Rabu, 8 April 2026

Dampak Tambang di Samboja

Ketua RT Ungkap Sisi Lain Tambang di Samboja: Ada Manfaat, tapi Ada Dampak Lingkungan

Ketua RT 1 Argosari ungkap sisi lain dampak tambang PT Singlurus Pratama, ada manfaat, tapi tetap ada tantangan lingkungan.

|
TRIBUNKALTIM.CO/GREGORIUS AGUNG
DAMPAK TAMBANG - Ketua RT 1 Kelurahan Argosari, Kecamatan Samboja, Guntur (63), memberikan pandangan berbeda terkait aktivitas tambang PT Singlurus Pratama di wilayahnya. Guntur menilai ada dampak positif dan negatifnya. (TRIBUNKALTIM.CO/GREGORIUS AGUNG) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMBOJA - Ketua RT 1 Kelurahan Argosari, Kecamatan Samboja, Guntur (63), memberikan pandangan berbeda terkait aktivitas tambang PT Singlurus Pratama di wilayahnya.

Guntur menilai ada dampak positif dan negatif, namun banyak warga yang terdampak justru menerima manfaat dari kehadiran perusahaan.

Dalam wawancara dengan Tribunkaltim.co, Jumat (17/10/2025), Guntur menjelaskan bahwa sejak awal tinggal di Argosari pada 1980-an, wilayah tersebut masih berupa hutan lebat dan mayoritas warga berprofesi sebagai petani.

Menurutnya, perubahan iklim yang dialami warga saat ini tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan aktivitas tambang.

Baca juga: Air Bersih 5 Kelurahan di Samboja Kukar Diduga Tercemar Limbah Tambang Batu Bara

"Kalau udara air itu saya rasa ini memang memang alam. Zaman dulu itu namanya musim kemarau musim hujan itu kan tertib. Sekarang kan sudah rusak," katanya.

Mengenai keluhan warga soal kualitas air yang keruh, Guntur menegaskan masalah itu sudah ada sebelum tambang beroperasi.

Ia membedakan antara air keruh karena lumpur biasa dengan air yang tercemar bahan tertentu.

Guntur juga mengakui adanya dampak lingkungan seperti debu bagi warga yang tinggal dekat jalan hauling, tetapi kebunnya yang tak jauh dari tambang tetap aman.

Baca juga: Kisah Susianty Terdampak Tambang di Samboja Kukar: Rumah Rusak, Air Tercemar

Kerusakan pada rumahnya, termasuk retak dinding, telah dinegosiasikan dengan perusahaan untuk diperbaiki setelah penimbunan selesai.

"Nah, terkait dengan masalah ini kebetulan saya saya sendiri yang terdampak. Jujur, saya katakan di sini. Rumah saya tapi saya sudah komitmen sama perusahaan. Jadi komitmen saya setelah selesai nanti yang ditimbun diganjal rumah saya diperbaiki oleh perusahaan," ujarnya.

Guntur menilai kebisingan alat berat bukan masalah besar, membandingkan dengan kebisingan di dekat PLTD yang tak dipermasalahkan.

Ia menyebut warga di Argosari sudah terbiasa dengan aktivitas tambang sebelumnya, sehingga kecemburuan atau ketidakpuasan adalah hal wajar, tetapi tidak sampai memecah belah masyarakat.

Baca juga: Polda Kaltim Tegaskan Pengawasan Tambang Ilegal Dilakukan di Seluruh Wilayah Kaltim

"Kalau masyarakat iri itu wajar, itu namanya manusia. Karena mungkin dia enggak dapat apa-apa. Ya justru yang ini kan yang enggak terdampak, lahannya enggak kena. Ia dapat bantuan juga," ujarnya.

Selain itu, Guntur menjelaskan bahwa PT Singlurus Pratama telah melakukan sosialisasi dan program Corporate Social Responsibility (CSR) sejak sebelum beroperasi di Argosari.

Bantuan sembako rutin yang diterima warga pun disambut baik.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved