Kamis, 16 April 2026

Opini Cak Bay

Kampanyemu Harimaumu, Medsos dan Pembualan

Janji menuntaskan kemiskinan dan janji-janji manis lain yang sekarang ora payu alias tidak laku.

Ahmad Bayasut 

Oleh: Ahmad Bayasut @ahmadbayasut

Ya, sekarang lagi musim Pemilihan Kepala (Pilkada) serentak. Pilkada serentak ini merupakan sejarah baru Indonesia.

Dimana menentukan kepala daerah untuk Walikota dan Bupati dilakukan secara serentak seluruh Indonesia.

Bicara pilkada tidak lepas dari namanya massa, kampanye, obral janji. Untuk satu ini merupakan alat bagi calon penguasa unjuk gigi.

Ingin menjadi perhatian calon pemilih, ingin mengalahkan pesaing, ingin ini ingin itu, pokoknya bagaimana caranya terpilih nanti.

Sekarang banyak alat komunikasi politik bagi calon penguasa. Kampanye jadul (jaman dulu) dengan menggunakan baliho, selebaran, berkoar diatas panggung dihadapan ribuan massa.

Terkini bila ingin narsis atau unjuk gigi sangatlah mudah. Apalagi jaman sudah maju dengan adanya berbagai perkembangan teknologi.

Satu diantaranya adalah meledaknya media sosial. Alat ini sungguh ampuh bagi seseorang untuk mengekspresikan diri alias narsis kepada publik.

Tidak perlu banyak biaya, cukup anda komentar di salah satu media sosial. Pastilah teman jejaring di sekitar anda mengetahui.

Bila teman jejaring anda tertarik akan gambar atau postingan komentar anda biasanya mendapat balasan komentar. Itu artinya narsis anda berhasil menarik perhatian khalayak publik. Gampang bukan?

Nah kembali ke kampanye pilkada. Alat ini bisa digunakan oleh calon kepala daerah. Bisa melalui Twitter, Facebook, Google plus, Instagram, Path dan banyak lainnya.

Kali ini saya menemukan kampanye satu pasangan kepala daerah di akun Facebook. Caranya kampanye dengan media sosial sudah tepat. Hanya saja bahan kampanyenya menjadi bahan komentar, keraguan calon pemilih dan cenderung membosankan.

Karena dalam postinganya menggambarkan sosok kandidat dengan mengumbar janji, program kerja dan lainnya. Janji menuntaskan banjir, janji menuntaskan pemadaman listrik, janji memberi air bersih, janji menuntaskan kemiskinan dan janji-janji manis lain yang sekarang ora payu alias tidak laku.

Karena masyarakat sudah pintar dalam memilih, memilah siapa calon pemimpinnya nanti. Mereka tidak butuh janji tapi butuh kerja konkrit.

Terus bagaimana dong saya harus berkampanye? Tentu pertanyaan ini akan disampaikan calon kepala daerah yang maju perang berebut kursi kekuasaan.

Masih ingat dengan gaya blusukan Joko Widodo ketika maju dalam pemilihan Presiden 2014-2019. Strategi kampanye ini sangat efektif dan murah meriah. Tapi ingat ketika Blusukan ini, jarang sekali kita dengar dari Jokowi akan melakukan ini dan itu bila terpilih nanti.

Tetapi dikembalikan kepada konsumen atau pemilih. Tanyakan apa kesulitaan warga, apa yang mereka butuhkan, dengarkan segala curahan hati calon pemilih anda. Sentuh hati calon pemilih anda dengan berbagai cara. Datangi, door to door, mungkin bila anda diminta membersihkan selokan, lakukan itu!!

Hal ini bisa juga dilakukan di media sosial. Posting komentar anda dengan bertanya kesulitan publik, apa masalahnya dan apa kekurangan yang ada di lapangan. Pasti nanti anda mendapat balasan.

Banyak masukan dari publik terkait masalah kota. Toh nanti bila anda terpilih juga harus menyelesaikan permasalahan publik khan.

Bila hal ini berjalan sukses, maka media massa, masyarakat akan menjadi penilainya. Media akan menyajikan berita-berita anda dengan dua gaya blusukan. Blusukan dunia nyata dan blusukan dunia maya.

Sementara warga juga akan ikutan narsis memposting segala pengalamannya bertemu dengan calon kepala daerah di media sosial. Ini artinya sekali kayuh dua pulau terlampaui.

Hal ini menunjukkan keberpihakan anda kepada calon pemilih. Puaskan hati calon pemilih anda agar nantinya tidak hanya memilih. Tetapi bisa menjadi loyal kepada anda.

Ingat!! Janji-janji manis sudah tidak laku. Karena pemilih, rakyat sudah muak dengan janji-janji manis kampanye. Entah itu pemilihan legislatif atau pemilihan eksekutif. Ingat, kampanyemu harimaumu. Banyak obral janji namun tidak bisa memenuhi nanti maka anda akan dicap sebagai pemimpin pembualan. Mau ikam dibilang pembualan!!. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved