Selasa, 19 Mei 2026

Berita Samarinda Terkini

Buah Sabar 15 Tahun jadi Marbot di Samarinda, Slamet tak Menyangka Bisa Umrah Gratis via  Gratispol

Slamet Ryadi tidak pernah menyangka pengabdiannya selama 15 tahun menjadi marbot di Masjid Al Falah

Tayang:
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/RAYNALDI PASKALIS
UMRAH GRATISPOL KALTIM - Slamet Ryadi, seorang marbot di Masjid Al Falah, di Jalan AWS, Samarinda yang menjadi salah satu penerima manfaat progtam Gratispol Perjalanan Ibadah Umrah. Jumat (13/2/2026). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Slamet Ryadi tidak pernah menyangka pengabdiannya selama 15 tahun menjadi marbot di Masjid Al Falah, di Jalan AWS, Samarinda, Kalimantan Timur, akan membawanya hingga ke Tanah Suci. 

Rezeki yang tidak disangka-sangka itu datang melalui program "Gratispol Perjalanan Ibadah Umrah", sebuah inisiatif perjalanan religi yang menjadi salah satu prioritas utama Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur.

Program ini dirancang khusus untuk memberikan penghargaan kepada masyarakat yang memiliki peran sosial besar namun sering kali terlupakan, termasuk para penjaga masjid.

Keberangkatan Slamet dimulai ketika ketua masjid tempat ia mengabdi mengajukan namanya untuk didaftarkan dalam program tersebut.

Proses pendaftarannya pun terbilang sederhana dan tidak berbelit-belit.

Baca juga: Wagub Kaltim Seno Aji Pastikan Insentif Guru dan Marbot Tersalurkan Tepat Sasaran

"Cuma fotocopy KTP sama kartu keluarga aja," ungkap Slamet saat ditemui Tribunkaltim.co, Jumat (13/2/2026) malam.

Pria kelahiran Samarinda ini menuturkan proses administrasi berjalan cukup cepat.

Dari pengajuan nama hingga pengumuman keberangkatan tidak memakan waktu yang terlalu lama. 

Dirinya masuk dalam rombongan kloter kedua bersama 60 marbot lainnya yang diberangkatkan pada 18 Desember 2025 dan kembali ke tanah air pada 29 Desember 2025.

Berdasarkan informasi dari situs resmi Pemerintah Provinsi Kaltim, pada tahun 2025 sebanyak 800 orang mendapat kesempatan untuk diberangkatkan umrah gratis melalui program ini. 

Keberangkatan dilakukan secara bertahap dalam beberapa kloter untuk memberikan kesempatan yang merata.

Momen paling berkesan bagi Slamet adalah detik-detik pertama kali matanya memandang Ka'bah. 

Pengabdiannya selama puluhan tahun sebagai marbot seolah terbayar lunas saat itu. Tangisnya pecah, tak sanggup lagi dibendung.

Baca juga: Wajah Barau Masjid Raya Darussalam di Samarinda, Telan Anggaran 25 Miliar 

"Pas lihat Ka'bah kami semua nangis, bersyukur sekali bisa lihat langsung," tutur Slamet.

Kini, sekembalinya ke rutinitas di Samarinda, Slamet membawa harapan agar program mulia ini terus konsisten berjalan. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved