Kamis, 30 April 2026

Liputan Khusus

Inilah Sejarah Pasar Malam Kota Tepian

Soalnya waktu itu rame, ada tong edan, orang-orang tua main catur, kartu, ada juga bola-bola.

Tayang:
TRIBUN KALTIM / NEVRIANTO HP
Warga jalan-jalan melihat baju yang dijual di Pasar Malam lapangan Jalan KS Tubun, Kelurahan Dadimulya, Samarinda, Jumat (22/6) . Pasar malam merupakan alternatif berbelanja seluruh lapisan masyarakat Samarinda 

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Cornel Dimas SK

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Tak ada yang mengetahui persis awal mula munculnya Pasar Malam di Samarinda.

Menurut penuturan beberapa pedagang, pasar malam mulai merebak pada era milenium, terutama setelah krisis moneter melanda Indonesia.

Pasar malam mulai bermunculan di pelosok Samarinda sebagai hiburan rakyat. Wisnu (26) warga Loa Bakung, ingat betul dalam mindsetnya saat masih anak-anak, pasar malam erat kaitannya dengan wahana permainan anak-anak.

“Di Loa Bakung sini sekitar tahun 1999 atau 2000 baru ada pasar malam. Anak-anak sekitar nggak pernah ketinggalan jadwal pasar malam. Soalnya waktu itu rame, ada tong edan, orang-orang tua main catur, kartu, ada juga bola-bola. Karena dulu itu masih kampung, jadi hiburannya ya begitu di pasar malam,” ungkapnya kepada Tribun beberapa waktu lalu. (baca juga: Walau Masih Muda, Arif Tidak Malu Jualan di Pasar Malam )

Warga jalan-jalan melihat baju yang dijual di Pasar Malam lapangan Jalan KS Tubun, Kelurahan Dadimulya, Samarinda, Jumat (22/6/2015). Pasar malam merupakan alternatif berbelanja seluruh lapisan masyarakat Samarinda

Alhasil kehadiran pasar malam seolah tiba-tiba menjadi kebutuhan masyarakat kampung yang haus hiburan. Apalagi bagi warga kampung yang saat itu wilayahnya terisolasi dari hiruk-pikuk perkotaan.

Berdasarkan penulusuran TRIBUNKALTIM.CO, terdapat salah satu lokasi yang dianggap pasar malam pertama di kota tepian. Letaknya di Jalan Suryanta, Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu. Ketua RT 18, Aliyane (65) menuturkan kawasan tersebut memang menjadi awal mula pasar malam.

Dulunya lokasi itu kerap disebut kawasan Panglima, Air Putih. Aliyane menceritakan pasar malam pertama kali hadir di kawasan itu tahun 1995, yang diprakarsai pedagang jajanan wadai (kuliner tradisional) setiap malam minggu. Hingga kemudian semakin bertambah penjualnya dari bulan ke bulan

“Tahun 1995, pertama kali itu ada tiga penjual kue. Mereka hampar di pinggir jalan, sambil jualan kue di toples. Mereka itu jualannya setiap malam minggu. Makin lama, bulan keempat sudah ada orang yang jual sayur yang berasal dari pedagang keliling,” ucapnya, Sabtu (12/9/2015). (baca juga: Tolong Jangan Digusur, Budiman Menggantungkan Hidupnya Pada Pasar Malam )

Setiap malam minggu di lokasi itu selalu ramai para pedagang pinggir jalan. Saat itu kawasannya masih sunyi dikelilingi hutan dan terisolasi dari perkotaan. Akses menuju kotapun sulit, lantaran jarang ada angkutan umum yang melintas.

Lagipula di daerah itu masih terdapat lahan pertanian buah dan sayuran milik warga setempat. Karena melihat keramaian itulah, pada tahun 2003, beberapa pedagang meminta izin kepada RT setempat untuk berjualan di kawasan tersebut setiap malam minggu.

Aliyane menceritakan pedagang tersebut berasal dari berbagai daerah di Samarinda, mulai dari Sempaja, Samarinda Seberang, hingga teluk dalam L1, L2, dan L3. Selain itu, ada pula warga setempat yang berjualan sayur lantaran mereka memiliki hasil pertanian dari kebun. (baca juga: Kisah Saryono Dulu Supervisor Perusahaan Kayu, Kini Dagang Sayur )

“Dulu itu susah kita mau ke kota. Jadi warga juga yang menuntut untuk adanya pasar malam di sini. Tahun 2003 pedagang minta izin ke RT untuk buat pasar malam. kami sediakan tempat untuk mereka di pinggir jalan Suryanata Bukit Pinang. Paling banyak itu jualan pakaian, sembako, dan sayuran. Sesudah berkembang pasar malam di sini, baru daerah lain mulai banyak ikut-ikutan buka pasar malam,” ungkapnya.

Seolah tak lekang zaman, pasar malam di Suryanata masih berdiri hingga kini. Padahal beberapa kali jalur tersebut mengalami perbaikan lantaran kawasan itu merupakan jalur poros Samarinda-Tenggarong, pasar malam selalu ada tiap malam minggu.

Bahkan jalan sekitaran ringroad menjadi penghubung dari Lok Bahu ke Sempaja sudah beroperasi di kawasan itu, pasar malam tetap menyesuaikan diri.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved