Senin, 11 Mei 2026

Opini

Hari Palang Merah Dunia: Terjadi Degradasi Nilai Kemanusiaan?

Setiap tanggal 8 Mei, masyarakat dunia memperingati Hari Palang Merah Internasional. Tema peringatan pada Tahun 2026 ini adalah “United in Humanity”.

Tayang:
HO/PRIBADI
Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps, Koordinator Widyaiswara BPSDM Kaltim. Mantan Camat Babulu dan Penajam, mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur. (HO/PRIBADI) 

Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps.

Koordinator Widyaiswara BPSDM Kaltim. Mantan Camat Babulu dan Penajam, mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur. 

Setiap tanggal 8 Mei, masyarakat dunia memperingati Hari Palang Merah Internasional

Tema peringatan pada Tahun 2026 ini adalah “United in Humanity”.

Bersatu dalam Kemanusiaan. Pesan utamanya adalah “Keeping Humanitiy Alive”. Menjaga Kemanusiaan Tetap Hidup.

Tanggal 8 Mei merupakan hari lahirnya Jean Henry Dunant, tepatnya tanggal 8 Mei 1828, di Swis.

Henry Dunant pencetus ide atau gagasan berdirinya Palang Merah. Pada Tahun  1859, Dunant secara tidak sengaja menyaksikan pertempuran Solferino di Italia.

Saat itu ada 40.000 tentara tewas maupun luka tergeletak begitu saja, tanpa ada bantuan. 

Melihat kejadian tersebut, secara spontan Henry Dunant mengumpulkan warga lokal untuk menolong semua korban. Tidak peduli korban tersebut merupakan tentara dari pihak manapun. 

Setelah kejadian tersebut, dia menulis buku “A memory of Solferino dan mengusulkan dua hal.

Baca juga: 30 Ucapan Hari Palang Merah Sedunia yang Diperingati Tanggal 8 Mei 2024, Kirim ke Grup Keluarga

Pertama, perlunya dibentuk organisasi sukarelawan di tiap negara buat menolong korban perang.

Kedua, perlunya dibuat perjanjian internasional buat melindungi tentara yang luka dan tenaga medis di medan perang.

Usul tersebut diterima. Maka lahirlah Komite Internasional Palang Merah Tahun 1863 dan Konvensi Jenewa Tahun 1864.

Hari Palang Merah Internasional resmi ditetapkan Tahun 1948 oleh Liga Palang Merah.

Sekarang jadi Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), yaitu International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. 

Setidaknya ada 4 (empat) tujuan ditetapkannya Hari Palang Merah Internasional.

Pertama, menghormati Henry Dunant sebagai Bapak Palang Merah

Kedua, memberikan apresiasi kepada relawan, karena hingga saat ini tidak kurang ada 16 juta realawan Palang Merah/Bulan Sabit Merah di 191 negara.

Ketiga, kampanye nilai kemanusiaan, yaitu netral, imparsial, sukarela, dan universal.

Keempat, mengingatkan kepada dunia, bahwa bantuan kemanusiaan itu tidak mengenal batas negara, agama atau politik.

Netral, maksudnya tidak berpihak pada konflik bersenjata. Netral bisa dimaknai tidak terlibat kontroversi politik, ras atau agama.

Netral dimaksudkan agar dapat akses ke semua korban.

Kalau Organisasi Palang Merah, baik Internasional maupun Palang Merah Nasional tidak netral, atau dianggap memihak, maka pintu masuk ke daerah konflik pasti ditutup. Akibatnya korban tidak bisa mendapatkan pertolongan.

Karena itu, Nasional atau Palang Merah Indonesia gak boleh pasang spanduk calon legislatif (caleg) di ambulans, kendatipun caleg itu sebagai donatur.

Sedangkan prinsip imparsial adalah prinsip tidak memihak. Imparsial itu artinya menolong orang murni berdasarkan kebutuhan.

Bukan menolong orang karena kesamaan suku, kesamaan agama, kesamaan preferensi politik.

Dengan kata lain menolong orang tanpa melihat siapa dan apa latar belakang orang yang ditolong.

Ada tiga prinsip utama imparsial. Pertama, tidak diskriminatif.

Artinya, tidak memilih korban yang akan ditolong. Apakah dia tentara musuh atau teman, kaya atau miskin, seagama atau beda agama, tetap ditolong kalau membutuhkan. 

Contoh waktu perang, Palang Merah Internasional mengobati tentara dari kedua belah pihak.

Tidak menanyakan dulu, “kamu dari kubu mana”?

Prinsip imparsial kedua, prioritas berdasarkan kebutuhan yang paling mendesak. Artinya, yang luka parah ditangani duluan.

Bukan yang kenal sama relawan atau yang viral didahulukan.

Contoh, di lokasi gempa bumi, ada anak dengan kondisi patah tulang ditolong sebelum menolong orang dewasa yang cuma lecet, walaupun anak itu bukan warga tempatan atau bukan warga lokal.

Prinsip utama imparsial yang ketiga adalah tidak ikut campur konflik. Fokusnya kepada bantuan.

Bukan mendukung salah satu pihak. Kalau memihak, akses ke korban dari pihak lawan bisa ditutup. Contoh, Bulan Sabit Merah di Gaza menolong warga sipil tanpa menjadi juru bicara Hamas atau Israil.

Jadi netral itu adalah sikap organisasi. Sedangkan imparsial adalah cara kerja di lapangan.

Hal ini penting untuk dipahami dan dipatuhi. Sebab kalau bantuan kemanusiaan memilih-milih, kepercayaan akan hilang.

Akibatnya relawan bisa diusir. Korban tidak tertolong, dan prinsip kemanusiaan gagal.

Sementara “imparsial” ibaratnya sebagai jantungnya kerja Palang Merah. Yang dilihat cuma lukanya. Bukan seragamnya atau latar belakangnya. 

Kesimpulannya, netral itu merupakan sikap Organisasi Palang Merah, agar dapat dipercaya semua pihak.

Sementara imparsial itu cara menolong tidak memilih-milih, atau membeda-bedakan. 

Contoh waktu konflik di Poso, Palang Merah Indonesia bisa masuk ke kedua wilayah yang bertikai. Karena netral, kedua belah pihak memberi izin relawan masuk.

Untuk diketahui, ada perbedaan antara IFRC (International Federation of Red Cross and Red Crescent Society) dengan ICRC (International Committee of the Red Cross) atau Komite Internasional Palang Merah.

ICRC merupakan lembaga tertua pada gerakan Palang Merah. Didirikan oleh Henry Dunant Tahun 1863 di Jenewa, Swiss.

Fokus kerjanya penanganan korban konflik bersenjata atau perang.

Misalnya menjenguk tawanan perang. Mencari orang hilang. Negosiasi akses kemanusiaan.

Mengingatkan pihak yang bertikai, soal hukum perang. Sifatnya netral, imparsial, independen. Karena itu, bisa masuk ke daerah perang, yang pihak lain tidak bisa masuk.

Jadi kalau ada bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, sunami, wabah covid-19, yang turun membantu adalah Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

Anggotanya ada 191 Palang Merah Nasional, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI). Sedangkan kalau ada peperangan, maka yang maju memberikan bantuan adalah ICRC atau Komite Internasional Palang Merah.

Misalnya konflik perang di Gaza, Ukraina atau Sudan.

Saat ini perang antar negara sudah menggunakan persenjataan yang canggih. Sasaran serangan bukan hanya manusia, tetapi instalasi-instalasi penting yang strategis, yang dimiliki oleh sebuah negara.

Pengeboman juga bisa menggunakan fasilitas drone yang juga memiliki kemampuan canggih untuk menetapkan sasaran yang tepat.

Kerugiannya juga sangat besar. Bayangkan saja kalau fasilitas produksi kilang minyak dibombardir, tentu menyebabkan kebakaran yang hebat dan berhari-hari api gak bisa dipadamkan, serta kerugian materiil yang sangat besar.  

Pada era global ini nilai-nilai kemanusiaan sudah mulai luntur. Mengalami degradasi alias penurunan. Termasuk di Indonesia.

Ada masalah-masalah kecil yang harus segera diselesaikan, malah melebar kemana-mana, sehingga masalah tersebut menjadi besar dan sulit untuk diatasi atau diselesaikan.

Kemampuan menahan diri secara individual juga mengalami penurunan.

Nampak di permukaan,  baik dilihat dari perilaku penguasa maupun warga masyarakat malah mulai terbawa budaya hedon.

Mengejar kesenangan dan kenikmatan duniawi yang hanya bersifat sementara atau sesaat. Hutan dibabat secara besar-besaran dengan dalih mengejar target pengembangan perkebunan kelapa sawit.

Itu  terjadi dimana-mana. Penggalian tambang batu bara mengabaikan  ekosistem. Keseimbangan alam diabaikan.

Akibatnya banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Semua itu akibat perilaku serakah dan tamak yang menguasai nafsu manusia.

Rasa empati terhadap orang yang mendapatkan musibah dan penderitaan mengalami penurunan yang luar biasa.

Begitu juga budaya permisif terhadap perilaku atau tindakan menyimpang terus ditoleransi atau dibiarkan.

Dampaknya dalam jangka panjang akan terjadi penyimpangan secara besar-besaran.

Contoh konkrit perilaku koruptif dalam berbagai sektor kehidupan, yang seakan tiada habisnya.

Penangkapan pelaku tindak pidana korupsi yang begitu masih tidak dijadikan bahan renungan agar tidak melakukan tindakan serupa.

Begitu juga penangkapan pengguna atau pemakai, agen atau distributor dan pembuat narkotika nampaknya juga tidak membuat jera orang agar tidak melakukan hal serupa.

Saatnya Pemerintah melakukan pendekatan lain dalam menangani sebuah perkara. Pendekatan kemanusian juga perlu dikedepankan terutama terkait kasus penyalahgunaan narkotika.

Terakhir perlu campur tangan Pemerintah  untuk mendukung kerja-kerja kemanusiaan dari Palang Merah Indonesia.

Tugas relawan PMI dari hari ke hari semakin berat.

Peristiwa bencana alam maupun bencana yang bukan disebabkan oleh alam semakin hari semakin meningkat, seperti kasus kebakaran, yang hampir terjadi di mana-mana di sentero Indonesia.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved