Iran Vs Amerika Memanas
Ekonom INDEF Ingatkan Dampak Perang As-Israel vs Iran Kian Nyata, Rupiah Anjlok, Subsidi Bengkak
Ekonom INDEF mengingatkan dampak perang AS-Israel vs Iran yang kian nyata. Mulai dari rupiah yang anjlok hingga subsidi bengkak
Ringkasan Berita:
- Perang AS-Israel vs Iran menekan ekonomi global termasuk RI lewat lonjakan harga energi.
- Daya beli turun, konsumsi rumah tangga berpotensi menyusut hingga 0,21 persen.
- Beban subsidi energi membengkak dan diperkirakan tembus Rp219 triliun.
- Rupiah melemah, sementara bunga utang kini melampaui 20 persen belanja negara.
- Pemerintah diminta reformasi subsidi agar defisit APBN tak tembus batas 3 persen.
TRIBUNKALTIM.CO - Perekonomian global termasuk Indonesia menghadapi tekanan yang kian nyata seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran yang telah berlangsung selama dua bulan.
Menurut Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M. Rizal Taufikurrahman, perang AS-Israel vs Iran mentransmisikan shock eksternal ke ekonomi domestik terutama melalui lonjakan harga energi dan pelemahan nilai tukar.
Dampak paling cepat terlihat pada konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama pertumbuhan, di mana dalam skenario eskalasi tinggi, konsumsi riil berpotensi terkontraksi hingga sekitar 0,21 persen.
Menurutnya, hal ini menunjukkan tergerusnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga energi dan pangan, dengan tekanan yang lebih besar dirasakan oleh kelompok menengah-bawah.
Baca juga: Imbas Perang AS-Israel vs Iran, Maskapai Low Budget AS Bangkrut, Korban Pertama Industri Penerbangan
Sabtu (3/5/2026) Rizal menyebutkan, "Karakter inflasi yang terjadi juga bersifat cost-push, sehingga kenaikan harga tidak hanya diiringi peningkatan pendapatan, tetapi juga memperdalam risiko pelemahan konsumsi."
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, kata Rizal, dampaknya bersifat moderat namun sistemik.
Meskipun ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, tekanan biaya akibat kenaikan energi dan logistik menyebar ke berbagai sektor seperti pangan, industri pengolahan, transportasi, hingga jasa.
Hal ini menekan aktivitas produksi sekaligus permintaan, sehingga pertumbuhan berpotensi melambat dari dua sisi, yaitu permintaan yang melemah dan biaya produksi yang kian meningkat.
"Dengan struktur ekonomi yang masih bergantung pada konsumsi domestik, pelemahan daya beli akan langsung menahan laju ekspansi ekonomi secara keseluruhan," paparnya.
Sementara itu, tekanan terbesar muncul pada sisi fiskal dan inflasi.
Lonjakan harga minyak global secara langsung meningkatkan beban subsidi energi, yang dalam jangka pendek efektif menahan inflasi, tetapi dalam jangka menengah berisiko memperlebar defisit dan mempersempit ruang fiskal.
Di sisi harga, inflasi yang secara angka terlihat terkendali tetap menyimpan kerentanan karena sangat bergantung pada intervensi pemerintah dan sensitif terhadap gangguan pasokan.
Lebih lanjut Ia mengatakan, kenaikan harga energi juga memicu efek rambatan ke biaya produksi dan distribusi, sehingga menciptakan inflasi yang lebih luas dan persisten.
Dalam kondisi ini, pemerintah menghadapi trade-off yang semakin tajam antara menjaga stabilitas harga dan mempertahankan ketahanan fiskal.
| Harga Bensin di AS Naik Tertinggi, Warga Marah pada Donald Trump |
|
|---|
| Imbas Perang AS-Israel vs Iran, Maskapai Low Budget AS Bangkrut, Korban Pertama Industri Penerbangan |
|
|---|
| Donald Trump Hadapi Kondisi Pahit Imbas Perang dengan Iran |
|
|---|
| Trump Berkonflik dengan Kanselir Jerman, AS Tarik 5.000 Tentaranya dari Berlin |
|
|---|
| Trump Sebut AS 'Seperti Bajak Laut' di Tengah Memanasnya Konflik Iran di Selat Hormuz |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260407_nilai-tukar-rupiah_rekor-terlemah_Rp-17105-per-Dollar-AS.jpg)