Mengenal Balikpapan Cat Rescue Foundation, Kerap Selamatkan Kucing Liar Berkondisi Tidak Sehat

Seiring waktu, banyak ditemukan kucing liar yang butuh pertolongan. Hal ini yang mendorong sejumlah anak muda membentuk.

TRIBUNKALTIM.CO/ZEIN RAHMATULLAH
Sejumlah kucing yang kini rawat jalan di rumah singgah Balikpapan Cat Rescue Foundation. TRIBUNKALTIM.CO/ZEIN RAHMATULLAH 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Seiring waktu, banyak ditemukan kucing liar yang butuh pertolongan. Hal ini yang mendorong sejumlah anak muda membentuk sebuah unit penyelamat kucing.

Balikpapan Cat Rescue Foundation (BCR), demikian namanya. Dimana unit ini cenderung banyak melakukan penyelamatan terhadap kucing-kucing liar yang perlu diberi tindakan medis.

Ketua BCR, Eko Fitrianto menyebut bahwa BCR ini berdiri sejak tahun 2017. Dimana ketika itu, dimulai dari empat orang saja.

Eko yang juga inisiator berdirinya unit ini, mengaku bahwa pada awalnya dirinya kerap menemukan kucing dengan kondisi yang tidak sehat, namun dibiarkan.

Baca Juga: Kadinkes Kaltim Sapa Ponpes Hidayatullah via Virtual, Ingatkan Jangan Termakan Hoaks Soal Covid-19

Baca Juga: Curi Alat Listrik di Samarinda Harga Rp 862 Juta, Terdakwa Divonis 2 Tahun 6 Bulan Kurungan Penjara

"Ini asalnya saya lagi jalan-jalan daerah Sepinggan, lalu liat kucing kepalanya kroak. Saya mau nolong tapi saya ngga punya uang. Biaya dokter itu mahal minimal 500rb," terangnya.

Sebab itu, ia mengajak tiga orang temannya sesama pecinta kucing untuk membangun sebuah unit penyelamat kucing. Ia menekankan istilah rescue.

"Satu-satunya pertama di Balikpapan grup rescue kucing yang berani mengambil kata rescue. Karena kalau sudah bahasa rescue, ngga main-main ya soal nyawa," tandasnya.

Tidak hanya itu, lanjut Eko, BCR sendiri kini berstatus badan hukum. Sehingga apabila mereka menemui kekerasan terhadap hewan, BCR mampu membawa hal tersebut ke meja hijau.

Tepat beberapa hari silam, BCR baru saja memiliki rumah singgah. Dimana rumah singgah ini menjadi semacam rumah sementara bagi kucing yang masih dalam masa pemulihan.

"Alhamdulillah sekarang bisa bangun rumah singgah. Dibantu oleh teman-teman pecinta kucing lain. Ini kan hibahan kandang dari pecinta kucing juga," tuturnya seraya menunjuk salah satu kandang.

Meski demikian, rumah singgah ini pada dasarnya hanya tempat tinggal sementara. Sehingga, menurut Eko, harus ada sirkulasi keluar-masuk terhadap jumlah kucing.

"Makanya ini dinamakan rumah singgah, bukan shelter atau penampungan. Kecuali kalau namanya shelter balikpapan cat rescue foundation pasti semua kucing kita tampung," ucapnya.

Sehingga, dalam penyelamatnya, tampaknya BCR menerapkan dua metode. Pertama metode penyelamatan mereka sendiri. Kedua, metode aduan.

Metode pertama, ini apabila ditemukan kucing bekas tabrak lari atau kucing-kucing yang mengalami insiden dan perlu segera dibawa ke dokter hewan.

Setelah itu, BCR akan melakukan proses pemulihan. Dimana sepanjang proses pemulihan tersebut, BCR akan membuka kesempatan bagi siapa saja yang berkenan mengadopsi.

Kedua, metode aduan. Metode ini berangkat dari aduan warganet melalui sosial media.

"Kami akan tolong selama si pelapor mau adopsi. Karena tidak mungkin kucing ini dalam masa pemulihan dilepas dijalan" ucap Eko.

Setidaknya, baginya, bisa mengurangi satu kucing dijalan dan punya rumah yang nyaman.

Terhitung sudah sejak tiga tahun hingga hari ini, ia mengaku BCR berjalan efektif.

Dimana dalam satu hari, BCR menangani 5 hingga 9 ekor kucing.

Seputar kendala, ia mengaku kerap kewalahan lantaran ketika menerima aduan, sang pelapor hanya menyebut nama kawasan tanpa memberi informasi detil lokasi kucing.

Sehingga, Eko mengaku terpaksa harus membuang waktu guna menemukan kucing tersebut.

Disamping itu, menurutnya, ia merasa perlu untuk menjelaskan bahwa BCR hanya memiliki rumah singgah. Bukan shelter pun penampungan.

Namun tidak menutup kemungkinan, papar Eko, jika temukan tempat dan sumber dana yang tepat BCR akan buka shelter.

"kalau dengan keadaan dana yang sekarang kita nekat buat shelter, sebulan habis. Karena shelter itu bersifat tetap. Tidak ada kucing yang diadopsi tapi pengeluaran terus keluar," tutup Eko.

Bermula dari Jalan-jalan di Sepinggan

Tahun 2017 menjadi memorial bagi Eko Fitrianto yang mengubah perwujudan kesukaannya terhadap kucing di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.

Bagaimana tidak, yang awalnya sebatas rasa cinta, ada hobi, maju satu tingkat menjadi penyelamat.

Keputusannya ini bukan tanpa sebab. Saat ditemui TribunKaltim.co, ia pernah menemui satu penampakan dimana kucing terlantar dengan kondisi bagian kepala mengalami kerusakan hingga bagian tengkorak terpampang jelas.

"Ini asalnya saya lagi jalan-jalan di daerah Sepinggan, Kota Balikpapan. Terus saya lihat kucing kepalanya kroak. Saya mau nolong tapi saya nggak punya uang," ujar Eko.

Melihat itu, ia bertekad untuk membuat satu unit penyelamat terhadap kucing-kucing yang mengalami hal serupa.

Baca Juga: Kecelakaan Lalu Lintas di Sungai Ampal Balikpapan, Satu Mobil Melayang Masuk ke Lahan Kosong

Baca Juga: Mengenal Profil Kamala Harris, Wakil Presiden Amerika Serikat Terpilih yang Mendampingi Joe Biden 

Baca Juga: 4 Faktor Kunci di Balik Tumbangnya Sang Petahana Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat

Menurutnya, Balikpapan memiliki banyak komunitas pecinta kucing, namun tidak semua berani ambil keputusan untuk menyelamatkan.

Hingga sekitar medio tahun 2017 tersebut, Eko bersama beberapa temannya, membangun unit tadi yang eksis hingga hari ini dengan nama Balikpapan Cat Rescue Foundation.

Unit penyelamat kucing ini, sambung Eko, setidaknya menerima lima ekor kucing per hari untuk diberi tindakan medis.

Baca Juga: Bekerjasama dengan PMI, Polres Kukar Gelar Donor Darah

Baca Juga: Dua Perwakilan KIM Kukar Bakal Ikuti Acara Kemkominfo RI

Baca Juga: Pertamina RU V Balikpapan Kembangkan Program Pemberdayaan Terintegrasi

Baca Juga: Tanggapan Mabes Polri Soal Represif Aparat Kala Tangani Aksi Demonstrasi Mahasiswa di Samarinda

Dia mengaku, kerap merasa kesal lantaran banyak kucing liar yang mendapat perlakuan tidak pantas dari manusia.

Salah satunya, ketika manusia memberi sisa makanan seperti tulang ikan untuk kucing-kucing liar tersebut.

Hal ini, karena ia pernah menemui sejumlah kucing yang harus kepayahan menelan akibat patahan tulang ikan yang tertinggal di area kerongkongan.

"Coba dia disuruh makan tulang ikan, mau nggak? Malah dikasih kucing. Kan aneh," tegasnya.

Mengenai jumlah peliharaan kucing yang dimiliki, Eko mengaku kini memelihara belasan ekor. Dimana kucing yang ia pelihara, bukan dari kalangan kucing ras, melainkan kucing kampung.

Eko menyebut bahwa dalam pelihara kucing, beberapa harus meregang nyawa dengan penyebab yang variatif.

Baca Juga: Satgas Covid-19 Beberkan Kasus Aktif di Indonesia Lebih Rendah Dibanding Dunia

Baca Juga: Memperingati Hari Pahlawan, Inilah Pesan Dandim dan Kapolres Berau kepada Pemuda

Baca Juga: Peluang yang Menjanjikan Selama Covid-19, Telkomsel Ungkap Tantangan 4C

Baca Juga: Satgas Imbau Pengawasan Pekerja Migran Harus Diperketat, Positif Covid-19 di Eropa Meningkat

"Itu mayatnya saya kubur di halaman sekitar rumah. Itu sudah banyak sekali. Ada yang didepan, samping, belakang," tambahnya.

Meski begitu, dirinya tetap merasa lega. Sebab, kucing-kucing itu dimakamkan dengan kondisi yang layak. Bukan menjadi bangkai di jalanan.

Baca Juga: Ekonomi Kaltim Mulai Membaik, Ekspor Batu Bara dan CPO Menggeliat

Baca Juga: Politisi Senior Partai Keadilan Sejahtera Sarankan Mahfud MD Temui Rizieq Shihab

Baca Juga: Azerbaijan dan Armenia Bersepakat Akhiri Perang, Sudah Enam Pekan Bertempur

Baca Juga: Pemkab Kukar Buat Pemeliharaan Jembatan Ing Martadipura Kota Bangun, Kirim Personel Atur Lalu Lintas

Seperti diketahui, bukan hal suit mencari kucing liar di Kota Balikpapan.

Sebab demikian, ia tak pernah berhenti berharap agar para pecinta kucing dapat menampung kucing yang dirasa butuh perawatan.

Baca Juga: Upacara Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-56 Dilakukan via Virtual, Inilah Pesan Menteri Terawan

Baca Juga: Anggota DPRD Kaltim Kembali Mendatangi Mapolresta Samarinda, Upaya Penangguhan Penahanan Mahasiswa

Baik itu karena virus, korban kecelakaan maupun akibat kekerasan oleh manusia.

"Jadi, saling bantu. Jangan cuma mengandalkan grup pecinta kucing saja," tutupnya.

(TribunKaltim.Co/Mohammad Zein Rahmatullah)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved