Berita Nasional Terkini
Menko Airlangga Hartarto Jelaskan soal Harga BBM Imbas Perang Iran dan AS-Israel
Menko Airlangga Hartarto jelaskan soal harga BBM imbas perang Iran dan AS-Israel, Kamis (5/3/2026).
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Indonesia mewaspadai dampak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terhadap perekonomian global, khususnya harga minyak.
- Pengalaman dari konflik Rusia–Ukraina menunjukkan bahwa perang internasional dapat memicu kenaikan harga energi dan komoditas.
- Indonesia menghadapi dua dampak ekonomi sekaligus, yaitu kebutuhan menjaga subsidi melalui APBN dan potensi peningkatan penerimaan negara dari naiknya harga komoditas.
TRIBUNKALTIM.CO - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Pemerintah Indonesia mulai menghitung potensi dampaknya, terutama terhadap harga energi dan komoditas dunia. Pengalaman dari konflik internasional sebelumnya menjadi acuan dalam menyiapkan langkah mitigasi.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto merespons soal upaya mitigasi pemerintah pada konflik antara Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.
Baca juga: Bahlil Pastikan Stok BBM dan Elpiji Aman untuk Lebaran di Tengah Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Kata Airlangga, kondisi yang terjadi saat ini sudah pernah dialami pada saat ada eskalasi yang meninggi antara Rusia dengan Ukraina beberapa tahun belakangan ini.
Menurut dia, setiap perang yang terjadi, pasti ada dampaknya terhadap Indonesia, termasuk soal meningkatnya harga minyak.
"Ya kita kan pernah mengalami pada saat perang Ukraina, dan pada saat itu harga minyak naik tinggi dan harga komoditas naik tinggi," kata Airlangga saat ditemui awak media di Menara Batavia, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Tercatat, saat ini harga West Texas Intermediate (WTI) naik 1,86 persen menjadi US$ 76,05 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent di kisar 81,40 dolar AS per barel.
Pemerintah Punya Dua Posisi
Dari segi ekonomi, Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menyatakan, sejatinya pemerintah Indonesia mempunyai dua posisi dalam menyikapi eskalasi perang.
Pertama, yakni mempertahankan subsidi dari APBN untuk menjaga daya beli masyarakat, dan kedua, kemungkinan menetapkan kenaikan harga terhadap beberapa komoditas.
Baca juga: Stok BBM dan LPG Diklaim Aman 19 Hari, DPRD Kaltara Soroti Antrean di SPBU
"Bagi Indonesia kan dua sisi. Di satu sisi tentu yang terkait dengan subsidi kita jaga, dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi akan kita lanjutkan, dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga," kata Airlangga.
"Tetapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau komoditas itu naik," sambung dia.
Saat disinggung soal upaya pemerintah saat ini menyikapi perang di Iran, Airlangga menjawab secara tenang.
Kata dia, pemerintah Indonesia ada pada posisi menunggu perkembangan situasi yang terjadi ke depan.
"Tapi kita tentu melihat situasinya masih too early to call, masih terlalu pagi," tukas dia.
Janji Tak Naikkan Harga
| Gaji ke-13 2026 untuk PNS dan Pensiunan, Ini Perkiraan Nominal Lengkap per Golongan |
|
|---|
| Bahlil Diminta Kerja Cepat, Prabowo Target Cabut Izin Tambang Ilegal dalam 1 Minggu |
|
|---|
| Wapres Gibran soal Jusuf Kalla Usul Harga BBM Naik, Sebut Tak Sejalan dengan Arahan Prabowo |
|
|---|
| Wapres Gibran Usul Hakim Ad Hoc Sidangkan Kasus Andrie Yunus, Ini Alasannya |
|
|---|
| Prabowo: Avtur Bisa Diproduksi dari Minyak Jelantah sebagai Energi Terbarukan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Menteri-Koordinator-Bidang-Perekonomian-Airlangga-Hartanto.jpg)