Opini
Ikhtiar Mendamaikan Perang Dagang Dunia di IMF-WBG Annual Meeting Indonesia 2018
Perang, apapun jenisnya pasti berdampak buruk, termasuk perang dagang yang akan menggoyang perekonomian dan keuangan secara global dan masif.
Ajang ini juga harus dimaksimalkan untuk mengenalkan produk-produk unggulan Indonesai kepada masyarakat dunia serta mengenalkan peluang investasi dan usaha yang terbuka di Indonesia. AM 2018 menjadi showcaing Ekonomi Indonesia. Di sinilah momentum Indonesia menunjukkan leadership Indonesia. Indonesia pantas menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang menjadi anggota forum G20.
Dalam kegiatan ini, dirancang kurang lebih 2.000 pertemuan (simultan). Ini jumlah yang memecahkan rekor dunia untuk pertemuan dari sektor keuang dan perekonomian. Di dalamnya dibahas isu-isu penting dan terkini perkembangan ekonomi dan keuangan meliputi outlook ekonomi global, stabilitas keuangan global, kemiskinan, pembangunan, lapangan kerja berskala global. Perubahan iklim dan isu global lainnya yang mempengaruhi ekonomi dan keuangan dunia juga akan dibahas.
Juru Damai Perang Dunia
Current issue yang paling penting adalah perang dagang antara Amerika Serikat dengan negara lain. Hal ini pasti tidak terelakkan lagi masuk dalam pembahasan stabilitas ekonomi dan keuangan global sebagai agenda utama pertemuan.
Saat ini Amerika Serikat memainkan kebijakan ekonomi yang mengancam stabilitas ekonomi dan keuangan global dengan menggali kapak perang dagang. Tampaknya, latar belakang dari kebijakan ini ialah mengembalikan Amerika Serikat sebagai negara super power dalam segala bidang termasuk bidang ekonomi. Tidak boleh ada kompetitor yang menghalangi maksud keinginan mengembalikan sejarah kejayaan Amerika Serikat.
Dalam kebijakan dagangnya, Amerika Serikat menggunakan jurus mabuk dengan memutuskan hubungan dagang dengan negara-negara yang memposisikan Amerika Serikat dalam neraca defisit. Tiongkok dan Jerman adalah contoh negara besar yang diajak perang oleh Amerika Serikat. Ternyata, bukan saja negara besar seperti Tiongkok dan Jerman saja yang diajak berperang dan diancam talak hubungan dagang oleh Amerika Serikat, negara-negara seperti Indonesia pun masuk dalam radar perang dagang Amerika Serikat.
Amerika tidak mau mengimpor beberap komoditas dari Indonesia yang tidak menguntungkan neraca perdagangan AS. Negara-negara lain yang diajak perang dagang sepertinya sudah siap meladeni perang dagang ini.
Hal ini tentu saja berdampak buruk bagi stabilitas keuangan global. Istilah perang tentu digunakan untuk menerjemahkan situasi perlawanan habis-habisan antara dua pihak yang bermusuhan, dalam hal ini adalah lawan ekonomi. Perang, apapun jenisnya pasti berdampak buruk, termasuk perang dagang yang akan menggoyang perekonomian dan keuangan secara global dan masif.
Isu yang sedang bergulir ini momentumnya kemungkinan besar masih beririsan dengan Annual Meetings 2018 di Indonesia. Indonesia memiliki kesempatan untuk menciptakan sejarah menjadi penengah dan juru damai bagi perang dagang seluruh dunia.
Jika berhasil, maka Indonesia tercatat dalam sejarah sebagai negara yang melahirkan perdamaian di bidang ekonomi dan akan menjadi catatan sejarah monumental. Bukan tidak mungkin nanti akan lahir nama-nama kesepakatan yang akan selalu dikenang dalam sejarah dunia keuangan dan ekonomi seperti “Kesepakatan Bali 2018” atau apa pun namanya, di situ ada nama Indonesia.
Semoga semua manfaat itu bisa tercapai, sebanding dengan ratusan milyar yang telah dikeluarkan.[]
*) Penulis Adalah Doktor Ekonomi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Samarinda
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/bambang-iswanto_20180717_163011.jpg)