Senin, 4 Mei 2026

BBM Nonsubsidi Naik

Jeritan Warga Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Naik Bersamaan, Kelas Menengah Kian Terjepit

Jeritan warga harga BBM dan LPG nonsubsidi naik bersamaan. Bukan crazy rich, kelas menengah kian terjepit.

Tayang:
Editor: Amalia Husnul A
Tribunnews.com/Irwan Rismawan
HARGA BBM-LPG NONSUBSIDI - Ilustrasi Petugas memindahkan tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Minggu (5/4/2026). Jeritan warga harga BBM dan LPG nonsubsidi naik bersamaan. Bukan crazy rich, kelas menengah kian terjepit. (Tribunnews.com/Irwan Rismawan) 

“Kalau naik sedikit mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau terus-terusan naik ya berat juga. Pengeluaran bulanan jadi semakin besar,” kata Ismail.

Menurut dia, sebagai bagian dari kelas menengah, ia tidak bisa beralih ke gas subsidi karena keterbatasan distribusi dan aturan yang berlaku.

“Kita ini di tengah-tengah. Tidak pakai subsidi, tapi jangan naikin harga terus-terusan,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat mengendalikan harga, mengingat masyarakat kelas menengah juga membutuhkan perhatian.

“Harapannya sih ada pengendalian harga atau solusi dari pemerintah,” ujarnya seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.

Hal serupa juga dirasakan Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat. 

"Baru tahu juga nih kalau harganya naik, lumayan juga Rp 40.000 kan, berasa juga kenaikannya," kata Michael, Minggu (19/4/2026). 

Michael menilai kenaikan harga gas semakin memberatkan karena terjadi bersamaan dengan melambungnya harga BBM dan sembako.

Ia meyakini, kenaikan harga energi akan diikuti oleh lonjakan harga kebutuhan lain di pasaran.

Meski baru sekitar satu tahun menggunakan elpiji nonsubsidi, Michael mengaku sudah memperkirakan kenaikan tersebut, seiring eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.

"Sebenarnya sudah expected sih, karena lumayan ngikutin harga tiket pesawat yang bergantung sama avtur. Terus harga baru Pertamax Dex dan Pertamax Turbo yang naiknya jauh banget, jadi pasti gas nyusul," ucap Michael.

Keluhan serupa disampaikan Pudji (50), yang telah menggunakan gas nonsubsidi selama lebih dari 30 tahun.

Ia mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang cukup tinggi di tengah kondisi ekonomi yang dirasanya semakin berat.

Menurut Pudji, kenaikan harga gas terasa semakin membebani karena terjadi bersamaan dengan kenaikan berbagai komoditas lain, termasuk BBM dan bahan dapur.

"Kalau begini kan berat ya, pengeluaran jadi membengkak, menyulitkan lah gitu," ucap Pudji.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved