Senin, 20 April 2026

BBM Nonsubsidi Naik

Jeritan Warga Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Naik Bersamaan, Kelas Menengah Kian Terjepit

Jeritan warga harga BBM dan LPG nonsubsidi naik bersamaan. Bukan crazy rich, kelas menengah kian terjepit.

Editor: Amalia Husnul A
Tribunnews.com/Irwan Rismawan
HARGA BBM-LPG NONSUBSIDI - Ilustrasi Petugas memindahkan tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Minggu (5/4/2026). Jeritan warga harga BBM dan LPG nonsubsidi naik bersamaan. Bukan crazy rich, kelas menengah kian terjepit. (Tribunnews.com/Irwan Rismawan) 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan BBM & LPG nonsubsidi 12 kg bersamaan tekan kelas menengah.
  • Warga merasa terjepit karena tak mendapatkan subsidi, meski mampu namun juga bukan berarti kaya.
  • Harga Bright Gas 12 kg melonjak drastis jadi Rp 228.000 per tabung.
  • Banyak warga mulai pertimbangkan beralih ke gas 5,5 kg atau 3 kg.
  • Pemerintah pastikan harga gas 3 kg tetap, nonsubsidi ikut mekanisme pasar.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi yang bersamaan menjadi keluhan bagi warga kelas menengah.

Warga kelas menengah yang disebut mampu tak bisa mendapatkan subsidi sehingga harus membeli BBM dan LPG nonsubsidi, namun kenaikan bersamaan yang juga tanpa pemberitahuan sebelumnya membuat posisinya semakin terjepit.

Terlebih kenaikan harga LPG nonsubsidi yang membuat warga kelas menengah harus merogoh kocek semakin dalam. 

Penyesuaian harga BBM dan LPG nonsubsidi bersamaan juga dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok lainnya, sehingga semakin menekan kondisi ekonomi masyarakat.

Baca juga: Terbaru Daftar Harga LPG Nonsubsidi 12 Kg dan 5,5 Kg di Kaltim dan Seluruh Indonesia

Lydia (34) warga di kawasan Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek) mengaku terkejut saat mengetahui harga gas 12 kg kembali naik.

Ia menilai, meskipun elpiji 12 kg ditujukan bagi masyarakat mampu, kenyataannya banyak pengguna berasal dari kalangan menengah.

“Yang pakai 12 kg sih mampu, tapi bukan crazy rich. Banyak golongan tengah, dibilang miskin sih tidak, dibilang kaya apalagi, jadi ya kita juga kaget pas naik,” ucap Lydia saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2026).

Lydia menuturkan, kenaikan harga semakin terasa karena sebelumnya warga di lingkungannya telah beralih ke Bright Gas (tabung merah) yang harganya relatif lebih mahal dibandingkan elpiji subsidi 3 kg.

“Emang dari komplek itu serentak dipasangin yang merah (bright gas). Itu aja udah mahal dari yang biru. Kemaren beli Rp 200.000, mau nambah berapa lagi,” lanjut Lydia.

Ia mengaku sempat mempertimbangkan untuk kembali menggunakan elpiji 3 kg. Namun, ketersediaan gas subsidi di tempat tinggalnya di Cikarang terbatas.

“Mau banget sih balik ke 3 kg. Tapi di tempat tinggal saya di Cikarang susah dapetinnya. Di satu sisi paham lah lagi krisis, tapi jangan nyusahin rakyat juga,” katanya.

Menurut Lydia, kondisi ini membuat masyarakat serba salah dalam mengatur pengeluaran. Bahkan, biaya kebutuhan sehari-hari lainnya juga ikut terdampak.

“Mau berhenti beli gas, jadinya beli makan aja. Eh tapi plastiknya mahal, kanan kiri kena deh,” katanya. Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Ismail Alburji (40).

Ia mengatakan kenaikan harga gas 12 kg cukup membebani pengeluaran rumah tangganya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved