Selasa, 9 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Dampak Perang Iran Mulai Dirasakan, Mayoritas Warga AS Nilai Lebih Banyak Bawa Dampak Negatif

100 hari sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, dukungan publik terhadap konflik tersebut masih rendah.

Tayang:
HO//ST/Tangkap Layar/Khaberni
PERANG IRAN - Kobaran api dari ledakan yang menghantam sebuah depot bahan bakar minyak di Teheran, Iran, Sabtu (7/3/2026) malam. Seratus hari sejak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, dukungan publik terhadap konflik tersebut masih rendah. Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga AS menilai perang lebih merugikan daripada menguntungkan kepentingan nasional. 
Ringkasan Berita:
  • Survei menunjukkan mayoritas warga AS menilai perang Iran lebih merugikan daripada menguntungkan kepentingan nasional.
  • Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan harga energi, membuat 79 persen pemilih AS merasa biaya hidup mereka terdampak.
  • Rendahnya dukungan publik dan tekanan ekonomi berpotensi menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.

TRIBUNKALTIM.CO -  Seratus hari sejak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, dukungan publik terhadap konflik tersebut masih rendah.

Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga AS menilai perang lebih merugikan daripada menguntungkan kepentingan nasional.

Jajak pendapat Critical Issues dari Universitas Maryland yang dirilis Kamis (4/6/2026) mencatat hanya 16 persen pemilih percaya AS telah memenangkan atau sedang memenangkan perang.

Baca juga: Putin: Tidak Ada Tindakan Iran yang Bisa Membenarkan Serangan Amerika Serikat

Temuan ini menunjukkan klaim kemenangan yang berulang kali disampaikan Presiden Donald Trump belum diterima publik.

Survei juga menemukan mayoritas responden, termasuk 33 persen pemilih Partai Republik, menilai perang lebih banyak membawa dampak negatif.

Sebaliknya, hanya 12 persen responden yang menilai perang memberi manfaat lebih besar.

Profesor Shibley Telhami dari Universitas Maryland menyebut hal ini sebagai titik balik penting, terutama karena sebagian pemilih Republik mulai menganggap perang merugikan kepentingan AS.

“Yang benar-benar jelas adalah bahwa hanya sedikit warga Amerika yang berpikir bahwa perang dengan Iran ini melayani kepentingan Amerika,” kata Profesor Perdamaian dan Pembangunan Universitas Maryland, Shibley Telhami, dilansir Al Jazeera.

Menurut Telhami, temuan tersebut menunjukkan perang Iran belum berhasil memperoleh legitimasi politik yang kuat di mata publik AS.

Ia bahkan menyebut perubahan sikap sebagian pemilih Republik sebagai perkembangan penting.

“Penilaian bahwa perang kini menjadi lebih merugikan kepentingan Amerika di kalangan Partai Republik merupakan titik balik penting karena tampaknya berlaku bagi anggota Partai Republik yang lebih tua maupun yang lebih muda,” ujar Telhami.

“Saya pikir itu pertanda buruk bagi Trump di masa mendatang.”

Baca juga: Balas Serangan, Iran Gempur Pangkalan Militer AS di Kuwait dan Bahrain

Dampak Konflik Mulai Terasa di Dalam Negeri

Al Jazeera melaporkan perang dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Konflik kemudian berkembang menjadi saling serang antara kedua pihak dan memicu gangguan di kawasan Teluk.

Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia, sehingga memicu lonjakan harga minyak dan gas global.

Meski gencatan senjata tercapai pada 6 April, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya berakhir. Blokade Iran di Selat Hormuz masih berlangsung, sementara Amerika Serikat mempertahankan tekanan maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Baca juga: Trump Akui Iran Kuat dan Punya Harga Diri Tinggi Meski Fasilitas Militer Hancur

Para analis menilai dampak ekonomi dari konflik tersebut kini menjadi perhatian utama warga Amerika.

Jajak pendapat Institute for Global Affairs (IGA) menunjukkan 79 persen pemilih AS mengatakan perang telah memengaruhi biaya hidup mereka.

Temuan itu mencakup mayoritas pemilih Republik, Demokrat, maupun independen.

“Ini sudah menjadi masalah ekonomi sekarang,” kata Telhami.

“Ini bukan lagi sekadar latihan militer di luar negeri. Ini bukan lagi hanya sesuatu yang terjadi di luar negeri.”

Menurutnya, keterkaitan antara perang, harga energi, dan inflasi berpotensi memainkan peran penting dalam pemilu paruh waktu mendatang.

Baca juga: Trump: Negosiasi dengan Iran Bisa Berlangsung Bertahun-tahun

Trump Abaikan Tekanan Politik

Di tengah meningkatnya kritik terhadap perang, Trump tetap mempertahankan kebijakannya dan menegaskan bahwa tujuan utama konflik adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

“Saya tidak memikirkan situasi keuangan warga Amerika. Saya tidak memikirkan siapa pun,” kata Trump bulan lalu.

“Saya hanya memikirkan satu hal: Kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Itu saja. Hanya itu yang memotivasi saya.”

Trump juga menolak anggapan bahwa strategi perangnya dipengaruhi pertimbangan politik menjelang pemilu.

“Saya tidak peduli dengan pemilu paruh waktu,” ujarnya kepada wartawan.

Baca juga: Israel Serang Lebanon, Iran Tangguhkan Negosiasi dengan AS, Trump Ngotot

Namun Telhami menilai tekanan politik dan ekonomi tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan oleh Gedung Putih.

“Dia peduli karena banyak alasan, salah satunya adalah warisan, khususnya di bidang ekonomi,” kata Telhami.

Ia memperingatkan bahwa lonjakan harga energi akibat gangguan di kawasan Teluk dapat memperburuk kondisi ekonomi AS dan berdampak pada peluang Partai Republik dalam pemilu.

“Hal ini pasti akan berdampak pada pemilihan paruh waktu, dan jika Partai Republik kehilangan DPR dan Senat, maka dia akan berada dalam posisi yang mengerikan,” ujarnya.

Dukungan untuk Perang Tetap Lemah

Direktur Program Institute for Global Affairs, Jonathan Guyer, mengatakan perang Iran tetap menjadi salah satu konflik luar negeri yang paling tidak populer di kalangan pemilih Amerika.

“Ini hanyalah perang yang sangat tidak populer,” kata Guyer kepada Al Jazeera.

Menurut dia, penolakan publik tidak hanya dipengaruhi persoalan ekonomi, tetapi juga kelelahan masyarakat terhadap keterlibatan militer AS di Timur Tengah.

Guyer menilai perang Iran juga berkaitan dengan meningkatnya kritik terhadap kebijakan luar negeri Washington, hubungan AS dengan Israel, dan besarnya anggaran pertahanan Amerika.

“Ketidakpopuleran Israel, ketidakpopuleran perang Iran, ketidakpopuleran militerisme AS — semua ini memiliki banyak resonansi dan tampaknya benar-benar menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri penting bagi warga Amerika,” katanya.

Para analis menilai rendahnya dukungan publik terhadap perang Iran dapat menjadi tantangan politik bagi Trump dan Partai Republik dalam beberapa bulan menjelang pemilu paruh waktu November mendatang. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul 100 Hari Perang Iran: Trump Gagal Jual Narasi Kemenangan, Justru Jadi Boomerang Politik

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved