Selasa, 21 April 2026

Berita Berau Terkini

Susur Sungai Jadi Harapan Pariwisata Kampung Long Beliu Berau

Tidak ada suara bising kendaraan siang itu. Hanya ada suara aliran gemuruh sungai yang menghanyutkan, lengkap dengan suara serangga saling bersahutan

TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI PENGESTI
SUSUR SUNGAI - Wisata Susur Sungai Kampung Long Beliu Kecamatan Kelay Kabupaten Berau.Meski terik matahari luar biasa menyengatnya di dermaga Kampung Long Beliu, tetapi hutan-hutan yang mengelilingi kampung, seakan-akan membawa perasaan yang sejuk. (TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI) 

Saat itu, dengan bisingnya suara mesin ketinting, pemandu wisata, Nefri yang berada di kapal nomor tiga mencoba menjelaskan lokasi pemberhentian pertama dalam wisata susur sungai itu. Tempat itu bernama Musang Bulu.

Jarak menuju Musang Bulu dari dermaga ,ditempuh kurang lebih 20 menit. Namun, rasanya seperti sekejap saja, tidak terasa lama. Hutan yang mengelilingi Kampung Long Beliu sangat memanjakan mata.

Meski tak banyak, sesekali kapal penambang emas illegal dan beberapa orang pekerja hadir ditengah-tengah perjalanan menjadi figuran di Sungai Gie yang merupakan anak sungai dari Sungai Kelay.

Terlihat juga, ladang masyarakat yang ditanami jagung dan padi pegunungan. Hutan bambu juga bertebaran selama perjalanan.

Ketinting yang ditumpangi menepi ke pinggir sungai. Di sana, sudah hadir hamparan bebatuan membentuk sebuah pulau kecil. Air sungai terasa dingin saat kaki menyentuh air sungai Gie, saat rombongan turun bergantian.

Nefri menjelaskan, jika sungai dalam keadaan surut, maka bebatuan bisa terlihat lebih banyak. Tetapi dihari itu, sungai sedang pasang dan air sungai sebenarnya sedang keruh.

Jika surut, biasanya masyarakat kampung Long Beliu sering menggunakan Musang Bulu sebagai lokasi piknik, camping atau sekedar bersantai.

“Biasanya kami orang kampung sering menggunakan untuk camping. Bakar-bakar ikan setelah memancing. Jadi kami ingin menjual kegiatan ini kepada para wisatawan,” Ia menjelaskan.

Jika ingin menghabiskan waktu di Musang Bulu, boleh lah datang di bulan Maret. Menurut Nefri itulah waktu yang sangat mendekati sempurna.

Apalagi, jika air sungai tidak tinggi kadangkala ikan banyak bertelur. Dan kumpulan ikan melompat-lompat dari sungai dan para masyarakat tinggal menjaringnya.

“Biasanya kami menyebutnya Ikan Naik Raja, tinggal kami jaring saja,” ungkapnya.

Bahkan, jika sedang musim buah durian, berdiri di bebatuan Musang Bulu saja, sudah bisa mencium aroma bau durian.

Tidak lama di Musang Bulu, lalu rombongan kembali naik ke perahu kayu ketinting itu. Perjalanan berlanjut menuju Lalut Bilah.

Hanya menempuh waktu sepuluh menit, rombongan lalu tiba di sana. Berbeda dengan di Musang Bulu, rombongan hanya duduk di atas ketinting. Meski hanya berdiam, namun seluruh perhatian rombongan tertuju pada tebing kars yang sedikit tertutupi pepohonan.

Tak jarang beberapa orang mendongak dan menyipitkan mata mencari fokus, untuk melihat lubang gua yang berada di atas tebing kars itu.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved