Selasa, 28 April 2026

Sosok

Resah, Doa dan Bendera, Kisah Nisya di Balik Upacara 17 Agustus di Bontang

Naisya Vidya Al Safira Putri berdiri di tepi lapangan, menggenggam erat baki. Dalam hati ia berbisik lirih: “Mampu nggak aku menjalankan tugas ini?”

Penulis: Muhammad Ridwan | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD RIDWAN
PETUGAS PASKIBRAKA - Naisya Vidya Al Safira Putri, siswi SMA Negeri 1 Kota Bontang. Pembawa baki Upacara HUT RI ke 80, Stadion Bessai Berinta, Minggu (17/8/2025). (TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD RIDWAN). 

“Alhamdulillah, akhirnya bisa menyelesaikan tugas. Saya ingin memberikan yang terbaik,” ucapnya dengan suara bergetar.

Baca juga: Pemkot Bontang Yakin MK Kabulkan Pengalihan Sidrap dari Kutai Timur

Bagi remaja itu, menjadi pembawa baki bukan akhir, melainkan awal. Ia menyimpan mimpi besar untuk menjadi Polwan, abdi negara yang sejak lama ia cita-citakan. 

Tahun ini, 41 putra-putri terbaik Bontang terpilih melalui seleksi ketat menjadi anggota Paskibraka. Mereka bukan sekadar mengibarkan bendera, melainkan wajah harapan generasi muda kota ini.

Harapan yang lahir dari keringat, doa, dan tekad yang tak kenal menyerah.

Dan pagi itu, di bawah hujan yang syahdu, Bontang menyaksikan Sang Merah Putih berkibar dengan gagah.

Senyum Naisya menjadi simbol: bahwa keresahan bisa ditaklukkan, dan tugas seberat apa pun bisa diselesaikan asal ada keyakinan, doa, dan kerja keras. (*)

 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved