Breaking News
Selasa, 21 April 2026

Opini

Banjir Baru, Baru Banjir

BANJIR Kota Samarinda, kemarin memasuki babakan baru. Jangankan mengurangi 35 titik banjir yang ada.

Editor: Sumarsono
Tribun Kaltim/Nevrianto
Seorang anggota Brimobda Polda Kaltim Detasemen B Pelopor menuntun warga menyebrang dari jalan APT Pranoto ke jalan Harun Nafsi yang dilanda banjir setinggi lutut, Kamis( 22/3/2018). 

Jika informasi ini masih kurang, maka dapat diperkaya dengan data dari BPN Kota Samarinda yang menyatakan bahwa 54.71 persen tanah di Samarinda berjenis Podsolik, tanah dengan tekstur liat, permeabilitas jelek dan mudah larut. Kawasan ini lah yang disebut kawasan ber permeabilitas buruk.

Soal permeabilitas penjelasannya begini. Tanah dan atau batuan adalah media yang memiliki kemampuan bawaan atau alamiah terbatas.

Baca: Jauh-jauh ke Samarinda Tinjau Banjir, Safaruddin: Insya Allah Kalau Terpilih, 3 Tahun Kita Tuntaskan

Semakin jelek permeabilitasnya, semakin lambat air bisa diteruskan oleh media tanah atau batuan baik secara vertikal maupun lateral, sehingga tubuh air akan lebih lama tertahan atau menggenang di atas muka tanah atau batuan, dan dalam debit yang cukup akan menyebabkan banjir.

Ketika banjir benar benar dirasakan sebagai penghambat produktifitas, banyak yang protes, namun masyarakat tidak melakukan apapun, karena ketidaktahuan dan sibuk membersihkan rumahnya.

Bayangkan, pemerintah Kota Samarinda yang miskin anggaran pemeliharaan drainase, masyarakatnya yang tidak paham mengelola limpahan air hujan.

Ketika penambang batu bara liar merambah setiap jengkal tanah Samarinda, termasuk kuburan di kawasan Lempake, masyarakat "ngamuk" dan tidak mendapat solusi apa pun dari pemerintah.

Baca: Suka Wisata ke Luar Negeri, Jangan Lewatkan Paket Menggiurkan dari Silk Air

Ketika mitos sama rendah dijadikan slogan elevasi dan jadi nama taman, maka pemerintah merasa gugur kewajibannya untuk mengelola banjir karena Samarinda, sama rendah dengan Sungai Mahakam, tak mungkin kota lepas dari banjir.

Masyarakat Samarinda cemas, was was karena lama tak ada banjir dan benar benar panik setelah air datang dadakan, maka masyarakat panik ini masih sempat membuat joke baru "Hanyar kah Ikam di Samarinda". (*)  

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved