Miris, Banyak Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Mandek Karena Terkendala Biaya Visum

Hal yang membuat miris, pelaku yang harusnya sudah bisa terjerat hukum bisa melenggang dan bebas berkeliaran.

Miris, Banyak Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Mandek Karena Terkendala Biaya Visum
TRIBUN KALTIM/DOAN PARDEDE
Suasana Sosialisasi Sosialisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Terhadap Perempuan dan Anak yang digelar oleh DP3A Kota Samarinda di Balaikota Samarinda, Jalan Kesuma Bangsa, Rabu (28/3/2018). 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Doan Pardede

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Saat ini, banyak kasus percabulan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani Kepolisian jalan ditempat, karena tidak memenuhi minimal 2 alat bukti. 

Rata-rata, kasus mandek karena terkendala bukti visum.

Hal yang membuat miris, pelaku yang harusnya sudah bisa terjerat hukum bisa melenggang dan bebas berkeliaran.

Hal ini terungkap dalam Sosialisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Terhadap Perempuan dan Anak yang digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Samarinda di Balaikota Samarinda, Jalan Kesuma Bangsa, Rabu (28/3/2018).

Baca: Resmi, Eks Pelatih Persib Gantikan Iwan Setiawan di Borneo FC

Jika yang menjadi korban berasal dari kalangan berada, maka bukti visum ini tak menjadi masalah dan kasus bisa diproses lebih lanjut.

Menjadi masalah adalah ketika korban berasal dari keluarga tidak mampu.

Karena syarat minimal dua alat bukti tak terpenuhi, kasus yang dilaporkan pun akhirnya mandek.

Dalam pertemuan juga terungkap bahwa dulunya, anggaran ini dianggarkan Pemkot Samarinda. 

Halaman
12
Penulis: Doan E Pardede
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved