Krisis Air
Ambil Air di Posko Bayar Rp 50 per Liter, Warga Pilih Antre yang Gratis
Tandon kapasitas 1.200 liter terisi air penuh tapi tak ada warga terlihat memanfaatkan air bantuan pemerintah tersebut.
Penulis: tribunkaltim |
Laporan wartawan Tribun Kaltim, Muhammad Afridho Septian dan Cornel Dimas Satrio
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Penetapan status darurat air di Kota Balikpapan disertai pendirian posko air di beberapa kelurahan tampaknya kurang mendapat respon dari masyarakat.
Tandon kapasitas 1.200 liter terisi air penuh tapi tak ada warga terlihat memanfaatkan air bantuan pemerintah tersebut.
Pantauan Tribun Kaltim di posko air, wilayah Balikpapan Barat, Kamis (17/3/2016) mulai pukul 11.00 sampai 15.00 Wita tak nampak warga mendatangi lokasi posko air.
"Ya seperti ini, ada tapi tidak banyak. Hanya satu dua aja yang ambil biasa sore dan kadang malam," kata Lurah Baru Tengah Amiruddin.
Dikemukakan, sejak Sabtu dibuka posko air hanya hari pertama yang ramai, selanjutnya sepi peminat.
Pihak swasta dan PMI memberikan bantuan air gratis, sehingga posko yang memberlakukan tarif Rp 50 per liter tidak didatangi. Warga memilih mengambil air gratis, meski antre.
Baca: Warga Terpaksa Manfaatkan Genangan Air
Walaupun begitu menurut Amiruddin pihaknya tetap memantau dan memastikan pasokan air tandon terisi penuh.
Oci, seorang warga mengaku tak mengambil air di posko lantaran dikenakan tarif Rp 50 per liter. Ia keberatan mengeluarkan uang untuk mendapatkan air.
Menurutnya ada yang menyediakan air gratis di tempat lain, akibatnya posko air di kelurahan sepi peminat.
"Di dekat Petrosea ada sumur, warga juga sering ambil di situ karena nggak bayar. Kalau yang di posko-posko kelurahan kan sudah antre malah disuruh bayar. Mending di sumur," ucapnya.
Sudah hampir satu bulan air PDAM tak mengalir. Oci kecewa dengan pelayanan PDAM yang tak konsisten mendistribusikan air. Pasalnya tempat tinggalnya yang berada di bukit kerap dijadikan pembenaraan PDAM terkait sulitnya penyaluran air.
Ia berharap pemerintah segera bertindak menuntaskan permasalahan air, yang menurutnya tak pernah selesaikan sejak bertahun-tahun.
"Tiap tahun pelanggan PDAM pasti bertambah, tapi pelayanannya tetap tidak berubah, selalu aja ada mati air. Coba di setiap itu disediakan sumur, pasti warga tidak kesulitan," kata perempuan berambut pendek itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/antre-air_20160318_090313.jpg)