Sabtu, 18 April 2026

Berita Samarinda Terkini

Ganjar Pranowo Ingatkan Ancaman Pembungkaman Kritik di Seminar UMKT Samarinda

Ganjar Pranowo ingatkan mahasiswa agar tetap kritis di tengah ancaman pembungkaman suara dalam demokrasi

TRIBUNKALTIM.CO/Sintya Alfatika Sari
SEMINAR DEMOKRASI UMKT - Ratusan mahasiswa memadati auditorium Kampus UMKT Samarinda dalam seminar nasional yang menghadirkan Ganjar Pranowo Rabu (15/4/2026), membahas peran pemuda dalam menjaga demokrasi. (SINTYA) 

Ringkasan Berita:
  • Ganjar soroti ancaman pembungkaman kritik dalam demokrasi.
  • Mahasiswa diingatkan tetap berani bersuara dan berbasis data.
  • Pemuda dinilai sebagai penggerak perubahan dan penjaga moral publik.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan menyempitnya ruang kritik menjadi perhatian utama dalam Seminar Nasional bertajuk “Menjaga Akal Sehat Bangsa: Suara, Peran dan Aksi Pemuda dalam Demokrasi” yang digelar di Kampus Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Samarinda, Rabu (15/4/2026).

Dalam forum yang dihadiri sekitar 600 peserta tersebut, Ganjar Pranowo secara lugas mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan keberanian bersuara di tengah dinamika demokrasi saat ini.

Soroti Pembungkaman Suara Kritis

Ganjar menilai terdapat kecemasan yang berkembang terkait posisi pemuda dalam menjaga nilai-nilai demokrasi, terutama ketika suara kritis mulai terasa ditekan.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan sejarah panjang kontribusi pemuda dalam perjalanan bangsa, mulai dari era kebangkitan nasional hingga reformasi 1998.

“Sejak Budi Utomo, kemudian ada Sumpah Pemuda, ada peran pemuda. Bahkan pada saat terakhir diceritakan reformasi 98. Tapi kok rasa-rasanya hari ini suara-suara kritis mulai dibungkam,” ujarnya.

Baca juga: Viral Video Testimoni Gratispol di Sekolah, Ini Klarifikasi Disdikbud Kaltim

Demokrasi Bisa Runtuh dari Dalam

Dalam paparannya, Ganjar menegaskan bahwa proses demokrasi melalui pemilu tidak selalu menghasilkan pemimpin yang demokratis.

Ia mengutip konsep dalam buku How Democracies Die untuk menggambarkan bagaimana demokrasi bisa runtuh dari dalam, meski prosedur formal tetap berjalan.

“Tidak semua hasil dari proses demokrasi yang judul pemilu itu selalu menghasilkan pemimpin yang demokratis. Proses pemilunya jalan, tapi setelah berkuasa, mereka membunuh demokrasi,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan peserta untuk tidak hanya melihat peristiwa secara kasat mata, melainkan memahami konteks di baliknya.

“Bacalah dengan teliti. Bukan peristiwa dan waktunya, tapi di balik terjadinya peristiwa itu, apa sebenarnya yang terjadi,” lanjutnya.

Baca juga: ‎Direktur Operasional Jadi Tersangka, Polisi Periksa 15 Saksi Ungkap Modus Kecurangan Minyakita

Dilema Mahasiswa, Diam atau Bergerak

Lebih jauh, Ganjar menyoroti dilema yang dihadapi mahasiswa saat ini, antara tetap kritis atau memilih diam demi kenyamanan.

Menurutnya, sikap kritis memiliki konsekuensi, termasuk potensi tekanan hingga upaya pembungkaman.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved