Opini

Habitus Kepemimpinan Transformatif, Menunggu Pemimpin yang tak Sekadar Pencitraan

Habitus kepemimpinan transformatif dengan ciri komunikasi politik terbuka, diskursif, dan kerja konkret di lapangan masih belum terbangun kuat.

Editor: Amalia Husnul A
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Meilia Ilmi siswa kelas V SDN Sumber Rejo II menangisi Walikota Surabaya, Tri Rismaharini saat berkunjung ke sekolah, Kamis (11/8/2016). Murid SD tersebut tak rela Walikota Surabaya pergi dari Surabaya untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta. Risma adalah salah satu pemimpin yang membangun habitus kepemimpinan transformatif. 

Habitus kepemimpinan transformatif merupakan praktik ideal dari interaksi dinamis antara kepentingan umum dan konteks struktur yang demokratis.

Dengan begitu, elite kekuasaan dalam habitus kepemimpinan transformatif memilih praktik komunikasi diskursif dengan publik secara transparan dan partisipatif.

Praktik komunikasi diskursif tersebut mengelola konflik secara negosiatif dan inklusif antara konsep kekuasaan dan aspirasi publik.

Interaksi ideal konsep kepentingan publik dengan konteks struktur demokratis menciptakan praktik-praktik kepemimpinan yang bekerja menciptakan perubahan progresif.

BACA JUGA: Flek saat Konsumsi Pil KB Menyusui, Apa yang harus Saya Lakukan, Dok?

Perubahan yang ditandai kondisi yang lebih baik dari berbagai masalah kompleks kebangsaan.

Seperti petani gurem mampu memiliki lahan garapan sendiri, rakyat kecil memiliki pekerjaan, perlindungan pada minoritas, perlindungan pada TKI menguat, dan transportasi publik makin aman dan nyaman.

Sebaliknya elite kekuasaan dalam habitus kepemimpinan pencitraan, praktek turun lapangan seringkali hanya bersifat seremonial, kadang-kadang dan basa-basi.

Praktik politik yang tidak menghidupkan komunikasi diskursif secara intensif antara pemimpin dan rakyat akar rumput. Karena itu, para elite kekuasaan dalam habitus kepemimpinan pencitraan seringkali melahirkan kebijakan hipokrit.

Internalisasi

BACA JUGA: Malu Beli Kondom, Dua Mahasiswa Berhubungan Intim Pakai Kresek, Ini yang Terjadi. . .

Masalah bangsa yang makin kompleks dan fenomena kebijakan pemerintahan pusat dan daerah yang tidak sehati dengan aspirasi rakyat merupakan imbas dari elite kekuasaan yang memupuk habitus kepemimpinan pencitraan.

Sedangkan habitus kepemimpinan transformatif pada kenyataannya belum cukup kuat terbangun di republik. Perubahan progresif yang diharapkan oleh rakyat masih berada di jalan terjal.

Kecuali para pemimpin nasional dan daerah tergerak secara kolektif menanggalkan habitus kepemimpinan pencitraan dan membangun habitus kepemimpinan transformatif.

Proses tersebut tidak mustahil apabila para elite kekuasaan yang telah membangun habitus kepemimpinan transformatif secara aktif melakukan internalisasi yaitu proses memengaruhi lingkungan politik untuk mempraktikkan kepemimpinan transformatif yang berbasis pada nilai dan prinsip demokrasi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

Merdeka, tapi Masih Antre Beras

 
© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved