Jumat, 17 April 2026

Berikut 4 Kecelakaan Kereta Terparah dan Memilukan di Indonesia, Ada Berulang di Tempat yang Sama

Kecelakaan kereta api kembali terjadi di lintasan Cilebut - Bogor, Minggu (13/3/2019) pagi. Akibat kejadian tersebut, sebanyak 17 orang luka-luka.

Penulis: Doan Pardede |
(Jimmy WP)
101 korban tewas dan 238 orang luka berat yang tercatat kibat terjadi kecelakaan kereta api terbesar dan paling tragis dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia, Senin pagi ( 19/10/1987 ) pukul 07.10 WIB di kampung Pondok Betung, RW IX, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Tabrakan antara KA patas no.220 dari Tanah Abang menuju Merak dengan LA no. 225 dari Rangkasbitung menuju Tanah Abang. 

Peristiwa tragis ini terjadi pada 25 Desember 1944 di mana 200 orang tewas dan 250 lainnya luka-luka karena kereta api kehilangan rem.

Jalur rel lembah Anai, Sumatera Barat, memang cukup terjal sehingga rawan kecelakaan.

Tak berapa lama kemudian tepatnya pada 23 Maret 1945, kecelakaan kembali terjadi di lokasi yang sama, tetapi tak diketahui jumlah korbannya.

Sebagaimana dilaporkan infosumbar.net, korban meninggal dua kecelakaan itu dikuburkan di satu lubang yang sama.

Korban kecelakaan pertama dikuburkan sedalam lima meter, sedangkan yang kedua di galian dua meter di atasnya.

Beberapa jenazah dikuburkan dalam kondisi tidak utuh.

Sebuah prasasti yang tak terawat ditemukan di Kelurahan Balai-Balai Padang Panjang Barat beberapa puluh tahun kemudian.

Prasasti itu menggunakan ejaan lama yang aneh dan diyakini merupakan batu nisan korban kecelakaan KA di Lembah Anai.

Beberapa orang menganggap tugu prasasti itu mengeluarkan aura mistis.

2. Tragedi Bintaro

Kondisi kereta api setelah mengalami kecelakaan di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada 19 Oktober 1987.
Kondisi kereta api setelah mengalami kecelakaan di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada 19 Oktober 1987. (Print.Kompas.com)

Kondisi kereta api setelah mengalami kecelakaan di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada 19 Oktober 1987.

Kecelakaan yang terjadi pada 19 Oktober 1987 ini memakan 134 korban jiwa.

KA Cepat (KA 220) jurusan Tanahabang-Merak bertabrakan dengan KA lokal 225 jurusan Rangkasbitung-Tanahabang di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang.

Seharusnya dua kereta api itu bersilang di stasiun Sudimara, tetapi karena KA 225 terlambat, maka persilangan terpaksa dipindahkan ke stasiun Kebayoran.

101 korban tewas dan 238 orang luka berat yang tercatat kibat terjadi kecelakaan kereta api terbesar dan paling tragis dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia, Senin pagi ( 19/10/1987 ) pukul 07.10 WIB di kampung Pondok Betung, RW IX, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Tabrakan antara KA patas no.220 dari Tanah Abang menuju Merak dengan LA no. 225 dari Rangkasbitung menuju Tanah Abang.
101 korban tewas dan 238 orang luka berat yang tercatat kibat terjadi kecelakaan kereta api terbesar dan paling tragis dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia, Senin pagi ( 19/10/1987 ) pukul 07.10 WIB di kampung Pondok Betung, RW IX, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Tabrakan antara KA patas no.220 dari Tanah Abang menuju Merak dengan LA no. 225 dari Rangkasbitung menuju Tanah Abang. ((Jimmy WP))

Oleh karena ada perpindahan persilangan itu, maka tabrakan tak terhindarkan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved