Mutiara Ramadhan
Perintah Puasa Ramadan: Takwa, Syukur, dan Cerdas
Perintah puasa ini membawa kebaikan yang luar biasa, karena para ulama menyatakan bahwa puasa adalah ibadah dengan pahala tanpa batas.
Bersyukur artinya menghargai setiap nikmat yang kita dapatkan.
Kita tahu siapa yang memberi nikmat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu kita gunakan nikmat itu sesuai dengan perintah Allah.
Ketika kita mampu menghargai nikmat, sekecil apa pun nikmat yang datang, kita akan berterima kasih kepada yang memberinya.
Berbeda jika kita tidak menyadari dan tidak menghargai nikmat.
Dapat satu dunia, dapat emas satu ton sekalipun, kalau dalam hati ada rasa rakus, tamak, tidak puas dan tidak bersyukur, maka semua itu hanya akan menjadi hampa.
Seakan-akan kita menjadi orang yang paling menderita di dunia, walaupun berada dalam limpahan nikmat yang tidak terkira.
Melalui puasa kita dididik untuk menjadi orang yang bersyukur. Kita bisa menikmati segelas air, sebutir kurma, sesuap nasi.
Makanan yang datang akan sangat kita hargai, karena kita melalui proses pendidikan yang panjang.
Dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita bersyukur kecuali pada saat itu Allah ingin menambah nikmat-Nya kepada kita.
“Kalau kalian bersyukur, maka Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepada kalian,” kata Allah.
Artinya setiap kali kita bersyukur, setiap itu pula nikmat siap tercurah jauh lebih banyak dari sebelumnya.
Dan yang berikutnya, kita menjadi orang-orang yang ar-rasyidun, orang yang pintar, orang yang cerdas dalam menjalani kehidupan.
Bagaimana wujud kecerdasan itu? Apakah dinilai dari materi, angka, prestasi, titel, atau penghargaan? Bukan.
Dalam Surah Al-Hujurat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Allah menjadikan kalian mencintai keimanan dan menjadikannya indah di dalam hati kalian, serta menjadikan kalian benci kepada kemaksiatan dan kedurhakaan.
Ketika ada rasa benci kepada kejahatan, benci kepada kefasikan, benci kepada pelanggaran, kemudian cinta kepada kebaikan, mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, membedakan antara yang milik kita dan bukan milik kita—mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka itulah orang-orang yang pintar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260219_mutiara-ramadhan-1.jpg)