Senin, 8 Juni 2026

Berita Ekbis Terkini

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS Senin 8 Juni 2026, Ada Faktor Global dan Domestik

Proyeksi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS Senin 8 Juni 2026. Faktor global dan domestik yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Tayang:
Editor: Amalia Husnul A
KONTAN/Cheppy A Muchlis
NILAI TUKAR RUPIAH - Ilustrasi uang rupiah dan dollar AS. Proyeksi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS Senin 8 Juni 2026. Faktor global dan domestik yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. (KONTAN/Cheppy A Muchlis) 

Ringkasan Berita:
  • Jumat (5/6/2026), rupiah menguat tipis 0,07 persen ke Rp 18.036/USD di pasar spot.
  • Data BI Jisdor catat rupiah Rp 18.039/USD, sama dengan penutupan sebelumnya.
  • Tekanan dolar dipicu panic buying usai rupiah tembus Rp 18.000.
  • Intervensi BI hanya jadi buffer, bukan pembalik tren.
  • Proyeksi Senin (8/6/2026): rupiah konsolidasi Rp 17.950–18.100/USD, dipengaruhi data NFP AS dan cadangan devisa BI.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Jumat (5/6/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis. 

Dilansir dari data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat tipis 0,07 persen secara harian ke Rp 18.036 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026).  

Sementara data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 18.039 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026), nilai ini sama dengan penutupan pada perdagangan kemarin Kamis (4/6/2026).  

Lantas bagaimana dengan proyeksi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada awal pekan, Senin 8 Juni 2026 besok? 

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.095, Pemerintah dan DPR Bahas Langkah Stabilisasi

Menurut Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo, secara teknikal dan psikologis, rupiah yang tembus ke angka keramat Rp 18.000 telah memicu panic buying terhadap the greenback di pasar domestik. 

Sedangkan intervensi Bank Indonesia melalui pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) kemungkinan besar hanya akan berfungsi sebagai penahan benturan (buffer) untuk meredam volatilitas, bukan membalikkan arah tren (reversal).  

Jumat (5/6/2026) Sutopo mengatakan, “Kondisi pasar yang jenuh jual (oversold) membuka ruang bagi penguatan teknikal jangka pendek (technical rebound), namun ruang apresiasi rupiah akan sangat terbatas selama likuiditas dolar AS di dalam negeri masih mengalami bottleneck musiman akibat repatriasi dividen kuartal kedua.” 

Sutopo mengatakan sentimen utama yang wajib dicermati terkait rupiah pada Senin (8/62026) berpusat pada reaksi pasar global terhadap rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) AS periode Mei.

Berdasarkan data nonfarm payrolls (NFP) periode Mei meningkat sebesar 172.000, melampaui proyeksi ekonom yang memperkirakan bertambah 88.000.

Angka yang lebih kuat dari ekspektasi akan semakin memperkokoh narasi higher-for-longer Fed Rate dan mendongkrak Yield US 10-Year melampaui 4,48 persen.  

Dari sisi geopolitik, kebuntuan negosiasi damai di Timur Tengah serta penolakan gencatan senjata oleh Hezbollah akan terus menjaga indeks dolar (DXY) kokoh di zona aman (safe-haven) sekitar 99,4.

Faktor Domestik 

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar akan sangat sensitif memantau efektivitas awal dari pemberlakuan wajib parkir 100 persen Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam serta melihat apakah rilis data cadangan devisa terbaru BI mampu memberikan sentimen positif atau justru memperlebar risk premium Indonesia di mata investor asing.

Sutopo memproyeksikan, rupiah pada Senin (8/6/2026) masih akan berada di bawah tekanan berat dan cenderung berkonsolidasi di area paling lemah (bottom fishing zone) di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada akhir pekan lalu karena intervensi agresif Bank Indonesia (BI).

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved