SALAM TRIBUN
Deposito
Lazimnya orang kaya, ia juga banyak simpanan. Ia taruh uangnya dalam bentuk giro dan sejumlah deposito.
SALAM TRIBUN
Deposito
Oleh ACHMAD BINTORO
Kawan saya ini orang tajir. Sudah 25 tahun tak pernah lagi merasakan nikmatnya bersepeda motor, tunggangan sehari-hari saat kuliah dulu. Lima tahun kerja kantoran, dengan sedikit kewenangan yang dimiliki, rezekinya mulai deras mengalir. Ia pun mengganti motor bebeknya dengan mobil baru. Kini enam mobil keluaran teranyar ngandang di garasinya yang luas.
Lazimnya orang kaya, ia juga banyak simpanan. Ia taruh uangnya dalam bentuk giro dan sejumlah deposito. Ia selalu disambut lebih hangat, senyum yang lebih merekah, dan tentu layanan eksklusif, setiap kali masuk kantor bank. Tak sedikit manajer bank membujuknya untuk memindahkan duitnya ke bank yang dipimpin manajer tersebut.
Baca juga: Berlibur
Kadang ia menyerah. Sulit untuk menolak bujuk rayu pihak bank yang terus menempel hampir ke mana pun kakinya melangkah. Dari ngopi bareng hingga main golf. Dari bertamu di ruang kerjanya hingga muncul di sela rapat kerja di Puncak. Jadi, biarlah. Ia pikir, memarkir beberapa ratus miliar, tidak akan sampai mengacaukan cash flow-nya.
"Membantu orang (manajer bank yang sedang diuber target) kan baik. Toh ini bunganya juga untuk kesejahteraan kantor," kilahnya. "Tapi, khusus yang ini di-keep ya. Off the record. Saya dijanjikan 0,9% di luar bunga resmi," kata kawan saya berbisik. Ia nyengir. Puas. Seakan baru memenangkan sebuah permainan.
Giliran saya yang melongo. Bagaimana mungkin sebuah bank dapat mengeluarkan imbalan sebesar itu tanpa tercatat dalam pembukuan? Belakangan baru saya paham ketika bergaul dengan sejumlah manajer bank. "Selalu ada celah," katanya dengan tersenyum usai menerangkan jurus-jurus yang membuat "aman" kedua pihak.
Baca: Suara dari Talisayan
Suatu ketika ia juga pernah membikin pucat lesi muka seorang manajer bank. Ia mengancam akan memindahkan seluruh dananya dari bank tersebut. Tak cuma itu. Dengan kekuasaan dan kewenangan yang ia punyai, ia dapat menggerakkan sejumlah koleganya -- nasabah kakap lain -- untuk mengikuti jejaknya. Itu setara miliaran bahkan triliunan rupiah. Jumlah yang lebih dari cukup untuk membuat seorang manajer bank tidak akan bisa tidur nyenyak.
Gara-garanya sepele. Ia menyerahkan satu tas kresek berisi puluhan gepok pecahan 100 dollar AS untuk disimpan. Saat itu entah kenapa tidak langsung dihitung di depannya. Belakangan diketahui ada beberapa bendel yang tidak genap. Beberapa lembar entah hilang di mana.
Meski tidak pernah tercatat di majalah Forbes, kawan saya ini tergolong dalam 20 persen masyarakat terkaya di Indonesia, dan tentu saja di Kaltim. Ia masuk kelompok 220.608 pemilik rekening dengan simpanan di atas Rp2 miliar yang menurut Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhannya naik 15,40% (per November 2015) dari Rp Rp2.194,52 triliun menjadi Rp2.532,69 triliun.
Baca: Trans Studio
Mereka ini yang oleh World Bank disebut banyak menikmati manfaat dari kuatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 15 tahun terakhir. Sebaliknya, 80% atau lebih dari 205 juta orang merasa kian merana. Yang kaya makin kaya, yang miskin bertambah miskin. Rasio gini naik pesat dari 0,30 pada tahun 2000 menjadi 0,41 tahun 2013.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/achmad-bintoro_terbaru2_20150811_183947.jpg)