Jumat, 8 Mei 2026

Program Makan Bergizi Gratis

Siswa SMAN 2 Bontang Ogah Santap Program MBG, SPPG Akui Kasus Makanan Basi

Siswa SMAN 2 Bontang ogah santap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akui kasus makanan basi.

Tayang:
Instagram @lbj_jakarta
MAKAN BERGIZI GRATIS - Arsip foto ilustrasi menu makan bergizi gratis. Siswa SMAN 2 Bontang ogah santap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akui kasus makanan basi. (instagram @lbj_jakarta) 

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG – Siswa SMAN 2 Bontang ogah santap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akui kasus makanan basi sempat terjadi di Bontang, Kalimantan Timur.

Belakangan diketahui, siswa SMA Negeri 2 Bontang dua kali menerima menu yang ditemukan basi alias tidak layak konsumsi.

Kepala SMA Negeri 2 Bontang, Suyanik membenarkan kasus itu.

Baca juga: Wanita Paruh Baya di Bontang Ditangkap Polisi karena Simpan Sabu 1,36 Gram

Ia menjelaskan pertama terjadi pekan lalu saat menu nasi goreng disajikan untuk para siswa. 

Saat dibuka aroma tak sedap muncul dari timun yang busuk hingga bercampur dengan nasi dan membuatnya berair.

Kasus serupa terulang pada Kamis (2/10/2025) dengan menu batagor. 

Akibatnya, para pelajar enggan menyantap hidangan tersebut dan memilih mengembalikannya ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Kami sudah lapor, agar menu berbahan sayuran yang mudah busuk sebaiknya dihindari,” jelas Suyanik, Jumat (3/10/2025).

Meski begitu, Suyanik memastikan tidak semua makanan bermasalah. Sebagian menu tetap segar dan dikonsumsi siswa. 

Ia pun mengingatkan para pelajar agar lebih mawas diri dalam memilih makanan untuk menghindari masalah kesehatan.

Baca juga: 1.443 Tenaga Honorer di Bontang Resmi Naik Status Jadi PPPK Paruh Waktu

Tanggapan Kepala SPPG Bontang

Menanggapi laporan tersebut, Kepala Regional SPPG Bontang, Surya Dwi Saputra, membenarkan adanya temuan makanan basi di SMA Negeri 2. 

Sekolah itu diketahui mendapat suplai makanan dari dapur Bontang Utara 03 di HOP 6.

“Memang ada menu nasi goreng yang basi. Saat ini dapur terkait sedang kami evaluasi, baik pemilihan menu maupun cara pengolahannya,” kata Surya.

Ia menegaskan, evaluasi menyeluruh akan dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang. 

“Kami juga memberikan pemahaman kepada siswa agar lebih cermat sebelum mengonsumsi makanan,” pungkasnya. 

Baca juga: Jabatan Sekda Bontang Berakhir November 2025, Wawali Agus Haris: Penggantinya Harus Memahami Tugas

Rapid Test MBG

Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan membenahi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai kasus keracunan di sejumlah daerah.

Diantaranya membekali dapur MBG dengan alat tes cepat atau rapid test untuk menguji makanan.

Merespons hal itu Menteri Kesehatan (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin menyatakan kesiapan Kemenkes dalam menyediakan rapid test kit tersebut.

"Tes cepat ini sebenarnya sudah kami lakukan dan ada petugasnya. Biasanya untuk menguji makanan untuk presiden dan haji," kata dia saat di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat kemarin.

Baca juga: Minta Dapur MBG Disiplin, Cak Imin: Jangan Rusak Anak-anak dengan Micin

Budi menyarankan agar pelaksanaan teknis rapid test ini menjadi tanggung jawab Badan Gizi Nasional (BGN).

Menurutnya, frekuensi pemeriksaan bisa dilakukan setiap hari atau secara acak (random), dan perlu didiskusikan lebih lanjut sebagai bagian dari standar keamanan pangan.

"Ini yang sudah kami sampaikan ke BGN. Memang yang melakukan sebaiknya BGN, nanti apakah dilakukan setiap hari atau random, kami didiskusikan bersama. Karena itu adalah standar atau tes cepat yang biasa kami lakukan di puskesmas-puskesmas untuk mengecek makanan siap saji," tutur Budi.

Rapid test kit untuk pemeriksaan mikrobiologi bisa mendeteksi organisme seperti salmonella, e.coli, bacillus cereus dan staphylococcus.

Baca juga: Perluas Jangkauan MBG, Korwil BGN: Ada 2 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Baru di Balikpapan 

Kemudian rapid test kit untuk pemeriksaan zat kimia bisa mendeteksi parameter sianida, timbal, arsen, nitrit, metanil yellow, rhodamin B, formalin dan boraks.

Di kesempatan yang sama, ia juga membeberkan penyebab umum keracunan MBG.

Kemenkes telah melakukan penyelidikan epidemiologi guna mencari tahu penyebab insiden keamanan pangan tersebut.

Kemenkes mengambil sampel dari tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makmur Jaya di Sirnagalih, Kecamatan Cipongkor, SPPG Maju Jaya di Neglasari, Kecamatan Cipongkor dan SPPG Mekarmukti di Kecamatan Cihampelas dengan total kasus korban 1.315 orang.

Baca juga: BREAKING NEWS: 1 Dapur MBG di Balikpapan Berhenti Beroperasi Sementara

Budi menerangkan, penyebab keracunan pangan yang sering ditemukan itu ada 3 yaitu bakteri, virus dan zat kimia.

Bakteri terdiri dari salmonella, escherichia coli, bacillus cereus, staphylococcus aureus, clostridium perfringens, listeria monocytogenes, campylobacter jejuni hingga shigella.

Virus seperti rotavirus dan hepatitis A virus. Serta zat kimia seperti nitrit dan scombrotoxin.

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibangun Polri mempunyai alat rapid test yang digunakan untuk menguji makanan yang sudah dimasak.

Baca juga: Dinkes SPPG MBG di Balikpapan Belum Memiliki Sertifikat Higien Sanitasi

Hal ini akan diterapkan di SPPG lainnya. 

Dadan mengungkap Presiden Prabowo Subianto juga telah memerintahkan agar setiap SPPG memiliki alat rapid test.

Rapid test itu penting untuk menguji makanan.

"Pak Presiden sudah memerintahkan agar setiap SPPG memiliki alat rapid test yang bisa dilakukan untuk menguji makanan yang sudah dimasak sebelum diedarkan," kata Dadan.

Baca juga: Ahli Gizi di SPPG APT Pranoto, Awasi Ketat Distribusi MBG Kutai Timur

Disinilah, Dadan lalu mengungkap SPPG yang dibangun Polri lengkap dengan tersedianya alat rapid test.

Alat rapid test itu, kata Dadan, menguji makanan yang sudah dimasak sebelum diedarkan.

"Ini sudah dilakukan di SPPG yang dibangun oleh Polri," ujar Dadan.

Satu Dapur MBG di Balikpapan Ditutup

Salah satu dapur penyedia makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Balikpapan dikabarkan ditutup.

Baca juga: Ahli Gizi di SPPG APT Pranoto, Awasi Ketat Distribusi MBG Kutai Timur

Menurut informasi yang diterima Tribun Kaltim, dapur tersebut beroperasi dalam lingkup hotel bintang tiga yang berlokasi di Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan ada persoalan yang mengarah pada perseteruan dalam hal administratif antara mitra dan SPPG.

Dikonfirmasi lebih lanjut, Koordinator Wilayah BGN Balikpapan, Laila Suci, menepis kabar tersebut.

Alih-alih penutupan atau pembekuan, Laila lebih menggunakan istilah penghentian sementara, sehingga tak berlaku permanen.

Baca juga: 8 Fakta Dugaan Keracunan MBG di Sebatik Kaltara, Sekolah Diliburkan, Orangtua Tolak Anak Diberi MBG

"Bukan ditutup, itu sementara berhenti beroperasional karena masih ada masalah internal," bantah Laila, Rabu (1/10/2025).

Namun demikian, Laila tak membeberkan masalah internal yang mengakibatkan penghentian sementara dapur tersebut.

Ia sebatas menerangkan, langkah itu diambil karena perlu proses renovasi sehingga dapur benar-benar proporsional dan layak beroperasi.

Menurutnya, jika dapur tidak memenuhi standar kelayakan, hal itu dikhawatirkan akan memengaruhi kegiatan operasional secara keseluruhan.

Baca juga: 8 Fakta Dugaan Keracunan MBG di Sebatik Kaltara, Sekolah Diliburkan, Orangtua Tolak Anak Diberi MBG

"Dihentikan sementara saja. Dari kejadian itu juga, kami semakin memastikan semuanya berjalan sesuai standar," tegasnya.

Disinggung soal antisipasi kejadian keracunan MBG di daerah lain, Laila menyebut pihaknya memperkuat koordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes).

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memastikan pelatihan penjamah makanan dilakukan terlebih dahulu sebelum operasional kembali berjalan.

Upaya ini bertujuan untuk mencegah potensi insiden yang tidak diinginkan seperti kasus keracunan.

Ditanya soal laporan keluhan, dia mengklaim tidak ada laporan dan meyakini semua baik-baik saja.

"Tidak ada (laporan), sejauh ini masih aman semua," kata Laila. (Ridwan)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved