Opini
Habitus Kepemimpinan Transformatif, Menunggu Pemimpin yang tak Sekadar Pencitraan
Habitus kepemimpinan transformatif dengan ciri komunikasi politik terbuka, diskursif, dan kerja konkret di lapangan masih belum terbangun kuat.
Sebagian elite kekuasaan dalam pemerintahan, terutama di tingkat daerah, sebenarnya telah membangun habitus kepemimpinan transformatif.
BACA JUGA: Pupuk Indonesia Pilih Balikpapan jadi Kota Percontohan Pengolahan Pupuk Organik di Indonesia
Sebut saja beberapa di antaranya Wali Kota Tri Rismaharini di Kota Surabaya, Jawa Timur; Bupati Bojonegoro, Kang Yoto; atau seperti Ridwan Kamil, Walikota Bandung.
Pada konsistensi para elite kekuasaan tersebut disematkan harapan proses internalisasi habitus kepemimpinan transformatif. Ada dua arah internalisasi habitus kepemimpinan transformatif.
Pertama, internalisasi spesifik yang memengaruhi jajaran kepemimpinan di dalam wilayah otoritas politik seperti wali kota terhadap pejabat birokrasi, camat, dan lurah.
Internalisasi spesifik ditandai kemauan dan intensitas pemimpin turun ke lapangan untuk mendorong kepemimpinan di bawahnya menjalankan tugas kepemerintahan sesuai mandat konstitusi dan demokrasi.
Kedua, internalisasi umum yang ditujukan kepada semua pemimpin dalam struktur kekuasaan daerah dan nasional. Internalisasi umum cenderung lebih sulit dilakukan karena pluralitas kepentingan dan jejaring politik lebih kompleks.
BACA JUGA: Cegah Kebisingan dari Luar Rumah dengan Trik Ini
Kendati demikian, praktik habitus kepemimpinan transformatif yang saat ini mulai mendapatkan dukungan publik luas memiliki pengaruh kuat.
Jika para pemimpin dalam struktur kekuasaan tetap memelihara habitus kepemimpinan pencitraan, mereka akan ditinggalkan oleh publik.
Jejaring elite yang membangun habitus kepemimpinan transformatif merupakan urgensi demokrasi Indonesia agar cita-cita konstitusi dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan untuk bangsa bisa terwujud.
Rakyat Indonesia perlu melakukan evaluasi kritis terhadap para elite politik yang menjadi kandidat pemimpin daerah.
Para kandidat yang telah memiliki jejak rekam sebagai pemimpin yang korup, abai pada aspirasi rakyat, dan enggan berdialog dengan rakyat perlu ditinggalkan.
Dengan begitu, setiap pilkada yang terselenggara di Republik ini bisa dimenangkan oleh para elite politik yang berkomitmen terhadap habitus kepemimpinan transformatif. Wallahua'lam bisshowab. (*)
*****
Baca berita unik, menarik, eksklusif dan lengkap di Harian Pagi TRIBUN KALTIM
Perbarui informasi terkini, klik www.TribunKaltim.co
Dan bergabunglah dengan medsos:
Join BBM Channel - PIN BBM C003408F9, Like fan page Facebook TribunKaltim.co, follow Twitter @tribunkaltim serta tonton video streaming Youtube TribunKaltim