur perpanjangan tunnel sepanjang 72 meter akan dibangun di kedua sisi terowongan. Hal ini guna memperkuat daya dukung lereng yang terbukti memerlukan penguatan teknis lebih lanjut pascainsiden longsor beberapa waktu lalu.
“Jadi nanti ke depan akan ada struktur perpanjangan tunnel lagi di sisi inlet dan outlet sepanjang 72 meter untuk meningkatkan daya dukung lereng kita,” ujar Prasetyo baru-baru ini (14/7).
Pembangunan perpanjangan struktur tersebut telah dikontrakkan sejak akhir 2022 dan ditargetkan selesai dalam tahap pertama hingga Desember 2025. Namun, penyelesaian fisik dan penguatan tambahan akan disesuaikan dengan arahan resmi dari pemilik proyek, dalam hal ini PUPR serta Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Menurut Prasetyo, pelandaian lereng menjadi salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan demi mencapai level keamanan yang optimal secara geoteknis.
Baca juga: DPRD Samarinda Soroti Longsor Terowongan dan Desak Evaluasi Teknis Proyek Ratusan Miliar
“Pekerjaan akan diselesaikan tahap satu ini di akhir Desember, tapi nanti kita akan ikut arahan pemilik proyek PU ataupun pemerintah kota apabila dilanjutkan pelandaian lerengnya agar dicapai tingkat keamanan,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejak Februari 2025 pihaknya telah mendeteksi gejala awal pergerakan tanah di sekitar inlet. Tanda-tanda berupa retakan pada lereng menjadi indikator awal yang langsung ditindaklanjuti dengan investigasi mendalam hingga bulan Mei.
Dalam proses ini, tim teknis melakukan pengambilan sampel tanah, analisis lapangan, serta pemetaan kondisi geologi sekitar area yang mengalami tekanan gravitasi dan potensi endapan talus.
“Jadi di bulan Februari ada mulai retak, kita sudah melakukan investigasi dari bulan Februari ke bulan Mei. Kita mengambil uji tanah lagi, kita ambil hal-hal yang diperlukan lagi kemudian kita merencanakan desainnya dari bulan Juni sampai Juli,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prasetyo menyampaikan bahwa rencana teknis hasil investigasi tersebut saat ini telah memasuki tahap akhir penyusunan desain, dan dalam waktu dekat akan dipaparkan secara resmi kepada Dinas PUPR Samarinda serta jajaran pemangku kepentingan terkait.
Baca juga: Pemkot Samarinda Pastikan Serah Terima Terowongan di Akhir Tahun, Saat ini Tahap Evaluasi Teknis
Pemaparan ini akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan lanjutan, baik dari segi konstruksi maupun pembiayaan.
“Nanti kita akan paparkan oleh pihak PUPR Samarinda dan Pemerintah Kota untuk tindak lanjutnya seperti apa,” tutupnya. (*)
| Terungkap Profesi dan Identitas Mayat di Belakang GOR Unmul Samarinda, Ada Honda CBR 150 di TKP |
|
|---|
| 4 Fakta Mayat Ditemukan di Belakang GOR Unmul Samarinda: Temuan Polisi di TKP dan Identitas Korban |
|
|---|
| Pendaftaran Calon Ketua Kadin Samarinda Dibuka hingga 16 April 2026, Ini Syaratnya |
|
|---|
| Geger, Mayat Pria Ditemukan di Belakang GOR Unmul Samarinda |
|
|---|
| WFH ASN Samarinda Ubah Pola Kerja, Diskominfo Tekankan Adaptasi Digital dan Pengawasan Berlapis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250715_Terowongan_Samarinda_Kondisi_Terkini.jpg)