Otomotif
Rencana Penghapusan Bahan Bakar Premium dan Pertalite di Jakarta, Begini Sebabnya
Andono Warih juga sempat menyatakan bahwa pembatasan BBM tidak ramah lingkungan tersebut bukan cara satu-satunya mengembalikan kualitas udara.
Pada SPBU Kompak ini, terdapat fasilitas penyimpanan masing-masing 20 KL.
Penyimpanan ini untuk produk tiga jenis bahan bakar minyak.
Yakni jenis premium, solar, dan pertalite.
Adanya penambahan SPBU Kompak di daerah Long Bagun, Mahulu tentu saja sangat membantu perekonomian masyarakat.
Sebagian besar warga di Long Bagun yang dominan bermata pencaharian di bidang pertanian.
Ada juga yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil dan bekerja di area perkebunan sawit.
Masyarakat tidak lagi merogoh kocek sebanyak Rp 8.000 per liter lebih untuk solar dan premium.
Sekarang, masyarakat dapat menikmati harga premium dan solar dengan harga yang sama yaitu premium Rp 6.450 per liter dan solar Rp. 5.150 per liter.
Demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan BBM 1120 jam perjalananan menggunakan kapal ditempuh untuk mengangkut BBM dari titik suplai Terminal BBM Samarinda atau sekitar 541 kilometer hingga sampai ke SPBU.
Penyaluran dilakukan lebih kurang 10 hari sekali, tergantung dengan kondisi Sungai Mahakam.
Resa menambahkan, ada hambatan pada saat distribusi BBM ke SPBU Kompak ini yaitu Kondisi air sungai Mahakam yang pasang-surut.
Di musim kemarau kapal tidak bisa masuk sampai ke lokasi pembongkaran ( di Long Bagun) sehingga harus di angkut menggunakan mobil strada dari lokasi kapal tambat menuju ke SPBU.
"Namun, hal ini tentunya tidak menjadi alasan bagi Pertamina untuk terus mendistribusikan BBM ke lokasi,” katanya. (tribunkaltim.co)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tanggapan Pengendara Ojol Bila Premium dan Pertalite Dihapus."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/polusi-jakarta.jpg)