Kompasiana
Rupiah Menguat, Ekonomi Mulai Meroket, Agus Martowardoyo Menjegal Jokowi
Optimisme Jokowi, bahwa Oktober ekonomi kita mulai meroket, mulai terbukti.
TRIBUNKALTIM.CO - Optimisme Jokowi, bahwa Oktober ekonomi kita mulai meroket, mulai terbukti. Sebelumnya banyak yang pesimistis bahwa ekonomi kita sedang menuju kehancuran. Bahkan, para lawan-lawan politik Jokowi sudah memprediksi bahwa lengsernya Jokowi tinggal menunggu waktu.
Dasar prediksi lawan Jokowi itu adalah tren melemahnya rupiah yang nyaris menyentuh angka Rp 15.000 per dollar. Melemahnya rupiah menciptakan efek domino terhadap ekonomi Indonesia seperti banyak pabrik gulung tikar, PHK, dan daya beli yang menurun.
Melihat tren rupiah yang semakin terperosok, masyarakat kita terbelah dua. Ada yang tetap yakin akan kemampuan Jokowi dan tetap mendukungnya dalam memimpin Indonesia keluar dari krisis. Namun ada banyak juga yang semakin khawatir dan mulai bertanya-tanya apa yang akan terjadi ke depan? Benarkah Jokowi mempunyai kemampuan memimpin Indonesia keluar dari krisis? Apakah kita salah memilih Jokowi? Ada keraguan dan atas kemampuan Jokowi.
Puncak badai yang menerpa Jokowi sebetulnya sudah dilalui. Sekarang badai menakutkan itu sudah mulai berangsur-angsur hilang. Hari ini (6/10/2015), rupiah semakin perkasa. Hanya dalam tempo tiga hari, rupiah yang sebelumnya bertengger Rp 14.790 meroket naik menjadi Rp 14.175 per dollar. Luar biasa dalam tiga hari sudah naik lebih Rp 600,- Sebuah lompatan yang sulit dipercaya. Tren rupiah jelas akan semakin menguat hingga di kisaran Rp. 13.000 pada akhir Oktober ini.
Baca: Pemerintah Luncurkan Paket Kebijakan Ekonomi Jilid III, Ini Rinciannya
Melihat fenomena rupiah yang perkasa, para analisis terkejut dan buru-buru mencari dalil penguatan rupiah. Ada yang mengatakan bahwa meroketnya rupiah bukan karena Jokowi tetapi karena The Fed yang urung menaikkan suku bunganya.
Tren melemahnya dollar dan menguatnya rupiah juga terjadi bukan hanya di Indonesia tetapi juga di pasar Asia dan di Eropa. Namun sebenarnya itu hanya kebetulan. Rupiah menguat karena jelas ada usaha extra superhebat Jokowi. Bukankah Jokowi telah berkoak-koak sebelumnya bahwa Oktober ekonomi kita akan meroket? Bukankah Jokowi telah memprediksi rupiah menguat?
Saat itu banyak pihak yang mencibir pernyataan Jokowi itu termasuk Ekonom Faisal Basri? Namun tak ada satu pun para analisis ekonomi kita yang mengatakan bahwa rupiah akan kembali rebound.
Think again, banyak para analisis terus mencari alasan penguatan rupiah termasuk seabrek grafik dan statistik. Sebelumnya banyak yang pesimistis akan ekonomi kita ke depan dan banyak yang memprediksi jika rupiah akan menyentuh angka Rp 16.000 - Rp. 25.000,- per dollar. Namun apa yang terjadi? Rupiah menguat dengan cara fenomenal.
Baca: Rupiah Kembali Menguat Bergerak di Level Rp 14.200 per Dolar AS
Penguatan rupiah sontak melahirkan optimisme baru di bursa saham yang naik tajam. Hari ini IHSG hampir menyentuh level optimisme pada level 4.400. Kelihatan sekali para investor asing panik dan mulai buru-buru membeli saham-saham yang sudah murah.
Ada aura positif kesibukan luar biasa di pasar saham. Para investor yang semula khawatir, ini mulai balik badan dan optimis akan masa depan ekonomi Indonesia.
Efek paket kebijakan ekonomi I dan II Jokowi mulai ‘nendang’. Kamis ini, Jokowi akan mengeluarkan paket kebijakan III yang mendukung kebijakan yang telah dikeluarkan sebelumnya. Hari ini juga Jokowi akan meluncurkan program padat karya dengan pembangunan 16 pabrik baru yang akan menyedot tenaga kerja lebih 120 ribu orang untuk setahun ke depan.
Hitung-hitung, korban PHK berjumlah 43.000 orang. Pembangunan 16 pabrik itu akan membuka 60.000 lowongan pekerjaaan baru untuk tahun ini saja. Data pertumbuhan ekonomi juga sudah mulai tumbuh kembali dan trennya semakin meroket.
Jokowi dengan perhitungan matang dengan berani membentuk poros Jakarta-Peking. Proyek kereta api berkecepatan sedang telah diserahkan kepada Cina dengan konsep pembiayaan bussines to bussines. Jepang yang selama ini terlalu kaku, pelit, hitung-hitungan dalam membantu kemajuan Indonesia mulai ditinggalkan Jokowi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/jokowi-paket-ekonomi_20151008_133712.jpg)