Polemik Pabrik Semen
7 Fakta tentang Pabrik Semen di Kaltim yang Kini Didemo, Potensi 100 Tahun hingga Alasan Penolakan
Pembangunan pabrik di semen di Kaltim (Kalimantan Timur) kembali mendapat penolakan. Dalam aksinya, mahasiswa menyampaikan 6 tuntutan
Penulis: Doan Pardede | Editor: Januar Alamijaya
Dikatakan, jumlah penduduk Kaltim (2017) 3,575 juta jiwa. Kebutuhan semennya mencapai 1,018 juta ton. Dan untuk eskpor juga diasumsikan sama, yakni 1,018 juta ton. Kebutuhan semen penduduk diasumsikan 285 kg per kapita.
Dengan asumsi pertumbuhan peduduk rerata 3 persen per tahun, maka kebutuhan semen untuk 50 tahun ke depan (2067) adalah 8,932 juta ton.
Pada 100 tahun lagi, saat jumlah penduduk Kaltim 66,7 juta jiwa, maka kebutuhan domestik dan ekspor Kaltim diproyeksi mencapai 1,237 miliar ton semen.
"Dengan kebutuhan produksi semen sebesar itu hingga 100 tahun, maka luasan lahan quarry yang dimanfaatkan cukup 1.435 ha saja," ungkap doktor prtama di Indonesia bidang geomorfologi karst itu.
Baca juga :
Karst Masuk dalam Tiga Potensi Investasi Kaltim yang akan Ditawarkan kepada Asing di 2018
Tolak Pabrik di Karst, 3 Pemuda Mapala Lakukan Aksi Semen Kaki di Depan Gubernuran
4. Dikhawatirkan merusak lingkungan dan mata pencaharian nelayan
Sebelumnya, telah muncul kekhawatiran dari beberapa lembaga swadaya masyarakat seperti yang tergabung di dalam Aliansi Masyarakat Peduli Karst (AMPK) Kaltim.
Dalam wawancara setahun lalu (16/5/2017), AMPK menyebutkan, mengacu pada Pergub Nomor 67/2012 ada sekitar 190 ribu lahan di eksostem karst Sangkulirang Mangkalihat yang terancam oleh penambangan pabrik semen.
AMPK khawatir jika itu dilakukan maka akan merusak ekologi kawasan karst. Mereka menanggapi keluarnya izin untuk industri semen di Biduk-biduk, Kabupaten Berau. Masyarakat setempat menolak rencana tersebut karena ikhawatirkan akan merusak lingkungan dan mata pencaharian mereka sebagai nelayan.
Daerah Biduk-biduk selama ini juga dikenal sebagai daerah wisata berbasis karst-bahari. Keindahan Biduk-biduk, Teluk Sulaiman, Teluk Sumbang hingga Tanjung Mangkalihat sangat elok. Masyarakat setempat bahkan sudah membangun tempat wisata di pinggir pantai Teluk Sumbang.
Di kawasan itu Gubernur Kaltim Awang Faroek (terdahulu) telah mendukung rencana pendirian dua pabrik semen. Yakni Semen Bosowa di Teluk Sulaiman, dan Semen Kaltim di Teluk Sulaima untuk tambang sekaligus lokasi pabrik.
Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak saat itu, telah menyatakan sikap mendukung investasi tersebut, dengan pertimbangan bahwa lokasi investasi yang diincar kedua investor tidak tergolong dalam kawasan karst yang dilindungi sesuai Pergub 67 Tahun 2012.
Namun melalui kajian terbaru yang dilakukan tim ahli Kelompok Studi Karst Sangkulirang Mangkalihat, akan ada perubahan pemetaan mana yang boleh dan tidak boleh dimanfaatkan.
Mana yang dilindungi dan tidak. Kajian ini dianggap lebih komprehensif dan detil karena dilakukan dari semua aspek dengan skala lebih besar, yakni 1:50.000.
Karena itu, para pihak menyetujui dan mengapresiasi hasil kajian tersebut.
Para pihak dimaksud antara lain dunia usaha, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
5. Mahasiswa semen kali di depan kantor Gubernur Kaltim
Tiga perwakilan dari Mapala se-Kaltim, lakukan aksi semen kaki di depan kantor Gubernur Kaltim, Rabu (28/3/2018) lalu.
Aksi dilakukan sebagai bentuk penolakan akan masuknya pabrik semen di kawasan Karst, hingga Biduk-Biduk, Berau, Kaltim.
Satu dari tiga perwakilan itu, yakni Abe, mahasiswa Pencinta Alam dari kampus IAIN, Samarinda.
"Sudah disemen sejak jam 12.00 WITA tadi. Tetap akan seperti ini, sampai malam hari. Kemungkinan, aksi penyemenan kaki dilakukan sekitar 6 jam," ucapnya.
Selain lakukan semen kaki, di dermaga depan kantor Gubernur tersebut juga dipajang beberapa kreasi hasil foto kamera yang menunjukkan keindahan alam dari Karst, hingga kehidupan nelayan dan masyarakat di kawasan Biduk-Biduk.

Koordinator aksi aksi semen kaki, Sutrisno, ikut bersuara terkait agenda hari itu saat ditemui di lokasi.
"Silakan dilihat sendiri, bagaimana keindahan alam di Karst, serta kawasan Biduk-Biduk. Apakah ini ciri pemerintah yang merakyat, jika keindahan alam harus diganti dengan rupiah besar dari pabrik semen ?," ucapnya.
Apalagi, disebut Sutrisno, riwayat ekonomi tambang sudah lumrah diketahui, tak memberikan dampak menyejahterakan daerah di sekitarnya.
"Apakah ada riwayat daerah sejahtera ketika ada tambang masuk ke daerah itu? Lihat saja apa yang terjadi di Kukar, lalu Desa Mulawarman yang penduduknya tergusur karena hadirnya tambang. Belum lagi kondisi Samarinda yang mendapatkan banjir semakin parah karena banyaknya izin tambang di ibukota. Pemerintah seperti tak belajar dari apa yang sudah terjadi," ucapnya.
Untuk kawasan Karst sendiri, Mapala se Kaltim, hingga kini belum dapatkan kejelasan jelas apakah pabrik-pabrik semen ini sudah disetujui atau tidak oleh pemerintah.
"Sudah lebih setahun sejak kami lakukan aksi penolakan pabrik semen, hingga kini sampai dimana kejelasan pabrik semen itu, belum ada yang disampaikan ke publik," ucap Alfin, Koordinator Aksi lainnya.
6. Karst jadi salah satu potensi investasi yang ditawarkan ke asing tahun 2018
Coastal Road Balikpapan, karst untuk bahan baku semen, dan Jalan Tol Samarinda-Bontang jadi tiga potensi investasi yang akan ditawarkan Kaltim kepada investor asing, di 2018 ini.
Tiga potensi tersebut masuk dalam Brownbook, yang disusun Regional Investor Relation Unit (RIRU) Kaltim.
Sekadar informasi, Kaltim masuk dalam pilot projects RIRU.
Di Indonesia, ada lima provinsi yang masuk dalam pilot projects tersebut.
Nantinya, potensi ini akan ditawarkan ke investor luar negeri, via jaringan Indonesia yang ada di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di luar negeri.
Kelembagaan RIRU sendiri diatur melalui Keputusan Gubernur. Unit ini, dipimpin langsung oleh Gubernur, dan wakilnya diisi oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
"Anggotanya berasal dari semua OPD (organisasi perangkat daerah), termasuk juga Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (BI), Kaltim," kata Christian, Anggota Tim Pengembangan Ekonomi Perwakilan BI Kaltim, Sabtu (31/3/2018).
Di dalam Brownbook disebutkan, total investasi untuk Tol Samarinda-Bontang sebesar Rp 10,7 triliun. Proyek ini ditawarkan dengan skema publik privat partnership (PPP).
Sementara, potensi investasi kedua yakni pabrik semen di Berau (Berau Cement Factory), dengan nilai investasi Rp 5,1 triliun.
Di dalam Brownbook juga disebutkan, cadangan bahan baku semen yang ditawarkan mencapai 200 tahun. Sementara, skema investasi yang ditawarkan yakni joint venture.
Terakhir, potensi investasi yang ingin dijual ke luar negeri adalah Coastal Road Balikpapan. Dengan total investasi sebesar Rp 4,9 triliun.
"Nah, tiga potensi ini kita tawarkan kepada setiap investor asing yang datang ke Kaltim. Terutama mereka yang datang belum membawa tema investasi apa yang diinginkan," kata Christian.
(Tribunkaltim.co/Doan Pardede)
Follow Instagram Tribunkaltim.co di bawah ini:
Subscribe Youtube Channel Tribunkaltim.co di bawah ini: