Senin, 13 April 2026

Opini Cak Bay

Kampanyemu Harimaumu, Medsos dan Pembualan

Janji menuntaskan kemiskinan dan janji-janji manis lain yang sekarang ora payu alias tidak laku.

Ahmad Bayasut 

Oleh: Ahmad Bayasut @ahmadbayasut

Ya, sekarang lagi musim Pemilihan Kepala (Pilkada) serentak. Pilkada serentak ini merupakan sejarah baru Indonesia.

Dimana menentukan kepala daerah untuk Walikota dan Bupati dilakukan secara serentak seluruh Indonesia.

Bicara pilkada tidak lepas dari namanya massa, kampanye, obral janji. Untuk satu ini merupakan alat bagi calon penguasa unjuk gigi.

Ingin menjadi perhatian calon pemilih, ingin mengalahkan pesaing, ingin ini ingin itu, pokoknya bagaimana caranya terpilih nanti.

Sekarang banyak alat komunikasi politik bagi calon penguasa. Kampanye jadul (jaman dulu) dengan menggunakan baliho, selebaran, berkoar diatas panggung dihadapan ribuan massa.

Terkini bila ingin narsis atau unjuk gigi sangatlah mudah. Apalagi jaman sudah maju dengan adanya berbagai perkembangan teknologi.

Satu diantaranya adalah meledaknya media sosial. Alat ini sungguh ampuh bagi seseorang untuk mengekspresikan diri alias narsis kepada publik.

Tidak perlu banyak biaya, cukup anda komentar di salah satu media sosial. Pastilah teman jejaring di sekitar anda mengetahui.

Bila teman jejaring anda tertarik akan gambar atau postingan komentar anda biasanya mendapat balasan komentar. Itu artinya narsis anda berhasil menarik perhatian khalayak publik. Gampang bukan?

Nah kembali ke kampanye pilkada. Alat ini bisa digunakan oleh calon kepala daerah. Bisa melalui Twitter, Facebook, Google plus, Instagram, Path dan banyak lainnya.

Kali ini saya menemukan kampanye satu pasangan kepala daerah di akun Facebook. Caranya kampanye dengan media sosial sudah tepat. Hanya saja bahan kampanyenya menjadi bahan komentar, keraguan calon pemilih dan cenderung membosankan.

Karena dalam postinganya menggambarkan sosok kandidat dengan mengumbar janji, program kerja dan lainnya. Janji menuntaskan banjir, janji menuntaskan pemadaman listrik, janji memberi air bersih, janji menuntaskan kemiskinan dan janji-janji manis lain yang sekarang ora payu alias tidak laku.

Karena masyarakat sudah pintar dalam memilih, memilah siapa calon pemimpinnya nanti. Mereka tidak butuh janji tapi butuh kerja konkrit.

Terus bagaimana dong saya harus berkampanye? Tentu pertanyaan ini akan disampaikan calon kepala daerah yang maju perang berebut kursi kekuasaan.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved