Tragedi Tumpahan Minyak di Balikpapan
2 Korban Tewas Diduga Sempat Melawan Kobaran Api, Ini Hasil Analisa DVI Polda Kaltim
Sidik jari kedua korban masih dalan kondisi bisa terbaca alat yang mereka bawa. Sehingga diketahui identitas korban.
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani |
Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Muhammad Fachri Ramadhani
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Imam (42) dan Wahyu Gusti (27), korban tewas peristiwa kebakaran di Teluk Balikpapan dikebumikan, Minggu (1/4/2018).
Jasad mereka ditemukan tak lama usai kebakaran terjadi sehari sebelumnya oleh Tim SAR.
Kedua jasad korban tersebut, sebelum dipulangkan ke rumah duka, dilarikan ke Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.
Di ruang mortuary (kamar mayat), dilakukan identifikasi oleh tim DVI Polda Kaltim bersama Inafis Polres Balikpapan terhadap kedua jasad korban.
Dari hasil identifikasi yang menggunakan metode primer DVI, diketahui langsung identitas korban.
Sidik jari kedua korban masih dalan kondisi bisa terbaca alat yang mereka bawa. Sehingga diketahui identitas korban.
"Sidik jari matching. Identitas korban diketahui. Kalau metode primer cukup 1 saja, sudah kuat. Beda dengan metode sekunder, minimal harus 2 unsur," beber Kompol dr. Gusti Gede Dharma, SpF selaku Kasubbid Dokpol Biddokkes Polda Kaltim, Minggu (1/4/2018).
Baca juga:
Mengaku Hendak Mengembalikan Ponsel, Ternyata Pria Ini Punya Modus Terselubung
Gelar Laga Amal Peduli Penderita Kanker Payudara, Begini Harapan Viking Girl
Inilah Hasil Analisa Sampel Minyak yang Tercecer di Perairan Teluk Balikpapan
Sukses Pecahkan Rekor 'Awet' Torehan Michael Jordan, Begini Ungkapan Perasaan LeBron James
Diuraikannya, unsur dari metode primer di antaranya analisis sidik jari, analisis DNA, dan analisis perbandingan dental. Sementara metode sekunder, seperti properti, medical record, dan foto.
Saat ditanya penyebab kematian, Gusti mengungkapkan berdasarkan pemeriksaan luar yang dilakukan, dugaan penyebab kematian korban lantaran kekurangan oksigen.
Gusti menjabarkan ciri-ciri yang didapat di jasad korban, seperti lebam berwarna pinky red (merah muda), kuku berwarna kebiruan, hingga luka bakar berat di sekujur tubuh.
Secara sederhana dapat disimpulkan, sebelum ajalnya tiba, kedua korban sempat berupaya bertahan hidup di tengah pusaran kobaran api.
Mereka saling berebut oksigen dengan api, kemudian kalah lalu menemui ajalnya.
"Rambut korban gosong keduanya. Wajahnya terbakar. Kekurangan oksigen itu cepat sekali, gak sampau 3 menit bisa meninggal. Apalagi mereka di tengah kobaran api. Api kan juga memerlukan oksigen untuk menyala," jelasnya.
Namun saat ditanya lebih mendalam terkait dugaan cara kematian korban pada insiden tersebut, pihaknya mengatakan tak bisa mengetahui persis bagaimana akhirnya korban itu meninggal.
Apakah terlebih dulu meninggal di perahu, atau korban sempat menyeburkan diri ke laut, atau mereka mati dalam sekejap terkena ledakan, hal itu masih menjadi misteri.
"Kita tidak lakukan otopsi, kemarin. Hanya pemeriksaan luar," tuturnya.
Bila otopsi dilakukan, pihaknya bisa mengetahui apakah korban di dalam air masih hidup atau meninggal.
"Saat hidup masuk air, dia akan menghirup cairan. Di rongga saluran nafas, pasti ada tersisa. Bila mati tenggelam, biasanya kita akan menemukan diatom, makhluk yang biasa di air," tuturnya. (*)