Minggu, 3 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Ekonom INDEF Ingatkan Dampak Perang As-Israel vs Iran Kian Nyata, Rupiah Anjlok, Subsidi Bengkak

Ekonom INDEF mengingatkan dampak perang AS-Israel vs Iran yang kian nyata. Mulai dari rupiah yang anjlok hingga subsidi bengkak

Tayang:
Editor: Amalia Husnul A
Tribunnews.com/Jeprima
DAMPAK PERANG - Ilustrasi pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). Ekonom INDEF mengingatkan dampak perang AS-Israel vs Iran yang kian nyata. Mulai dari rupiah yang anjlok hingga subsidi bengkak. (Tribunnews.com/Jeprima) 

Ringkasan Berita:
  • Perang AS-Israel vs Iran menekan ekonomi global termasuk RI lewat lonjakan harga energi.
  • Daya beli turun, konsumsi rumah tangga berpotensi menyusut hingga 0,21 persen.
  • Beban subsidi energi membengkak dan diperkirakan tembus Rp219 triliun.
  • Rupiah melemah, sementara bunga utang kini melampaui 20 persen belanja negara.
  • Pemerintah diminta reformasi subsidi agar defisit APBN tak tembus batas 3 persen.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Perekonomian global termasuk Indonesia menghadapi tekanan yang kian nyata seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran yang telah berlangsung selama dua bulan. 

Menurut Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M. Rizal Taufikurrahman, perang AS-Israel vs Iran mentransmisikan shock eksternal ke ekonomi domestik terutama melalui lonjakan harga energi dan pelemahan nilai tukar. 

Dampak paling cepat terlihat pada konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama pertumbuhan, di mana dalam skenario eskalasi tinggi, konsumsi riil berpotensi terkontraksi hingga sekitar 0,21 persen. 

Menurutnya, hal ini menunjukkan tergerusnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga energi dan pangan, dengan tekanan yang lebih besar dirasakan oleh kelompok menengah-bawah. 

Baca juga: Imbas Perang AS-Israel vs Iran, Maskapai Low Budget AS Bangkrut, Korban Pertama Industri Penerbangan

Sabtu (3/5/2026) Rizal menyebutkan, "Karakter inflasi yang terjadi juga bersifat cost-push, sehingga kenaikan harga tidak hanya diiringi peningkatan pendapatan, tetapi juga memperdalam risiko pelemahan konsumsi." 

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, kata Rizal, dampaknya bersifat moderat namun sistemik.

Meskipun ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, tekanan biaya akibat kenaikan energi dan logistik menyebar ke berbagai sektor seperti pangan, industri pengolahan, transportasi, hingga jasa. 

Hal ini menekan aktivitas produksi sekaligus permintaan, sehingga pertumbuhan  berpotensi melambat dari dua sisi, yaitu permintaan yang melemah dan biaya produksi yang  kian meningkat. 

"Dengan struktur ekonomi yang masih bergantung pada konsumsi domestik, pelemahan daya beli akan langsung menahan laju ekspansi ekonomi secara keseluruhan," paparnya.

Sementara itu, tekanan terbesar muncul pada sisi fiskal dan inflasi.

Lonjakan harga minyak  global secara langsung meningkatkan beban subsidi energi, yang dalam jangka pendek efektif  menahan inflasi, tetapi dalam jangka menengah berisiko memperlebar defisit dan  mempersempit ruang fiskal. 

Di sisi harga, inflasi yang secara angka terlihat terkendali tetap  menyimpan kerentanan karena sangat bergantung pada intervensi pemerintah dan sensitif  terhadap gangguan pasokan.

Lebih lanjut Ia mengatakan, kenaikan harga energi juga memicu efek rambatan ke biaya  produksi dan distribusi, sehingga menciptakan inflasi yang lebih luas dan persisten.

Dalam  kondisi ini, pemerintah menghadapi trade-off yang semakin tajam antara menjaga stabilitas harga dan mempertahankan ketahanan fiskal. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved