Pencarian Murid SMPN 1 Korban Susur Sungai dalam Acara Pramuka, Menyisir Sampai 7 Kilometer
Kegiatan Pramuka dengan tema susur sungai, mengalami petaka. Para Pramuka ini adalah para pelajar di SMPN 1 Turi Sleman.
TRIBUNKALTIM.CO, SLEMAN - Kegiatan Pramuka yang tidak diprediksi mengalami kendala akhirnya berujung maut.
Kegiatan Pramuka dengan tema susur sungai, mengalami petaka, digulung banjir yang tiba-tiba datang.
Para Pramuka ini adalah para pelajar di SMPN 1 Turi Sleman.
Upaya pencarian murid SMPN 1 Turi, Sleman, terus dilakukan para relawan.
Salah satunya dengan menyisir aliran Sungai Sempor.
Dari pantauan Tribun Jogja di Jembatan Sempor, Jalan Magelang kilometer 11,7, puluhan relawan menyusuri aliran sungai untuk mencari siswa yang masih belum ditemukan.
Baca Juga:
• Wagub Kaltim Beberkan Ibu Kota Negara Tidak akan Bermanfaat Jika Warganya Tidak Dibekali Hal Ini
• Ibu Kota Indonesia di Kaltim, Viral Apartemen Borneo Bay City, Begini Tanggapan Kementerian ATR
• Tatap Ibu Kota Baru, Borneo Bay City Plaza Balikpapan Bakal Bangun Taman Besar, Target Rampung 2021
Mbah Ireng, relawan Guruh Merapi saat ditemui dilokasi menuturkan, meski cuaca malam kemarin masih hujan, upaya pencarian terus dilakukan dengan harapan para siswa yang masih hilang segera bisa ditemukan.
"Untuk medan pencarian memang cukup menyulitkan, karena selain aliran masih deras kedalaman juga, banyak batu. Ini tim relawan kami di sini menyusur dengan jarak kira kira 7 kilometer dari lokasi kejadian," terang Mbah Ireng.
Baca Juga:
• Usai Menjalankan Misi Ini, 3 Pesawat Tempur F-16 Tinggalkan Kota Balikpapan Kalimantan Timur
• Agenda Plaza Balikpapan Jumat 21 Februari, Choco and Dessert Market, Lezatnya Kuliner Coklat Dessert
• Balikpapan Penyangga Ibu Kota Negara, Pengusaha Malaysia Mulai Lirik Investasi Pertanian Perikanan
• Menara di Belakang Perumahan Jokowi Pesona Bukit Batuah Balikpapan Nyaris Ambruk, Warga Khawatir
Dari pengamatan dari atas jembatan ini, terlihat aliran sungai memang masih deras. Hingga sekitar pukul 20.30, upaya pencarian masih terus dilakukan di bawah jembatan ini.
Bupati Sleman, Sri Purnomo, yang meninjau perkembangan pencarian korban, menyatakan keprihatinan. "Besok (hari ini), kita ke rumah korban yang meninggal dunia," ucapnya.
Kepala Bidang Humas Polda DIY, Kombes Pol Yuliyanto meyebutkan, hingga pukul 19.00 WIB korban tewas berjumlah lima orang. "Jadi dalam peristiwa ini data sementara yang masuk korban meninggal 5 siswa," kata Yuliyanto, kemarin.
Baca Juga:
• 23 Februari Konser Youtuber Alzera Geny Netriana di Plaza Balikpapan, Nikmati Lantunan Musik Merdu
• Bekas Teroris Bisa Ikut Komcad, Juru Bicara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto Beri Klarifikasi
• Ramalan Zodiak Hari Ini Jumat 21 Februari 2020, Taurus Ekspresikan Perasaan, Cancer Tenggelam Emosi
Polisi sudah mengerahkan tim SAR dari Sabhara Polda DIY, polres, polsek, polairud.
Namun beberapa saat kemudian korban tewas bertambah satu orang. "Satu orang ditemukan, jadi total yang ditemukan enam orang (tewas)," kata Kepala Basarnas DIY, Wahyu Efendi.

Wahyu mengatakan korban keenam ditemukan pukul 19.40, tersangkut di bagian jembatan. "Pukul 19.40 ditemukan tersangkut di jembatan lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian," ujarnya.
Dari lima korban meninggal dunia tersebut empat orang diketahui identitasnya, sedangkan satu korban belum diketahui identitasnya.
Baca Juga:
• Bos Fintech Greensill dan Eks Perdana Menteri Tony Blair Disebut akan Investasi di Ibu Kota Baru
• Ramalan Zodiak Hari Ini Kamis 20 Februari 2020, Virgo Dapat Banyak Pujian, Pisces Korbankan Perasaan
• Tangis Aming Pecah Ingat Bisikan BCL tentang Ashraf Sinclair di Rumah Duka, Ibunda Noah Minta Dijaga
• Agenda di Plaza Balikpapan Akhir Februari 2020, Konser Alzera Geny Netriana Sampai Kelas Memasak
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan mengatakan, pencarian korban terkendala lokasi yang gelap.
"Kondisi sudah malam dan gelap, kami harus menggunakan lampu penerangan untuk mencari para korban lainnya," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Joko Supriyanto.
Baca Juga:
• Menara Sutet di Pesona Bukit Batuah Balikpapan Hampir Roboh, Diduga Tanah Tidak Kuat Mengikat
• 22 Paket Sabu Gagal Edar di Bontang, Polisi Tangkap Pengedar di Loktuan Kalimantan Timur
• Eks Bupati Bulungan Anang Dachlan Batal Bertarung Pilgub Kaltara di Jalur Perseorangan Alasannya Ini
• BREAKING NEWS Tertimpa Pohon, Ruang Belajar SMPN 1 Sangkulirang Kutim Kalimantan Timur Ini Hancur
Selain kondisi gelap, proses evakuasi juga terkendala kondisi hujan masih terus mengguyur lokasi kejadian. "Kami membutuhkan lampu sorot untuk penerangan di area DAM Sungai Sempor," katanya.
Dari informasi yang dihimpun Tribun Jogja, sekitar pukul 22.15 proses pencarian difokuskan melalui darat.
Sedangkan penyisiran sungai dihentikan untuk sementara dan dilanjutkan hari ini, dengan memperluas zona pencarian sejauh 3 kilometer.
Datang Gulungan Air Secara Tiba-tiba
Bencana dialami para pelajar yang tergabung dalam kegiatan Pramuka di Sleman.
Niat untuk jelajah alam, mengenal medan susur sungai, namun bernasib tragis.
Siswa-siswi dalam kegiatan Pramuka harus mendapat kisah pahit, dihantam banjir secara tiba-tiba yang berada di sungai. Dan kisah bambu akhirnya jadi media penyelamat.
Mendung menjadi pemandangan jamak ketika 256 murid SMPN 1 Turi melaksanakan Pramuka dengan kegiatan Susur Sungai Sempor di wilayah Dukuh, RT.03/RW.10, Ngentak Dukuh, Donokerto, Turi, Sleman, Jumat (21/2/2020) sore.
Sekitar pukul 14.30 gerimis pun datang. Para siswa-siswi itu mulai menyusuri kali dari arah selatan ke utara.
Satu di antaranya adalah Zidan. Melalui ibunya, Yuni, dia menceritakan kronologi sore nahas tersebut.
Baca Juga:
• Bos Fintech Greensill dan Eks Perdana Menteri Tony Blair Disebut akan Investasi di Ibu Kota Baru
• Ramalan Zodiak Hari Ini Kamis 20 Februari 2020, Virgo Dapat Banyak Pujian, Pisces Korbankan Perasaan
• Tangis Aming Pecah Ingat Bisikan BCL tentang Ashraf Sinclair di Rumah Duka, Ibunda Noah Minta Dijaga
• Agenda di Plaza Balikpapan Akhir Februari 2020, Konser Alzera Geny Netriana Sampai Kelas Memasak
Ketika itu para peserta susur sungai berjalan didampingi para pembina.
Ada yang berjalan di tepi, ada pula yang di tengah sungai. Ketinggian air kala itu cukup dangkal.
Dia menceritakan, peserta berjalan sekitar 30 menit, dengan menempuh jarak lebih kurang satu kilometer.
Di tengah perjalanan itu tangan Zidan terluka karena tergores bambu.
Melihat hal itu, dia diminta oleh kakak pembina untuk naik ke tepi sungai.
Tak lama setelah itu, Zidan melihat air bergulung-gulung dari arah utara atau tepat di hadapan para peserta susur sungai.
Spontan dia berteriak jika banjir datang.
BACA JUGA
Menara Sutet di Pesona Bukit Batuah Balikpapan Hampir Roboh, Diduga Tanah Tidak Kuat Mengikat
Kamar Dagang dan Industri Balikpapan Prediksi Investasi Malaysia di Benua Etam Lebih Rp 1 Triliun
Kasus Rudapaksa di Penajam, Anggota DPRD PPU Minta Pelaku Dihukum Seberat Mungkin Agar Ada Efek Jera
April 2020 Nanti, Tarif Dasar Air Bersih di Kabupaten Penajam Paser Utara Naik, Ini Rinciannya
Namanya Masuk Rekomendasi DPP PDIP Bersama Rahmad Masud, Thohari Aziz: Saya Tak Mau Dahului DPP
Dia melihat banyak teman-temannya tergulung banjir yang diperkirakan mencapai 1 sampai 2 meter tersebut.
“Zidan melihat ada yang keseret banjir, ada pula yang berhasil pegangan batu dan naik ke atasnya. Ya, sekitar 7 sampai 10 orang ada di atas batu besar,” ucap Yuni menirukan cerita Zidan.
Warga sekitar langsung turun memberikan bantuan.
Zidan pun ikut serta memberi pertolongan kepada teman-temannya.
Dia mengambil bambu untuk menggapai rekan-rekannya yang berada di atas batu.
Sedangkan untuk teman yang terseret banjir, tak banyak yang bisa dilakukan remaja kelas 7 ini.
“Tebing di sungai itu sekitar 2 meteran kurang lebihnya. Waktu itu di barisan depan banyak yang (peserta) ceweknya,” lanjut dia.
Penyintas lain, Salma Kusuma Haryani , sempat berjuang di antara tubir maut.
Saat itu dia berada di tengah barisan peserta susur sungai.
Setelah berjalan sekitar 30 menit, tiba-tiba ada banjir besar datang dari utara.
Tak banyak yang bisa diperbuat siswi kelas 7 ini karena air datang dengan cepatnya.
“Sempat mau menyelamatkan diri tapi enggak bisa,” kata Salma mengisahkan kepada reporter Tribun Jogja, semalam.
“Keseret air saya. Mau pegangan batu juga enggak bisa-bisa. Akhirnya bisa megang tangan kakak DP (dewan penggalang). Sempat minum banyak air juga.”
(Tribunkaltim.co)