Kompasiana
Rupiah Menguat, Ekonomi Mulai Meroket, Agus Martowardoyo Menjegal Jokowi
Optimisme Jokowi, bahwa Oktober ekonomi kita mulai meroket, mulai terbukti.
Baca: Rupiah Kembali Tertekan akibat Spekulasi Bunga The Fed
Prospek kerja sama dengan Cina yang memang lebih moderat dan agresif daripada Jepang, lebih dipilih Jokowi. Berkat kesepakatan spektakular dengan Cina, mulailah mengalir ratusan triliun investasi Cina ke Indonesia. Namun itu bukan utang, tetapi investasi. Gaung dan efek investasi Cina sudah mulai terasa bulan Oktober ini. Inilah salah satu optimisme Jokowi.
Lewat kebijakan perlindungan hukum kepada para kepala daerah dalam menggenjot serapan anggaran, maka puluhan hingga ratusan infrastruktur sedang dibangun. Dana desa sudah mulai digunakan dan terus menghidupkan ekonomi desa.
Berkat deregulasi dan debirokratisasi, investasi diyakini segera masuk dengan lancar. Ada kemungkinan rupiah semakin perkasa terhadap dollar hingga bertengger di angka Rp. 12.000 pada akhir bulan Desember mendatang. Maka optimisme Jokowi bahwa bulan Oktober ekonomi mulai meroket, akan menjadi nyata. Itu juga akan membungkam para pengkritik Jokowi. Seterusnya para haters dan pengkritik itu akan mati kutu dan berbalik memujinya jika 2-3 tahun mendatang kemajuan Indonesia sudah mulai terasa.
Agus Martowardoyo Menjegal Jokowi
Ada yang aneh pada diri Gubernur BI yang mengkritik Jokowi soal keinginan Jokowi menurunkan harga BBM. Sangat jelas di mata Agus, bahwa jika Jokowi akan menurunkan harga BBM, maka arah kemeroketan semakin kinclong, geger dan spektakuler. Dan inilah yang ditakuti Agus.
Agus yang notabene pilihan mantan Presiden SBY untuk menduduki tahta Gubernur BI tentu tidak mau kalau Jokowi sukses. Agus enggan kalau ekonomi kita kembali meroket. Mungkin karena gaji Agus mencapai Rp 200 juta per bulan lebih besar dari Presiden Jokowi yang hanya 60 jutaan lalu dia tidak merasakan penderitaan rakyat dengan menurunkan harga BBM? Apakah Agus ingin kalau Jokowi jatuh?
Agus tentu saja masih mencintai SBY, yang telah memilihnya sebagai Menteri Keuangan dan sekarang menjadi Gubernur BI. Agus ingin agar nama SBY tetap lebih hebat dari pada nama Jokowi. Padahal selama 10 tahun memerintah, SBY terus menumpuk utang luar negeri, meminjamnya dan memasukkan ke Indonesia dalam bentuk dollar.
Baca: BI Diminta Lebih Aktif di Pasar Obligasi untuk Perkuat Rupiah
Arus deras dollar yang masuk, membuat rupiah kelihatan tetap kuat. Maka citra SBY pun tetap terpelihara dan tidak seperti Jokowi yang banyak diserang gara-gara rupiah sekarang ini. Padahal kalau mau, Jokowi tinggal meminjam sekian milliar dolar dari world bank, IMF. Dijamin rupiah akan nangkring di bawah Rp. 10.000,-
Ada indikasi bahwa Aguslah yang sengaja membuat rupiah terperosok. Agus membiarkan rupiah semakin terperosok dengan maksud mencelakakan Jokowi. Padahal pihak yang paling bertanggung jawab atas rupiah adalah Bank Indonesia. Kelihatan sekali sangat minim usaha-usaha yang dilakukan BI dalam mengerem kemerosotan Rupiah. Agus hanya berkoak-koak bahwa rupiah sudah undervalue.
Di zaman SBY, Agus sekuat tenaga mengerem laju penurunan rupiah dengan usaha superextra. Namun di zaman Jokowi? Usahanya suam-suam kuku dan setengah hati. Jika Jokowi sedikit melakukan intervensi terhadap BI, Agus jelas menolak dan berlindung pada undang-undang tentang independensi BI. Jelas Jokowi tidak leluasa mengintervensi BI.
Celakanya, usaha-usaha yang dilakukan BI terkait dengan pelemahan rupiah, hanya artifisial dan seremonial. Jokowilah yang setengah mati mencari segala cara untuk menguatkan rupiah kembali dengan mengeluarkan berbagai terobosan kebijakan. Ke depan, sudah seharusnya Jokowi mengusulkan penggantian Gubernur BI itu kepada DPR.
Tentu saja banyak pihak yang mengatakan bahwa terlalu naif jika Agus Martowardoyo punya itikad buruk terhadap Jokowi. Agus tidaklah seburuk itu. Namun bagi yang belum tahu, silakan telisik dan baca sinyal-sinyal kuat sepak terjang kebijakan Agus selama ini, termasuk orang yang memilihnya sebagai Gubernur BI, SBY, yang terus menggurui Jokowi di Twitter.
Tak banyak yang tahu bahwa ada perseteruan sengit sunyi senyap antara Darmin Nasution vs Agus perihal kebijakan paket ekonomi, termasuk keinginan Jokowi yang menurunkan harga BBM yang terus ditentang Agus. Lucunya ketika rupiah semakin meroket, banyak yang mengucapkan terima kasih kepada Agus (#thankagus).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/jokowi-paket-ekonomi_20151008_133712.jpg)