Opini
Menjalankan Amanah Sebagai Koordinator Widyaiswara
Musyawarah Widyaiswara BPSDM Kaltim menetapkan kepengurusan baru 2026 demi penguatan kualitas pelatihan ASN
Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps, Koordinator Widyaiswara
Awal Desember 2025, tepatnya tanggal 1 Desember 2025, disepakati dilakukan musyawarah pemilihan Koordinator Widyaiswara. Tradisi agenda musyawarah tahunan ini sudah cukup lama dilakukan. Mungkin sejak berdirinya Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), hingga berubah nomenklatur menjadi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kaltim.
Sebelum agenda musyawarah, diawali dengan laporan pertanggungjawaban kepengurusan lama (periode 1 Januari - 31 Desember 2025). Jadi masa kepengurusan Koordinator Widyaiswara atau Korwi itu mengikuti kalender penanggalan umum.
Tahun 2025, kepengurusan dipimpin seorang Widyaiswara Ahli Madya, Hj. Zuhriah. Sarjana Peternakan jebolan Unhas, Makassar, Tahun 1997. Sahabat saya ini tidak pernah terjun langsung bekerja di sektor peternakan setelah lulus S1, karena dapat beasiswa dari World Bank untuk melanjutkan S2 nya di bidang studi Ekonomi Sumberdaya di almamaternya, yaitu Unhas Tahun 1998, dan lulus tahun 2000. Ia menjadi CPNS Tahun 2002, diangkat sebagai Widyaiswara Ahli Pertama Tahun 2005.
Saat ini Zuhriah merupakan salah satu aset yang luar biasa bagi BPSDM mapun kawan-kawan Widyaiswara.
Spesialis keahliannya di bidang penyusunan jadwal pelatihan. Apalagi kalau sangat banyak agenda pelatihan yang harus berjalan secara pararel, baik agenda pelatihan lingkup Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota.
Baca juga: Menertawakan Diri Sendiri - Bagian 1
Perawakannya sedang, kalau tidak boleh dikatakan kecil. Kecil-kecil cabe rawit. Ia dikenal sangat tegas, dan cenderung "ceplas ceplos". Apa adanya. Sangat lugas. Tidak basa basi dan pejuang keadilan. Ia tipe pemimpin yang mau "take risk". Berani ambil resiko.
Pekerjaan menyusun jadwal pelatihan merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Memerlukan ketelitian dan pemahaman yang tinggi tentang kurikulum. Bagaimana agar fasilitator atau pengampu materi tidak bertabrakan dengan agenda yang lain. Bagaimana mengatur dan menentukan siapa yang menjadi coach, siapa yang yang menjadi penguji?
Tidak kalah rumitnya tentang bagaimana menyusun jadwal dengan pola blanded (luring dan daring), blanded maksimal (lebih banyak daringnya) maupun pola daring sepenuhnya).
Pada Tahun 2025, kepengurusan widyaiswara, selain koordinator, juga dilakukan pemilihan Sekretaris Widyaiswara (Sekwi). Saat itu yang terpilih rekan Novi Satria, Widyaiswara Ahli Pertama. Novi yang jebolan Teknik Elektro UGM, melanjutkan S2 bidang Ekonomi di Unmul. Pernah menjadi bankir dan pernah menjabat sebagai Kepala Cabang Bankaltimtara Sangatta, Kutai Timur.
Walaupun masih muda, tetapi banyak pengalaman. Ia juga seorang dosen di sebuah PTS Balikpapan. Saya tidak pernah melihat dia marah. Kalau tertawa sangat "renyah" dan lepas. Tiada beban. Menggambarkan suasana kebahagiaan hatinya.
Baca juga: Menertawakan Diri Sendiri – Bagian 2
Terpilihnya saya sebagai Korwi saya anggap sebuah kecelakaan. Betapa tidak? Menjelang Batas Usia Pensiun (BUP), sebenarnya saya ingin santai, tidak banyak beban dan tanggung jawab.
Jujur sebenarnya saya ingin, sahabat saya Zuhriah masih bersedia dipilih kembali, dan saya bersedia menjadi salah satu "Tim Suksesnya" untuk melakukan "pendekatan". Menggalang suara.
Saya rasa itu sah-sah saja. Tidak ada aturan yang dilanggar. Apalagi tidak ada upaya "politik uang". Justru penginnya semua mau menghindar. Istilahnya "mau memilih, tapi tidak mau dipilih".
Nah saat mau pemilihan, saya dengan lantang mengatakan, "Saya bersedia jadi Korwi asal Tahun 2026". Nah ini yang disebut dengan "slip of the tounge". Maksud saya tahun 2027. Karena Januari Tahun 2027, saya sudah purna tugas. Jadi hal itu sesuatu yang mustahil (tidak memungkinkan). Tetapi apa lacur. Ibarat "senjata makan tuan". Apa yang sudah saya ucapkan, menurut kawan-kawan tidak boleh ditarik kembali. Maka secara aklamasi terpilihlah saya sebagai Korwi. "Pemilihan yang tercepat sepanjang sejarah pemilihan Korwi", kata Mas Yoyok dan kawan-kawan.
Bersyukur saya dibantu Mas Muhammad Deny Syachroni sebagai Wakil Koordinator Widyaiswara. Jabatan ini baru terbentuk untuk Kepengurusan Tahun 2026. Itupun juga atas usulan rekan-rekan Widyaiswara sebelum pemilihan pengurus.
Sepertinya kawan-kawan tidak mau kalah dengan konsep pemikiran Presiden Prabowo, terkait dengan pemekaran kementerian. Tapi tunggu dulu, jika membandingkan dengan konsep pemikiran presiden tentu "tidak apple to apple", karena di kepengurusan widyaiswara sama sekali tidak menggunakan anggaran daerah, apalagi anggaran negara. Para pengurus tidak diberikan tunjangan pengurus atau insentif apapun. Mereka dengan suka rela berhikmat untuk menjalankan amanah yang diberikan rekan-rekan widyaiswara.
Mas Roni ini sarjananya bidang Tafsir Hadist dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogjakarta dan Magister Manajemen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogjakarta.
Karena memiliki basis keagaman yang kuat, maka tidaklah mengherankan jika Mas Roni juga diberi amanah sebagai Ketua Takmir Masjid "Tarbiyatul Muttaqiin, BPSDM Kaltim.
Ia sangat hafal dengan berbagai aturan kewidyaiswaraan. Orangnya lucu. Apalagi kalau saya satu Tim mengajar materi Outbound, wah senang banget. Banyak game-game yang bisa dimainkan, membuat suasana menjadi hidup, tanpa mengurangi makna dan tujuan permainan.
Ia juga satu-satunya pengajar "Anti Korupsi" dalam berbagai pelatihan, setelah satu orang kawan saya, Imbran, dipromosikan menjadi Pejabat Administrator pada Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Prov. Kaltim.
Bersyukur juga saya dibantu "Bunda Surmi", sebagai Sekretaris Widyaiswara. Sebutan "Bunda" ini baru saja diberikan di Bulan Januari ini oleh Mbak Endang, Widyaiswara Ahli Muda.
Sahabat saya "Bunda Surmi" ini orangnya cekatan. Lulusan S1 Sastra Inggris dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dan S2 Manajemen Sistem Informasi Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta.
Di samping tugas pokoknya, ia juga sebagai dosen STMIK Borneo Internasional, Balikpapan. Selain itu, sebagai tenaga pengajar Bahasa Inggris pada Madrasah Aliyah Darul Ulum, Penajam.
Kalau bekerja "satset-satset". Tidak banyak bicara, tapi bukan berarti pendiam. Semua tugas dikerjakan dengan teliti. Termasuk membuat notulen hasil rapat dan menjadi narahubung dengan pejabat struktural maupun fungsional di BPSDM Kaltim.
Sebagai Widyaiswara Ahli Pertama, Bunda Surmi cepat melakukan penyesuaian dan menguasai serta menyintai profesi yang diemban. Demikian juga 4 (empat) Widyaiswara Ahli Pertama yang lain, yaitu Novi Satria, Fauziah, Hermi dan Muhammad Ridwan. Semuanya tipe pembelajar.
Tentu tidak mudah mengkoordinir Widyaiswara yang memang memiliki kemampuan akademik dan pengalaman yang tinggi. Dari 16 orang widyaiswara, 25 persen di antaranya memiliki gelar akademik tertinggi, yaitu doktor (S-3), 6,25 persen kandidat doktor, 6,25 persen memiliki dua gelar S-2. Selebihnya 62,50 persen bergelar S-2, baik dari dalam maupun luar negeri.
Di luar tugas kedinasan, kawan-kawan juga ada yang diminta menjadi dosen di Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta, serta ada juga yang diminta menjadi dosen di Luar Negeri.
Moga amanah yang diberikan kawan-kawan dapat saya laksanakan dengan penuh tanggungjawab, dan menjadi amal kebajikan kelak di Hari Akhir. Aamiin. (*)
| Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah |
|
|---|
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260126_Jauhar-Efendi-Koordinator-Widyaiswara.jpg)