Senin, 1 Juni 2026

OPINI

Fatherless : Kesepian Generasi Modern

Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus komunikasi digital, generasi modern justru menghadapi paradoks sosial

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/KUMALA
Dwi Yenie Kumala Sari Sulaiman, S. Pd., M. Pd (Penulis, Guru SMK di Samarinda) 

Banyak orang terlihat bahagia di layar, tetapi sebenarnya merasa hampa dalam kehidupan pribadi mereka. Anak-anak yang kehilangan figur ayah menjadi lebih rentan mencari penerimaan dari dunia maya.

Mereka mudah terpengaruh tren, tekanan sosial, bahkan hubungan yang tidak sehat demi mendapatkan rasa dihargai. Fenomena ini semakin diperparah oleh budaya perbandingan sosial di internet.

Kesepian modern akhirnya bukan lagi sekadar tidak memiliki teman, melainkan perasaan kosong meskipun berada di tengah keramaian digital.

Sementara itu, penggunaan media sosial berlebihan juga berhubungan dengan penurunan kualitas kesehatan mental, terutama pada remaja.

Kombinasi keduanya menciptakan tantangan besar bagi generasi saat ini. Fenomena fatherless juga dapat berdampak pada pembentukan identitas diri. Anak laki-laki dapat kehilangan figur panutan dalam memahami tanggung jawab, kedewasaan, dan pengendalian diri.

Anak perempuan yang tumbuh tanpa kehangatan ayah sering kali mengalami kesulitan membangun rasa aman emosional dalam hubungan sosial maupun percintaan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hubungan keluarga di masa depan dan menciptakan siklus sosial yang terus berulang.

Anak yang tumbuh tanpa figur ayah sering mengalami kesulitan mengendalikan emosi dan membangun identitas diri yang sehat. Hal yang lebih buruk pun mungkin terjadi karenanya, seperti tawuran, geng motor, penyalahgunaan narkoba, pencurian, kekerasan seksual, hingga aksi brutal, menunjukkan adanya krisis karakter di kalangan generasi muda.

Baca juga: 4 Daerah di Kaltim yang Sama Sekali Tidak Punya Tenaga Psikologi Klinis

Banyak pelaku kriminal remaja berasal dari latar belakang keluarga yang tidak harmonis atau minim perhatian orang tua, terutama figur ayah. Beberapa penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa minimnya keterlibatan ayah berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, dan rendahnya kemampuan membangun hubungan interpersonal pada anak.

Karena itu, masalah fatherless tidak dapat dianggap sebagai urusan pribadi semata. Ini adalah persoalan sosial yang membutuhkan perhatian keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan negara. Orang tua perlu menyadari bahwa kehadiran emosional jauh lebih penting daripada sekadar kehadiran fisik.

Ayah perlu membangun komunikasi yang sehat dengan anak, meluangkan waktu bersama keluarga, dan menjadi pendengar yang baik bagi perkembangan emosional anak.

Selain itu, pendidikan literasi digital juga penting agar generasi muda tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber validasi diri. 

Anak-anak perlu diajarkan membangun hubungan sosial yang nyata, sehat, dan bermakna di dunia nyata. Sekolah dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang komunikasi yang mendukung kesehatan mental remaja.

Pada akhirnya, ancaman terbesar dari fenomena fatherless bukan hanya hilangnya figur ayah, tetapi hilangnya arah pembentukan karakter generasi masa depan.

Kesepian generasi modern bukan hanya disebabkan oleh teknologi, tetapi juga oleh hilangnya kedekatan emosional dalam keluarga. Media sosial hanyalah alat, sementara akar persoalannya sering kali berasal dari relasi manusia yang semakin renggang. 

Ketika figur ayah kehilangan perannya dalam kehidupan anak, maka ruang kosong itu akan dicari di tempat lain, termasuk dunia digital yang belum tentu mampu memberikan kehangatan dan kasih sayang yang sebenarnya dibutuhkan manusia.

“Menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup dan tidak berhenti ketika seorang anak tumbuh dewasa.” — Jake Slope (*)

 

 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved