Kamis, 21 Mei 2026

Berita Kaltim Terkini

Sawit Dihantam Kenaikan Dolar, Perusahaan Terpukul, Karyawan Kehilangan Bonus Bertahun-tahun

Kenaikan dolar AS dinilai menekan industri sawit karena biaya operasional melonjak dan produktivitas menurun

Tayang:
HO//MAGNIFIC
DAMPAK DOLAR SAWIT - Ilustrasi perkebunan sawit. Jenderal Manager PT Mitra Bangga Utama, Ir. M. Chairuddin, menyoroti dampak kenaikan nilai tukar dolar terhadap sektor perkebunan sawit dan perekonomian nasional. Menurutnya, tingginya nilai dolar membuat biaya operasional perusahaan terus meningkat dan berdampak langsung pada produktivitas perkebunan. (HO/MAGNIFIC) 

Ringkasan Berita:
  • Pengusaha sawit menilai kenaikan dolar meningkatkan biaya operasional perkebunan.
  • Produktivitas dan bonus pekerja disebut terus menurun akibat tekanan ekonomi.
  • Pelaku usaha meminta pemerintah mengurangi impor demi memperkuat rupiah.

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah dinilai memberi tekanan besar terhadap sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit.

Hal itu disampaikan Jenderal Manager PT Mitra Bangga Utama, Ir. M. Chairuddin, saat diwawancarai terkait kondisi industri perkebunan saat ini.

Jenderal Manager PT Mitra Bangga Utama, Ir. M. Chairuddin, menyoroti dampak kenaikan nilai tukar dolar terhadap sektor perkebunan sawit dan perekonomian nasional.

Menurutnya, tingginya nilai dolar membuat biaya operasional perusahaan terus meningkat dan berdampak langsung pada produktivitas perkebunan.

“Ada dampaknya, pasti ada. Otomatis biaya operasional meningkat. Mulai dari kebutuhan karyawan, spare part, pupuk sampai solar semuanya naik. Akibatnya berpengaruh terhadap produktivitas,” ujarnya saat diwawancarai wartawan Tribunkaltim.co pada Rabu (20/5/2026).

Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp17.654 per Dolar AS setelah BI Naikkan Suku Bunga

Chairuddin menjelaskan, ketika biaya operasional meningkat sementara kemampuan perusahaan terbatas, maka semangat kerja karyawan ikut menurun.

Kondisi itu akhirnya berdampak pada hasil produksi perusahaan.

“Kalau kebutuhan itu tidak dipenuhi, semangat kerja mereka berkurang. Produktivitas turun, produksi juga ikut turun karena biaya operasional besar, termasuk biaya transportasi,” katanya.

Perkebunan Banyak Tertekan

Ia mencontohkan kondisi perkebunan karet dan cokelat yang saat ini banyak berhenti beroperasi akibat tingginya biaya operasional.

“Sebagian besar perkebunan karet tutup, yang masih ada pun tidak terawat. Kalau cokelat hampir sama sekali tidak operasional. Itu karena biaya operasional sangat besar,” ungkapnya.

Baca juga: Prabowo Targetkan Dolar Rp 16.800-17.500 dan Ekonomi Tumbuh hingga 6,5 Persen di 2027

Menurut Chairuddin, persoalan tersebut dipicu kenaikan nilai dolar terhadap rupiah yang membuat berbagai kebutuhan perusahaan ikut melonjak.

Ia mengatakan, kondisi industri perkebunan saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

Dahulu perusahaan sawit masih mampu memberikan bonus besar kepada pekerja, namun kini banyak yang sudah tidak mampu lagi.

“Dulu orang berkebun sawit bisa bonus sampai 50 bulan. Lama-lama turun, terakhir sekarang bahkan tidak ada bonus lagi. Kenapa? Karena perusahaan tidak mampu,” ucapnya.

Karena itu, ia menilai solusi yang tepat bukan dengan menaikkan gaji pegawai atau pajak, melainkan menekan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Baca juga: Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS Akhir Mei 2026, Bisa Picu PHK

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved