Minggu, 12 April 2026

Opini

Ikhtiar Mendamaikan Perang Dagang Dunia di IMF-WBG Annual Meeting Indonesia 2018

Perang, apapun jenisnya pasti berdampak buruk, termasuk perang dagang yang akan menggoyang perekonomian dan keuangan secara global dan masif.

Istimewa
Bambang Iswanto 

Menyambut IMF-WBG Annual Meeting Indonesia 2018

IKHTIAR MENDAMAIKAN PERANG DAGANG DUNIA

Oleh Bambang Iswanto*)

Hajat akbar pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Gubernur World Bank dan IMF bertajuk “IMF-WBG ANNUAL MEETINGS 2018” akan diselenggarakan di Bali pada 12-14 Oktober mendatang. Keakbaran peristiwa penting dalam dunia ekonomi dan keungan ini bisa dideskripsikan dengan jumlah peserta yang meliputi hampir seluruh negara yakni 189 negara.

Hanya empat negara yang tidak hadir dalam event ini. Dalam rilisnya, panitia menyebutkan peserta yang berpartisipasi kurang lebih 15 ribu orang yang terdiri dari sekitar 4 ribu utusan resmi undangan,1 .000 pengamat, 1.500 staf IMF-World Bank, 500 CSO, 5.000 an investor, 1.000 awak media, dll. Seluruh pemangku kepentingan di bidang keuangan akan hadir dan mendiskusikan serta melahirkan kebijakan-kebijakan ekonomi dan keuangan global.

Indonesia beruntung mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah setelah pengajuan proposal bidding. Dua negara lain yang menjadi pesaing Indonesia yaitu Mesir dan Senegal gugur, IMF dan World Bank menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan tahunan akbar ini.

Perlu diketahui, kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi Indonesia akan datang 567 tahun lagi jika seluruh peserta anggota IMF dan World Bank Grup yang berjumlah 189 negara digilir secara merata. Aturan pelaksanaan yang selama ini diterapkan adalah dua tahun berturut-turut Amerika Serikat menjadi tuan rumah, tahun ketiga setelah Amerika Serikat adalah negara lain yang mengajukan proposal dan lulus kelayakan.

Tidak mudah untuk bisa menjadi tuan rumah, perlu gelontoran dana besar untuk menjadikan negara benar-benar siap. Peru sebagai host sebelum Indonesia, telah menggelontorkan dana lebih dari 1 triliun rupiah. Indonesia tahu 2018 mengalokasikan dana lebih dari 850 milyar rupiah. Sebuah angka yang fantastis untuk sebuah meetings event. Sebandingkah output yang didapat dari anggaran yang besar tersebut atau Indonesia hanya memikul beban anggaran tanpa merasakan manfaat?

Manfaa Ekonomi

Saya yakin bahwa pemerintah telah berhitung matang dengan anggaran sebesar ini. Tidak mungkin dalam situasi perekonomian yang belum nyaman, Indonesia mau merogoh kocek yang cukup dalam. Dalam angka-angka peserta yang diperkirakan hadir, sebenarnya bisa dirasakan manfaat ekonomi bagi Indonesia.

Dengan kedatangan 20.000 peserta, selama kurang lebih tujuh hari di Indonesia, bisa diestimasi ada total spending mencapai lebih dari 100 juta USD peserta “menghambur” uang di Indonesia, ini belum termasuk torusm dan corporate events. Hal ini dipastikan akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan potensi penerimaan devisa.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati alam IMF-WBG Annual Meeting 2017 di Washington DC, Amerika Serikat
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati alam IMF-WBG Annual Meeting 2017 di Washington DC, Amerika Serikat (Twitter)

Peru pernah merasakan manfaat ekonomis menjadi tuan rumah pada tahun 2015. Khusus dari sektor industri travel dan turisme saja, mereka berhasil meningkatkan GDP dari angka 56,95 di tahun 2014 dan meningkat menjadi 66,2% di tahun 2016 setelah penyelenggaran AM 2015. Dari sektor lapangan kerja juga tereskalasi, pada 2014 total pekerja pada sektor travel dan turisme melibatkan 1,247 juta orang menjadi 1,332 juta orang. Terjadi peningkatan 6,82 persen.

Manfaat Intangible

Selain berbicara nominal angka keuntungan ekonomis, hal lain yang menjadi hak tuan rumah adalah Indonesia mempromosikan dirinya dirinya kepada dunia. Dengan  pertemuan ini Indonesia harusnya lebih dikenal kekuatan ekonominya dan  pariwisatanya yang tidak dimiliki oleh negara lain.

Indonesia juga wajib memanfaatkan peluang memperkenalkan kemajuan Indonesia dalam pembangunan infra struktur, stabilitas keuangan, penanganan inequality, pembangunan sumber daya manusia dan keuangan inklusif tidak kalah dengan negara-negara lain.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved