Belajar dari Kegagalan, Kisah Rosa Eliviani Penulis Karya Ilmiah di Benua Etam
Banyak cara untuk memerdekakan diri, juga upaya mengharumkan nama daerah di kancah lebih jauh termasuk menulis
Penulis: Heriani AM | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Banyak cara untuk memerdekakan diri, juga upaya mengharumkan nama daerah di kancah lebih jauh termasuk menulis.
Ini yang dilakukan Rosa Eliviani. Dengan menulis, ia mengidentifikasi bakatnya.
Rosa adalah penulis karya ilmiah asal Benua Etam. Perempuan kelahiran Samarinda, 10 Agustus 1998 ini mengaku menulis karya ilmiah sejak duduk di bangku SMA.
Ia yang dasarnya belum pernah ikut lomba, mulai tertarik. Hal ini karena kawan sejawatnya banyak yang membuat karya tulis.
Baca Juga:Anak Desa di Samarinda Jadi Site Director Perusahaan Nitrate Bontang, Bakat Subroto Tebar Inspirasi
Baca Juga: Lee Min Ho, Park Shin Hye hingga Song Joong Ki & 6 Aktor - Aktris Korea Ini Punya Bakat Tersembunyi
Kendati minat belum dalam, Rosa mulai menulis namun karyanya yang terbilang bagus, pun diperlombakan. Dari sinilah lahir bakat yang selama ini terpendam. Meski awalnya hanya 'latah', menulis menjadi kebiasaan baik untuk Rosa.
Ia menganggap, dengan menulis, sekaligus membaca, menjadi sarana yang tepat untuknya menyampaikan informasi. Dengan tulisan, orang-orang akan lebih mahfum.
"Sewaktu kuliah, semakin rajin menulis. Tahun 2017 bersama tim, pernah ikut Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Samarinda yang digelar secara nasional," ujar alumnus Institut Teknologi Kalimantan (ITK) jurusan Sistem Informasi ini.
Lomba yang digelar Kemenristekdikti tersebut, memang tidak mengantarkan Rosa dan tim menjadi juara. Namun mengikuti lomba bersama mahasiswa lain di tanah air menjadi pengalaman berharga baginya.
Tahun berikutnya, ia kembali mengikuti lomba yang sama, yakni PIMNAS 2018 di Yogyakarta. Di lomba ini timnya juga tidak meraih podium. Hal ini sempat membuatnya down. Ia bimbang, nyalinya juga ikut ciut untuk ikut lomba lagi.
"Down cukup lama, dua tahun. Namun setelah itu, secara mandiri saya kembali membuat karya ilmiah," ungkapnya.
Kegagalan adalah guru terbaik. Berkat kerja kerasnya, putri pasangan Khairul Anam dan Faridha ini sudah mempresentasikan karyanya hingga Lampung dan Palembang. Koleksi penghargaan pun kian bertambah.
Rosa bercita-cita menjadi dosen. Olehnya itu ia berencana melanjutkan pendidikan magisternya. Terkait lomba, perempuan berhijab ini mengaku akan terus ikut jika ada kesempatan, sebagai latihan dan pengalaman.
Ia memandang, bagi siapa pun yang gemar menulis untuk percaya diri. Berkumpul dengan kawan dengan hobi serupa. Tidak apa-apa gagal, asal tidak terpuruk.
"Gagal itu pasti dialami semua orang. Tetapi mau maju lagi atau tidak, tetap tergantung dari diri sendiri," pungkasnya. (*)
Baca Juga: Seni Angklung di Puncak Gunung Boga Paser, Foribasipa Menjaring Minat Bakat Anak Siswa
Baca Juga: Ramalan Zodiak Kamis 30 Juli 2020, Pisces Dirusak Emosi, Bakat Alami Libra Mengesankan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rosa-eliviani.jpg)