Jumat, 8 Mei 2026

Cara Mengajar ala Guru di Tenggarong, Pembelajaran Bermakna via Permainan Pasang Kartu Pecahan

Kurnia Astuti, Guru SDN 003 Tenggarong, mengemas pembelajaran pecahan biasa, desimal, dan persen ke dalam bentuk permainan memasangkan kartu pecahan.

Tayang:
Editor: Budi Susilo
Freepik
Ilustrasi siswa siswi giat belajar. Banyak ragam cara untuk edukasi ke masyarakat, guru menyampaikan ilmu pengetahuan, seperti halnya guru di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Banyak ragam cara untuk edukasi ke masyarakat, guru menyampaikan ilmu pengetahuan, seperti halnya guru di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Dialah, Kurnia Astuti, Guru SDN 003 Tenggarong, mengemas pembelajaran pecahan biasa, desimal, dan persen ke dalam bentuk permainan memasangkan kartu pecahan.

Sebelumnya, Kurnia, meminta siswa menyiapkan spidol, kertas karton berwarna merah, biru dan kuning.

Demikian disampaikan Kurnia kepada TribunKaltim.co, melalui sambungan WhatsApp pada Senin 23 November 2020.

Masing-masing kertas dipotong menjadi lima bagian.

Baca Juga: Dini Hari, Jasad Pria yang Menghilang di Sungai Mahakam Ditemukan, 100 Meter dari Lokasi Kejadian

Baca Juga: Kronologi Pria Hilang di Sungai Mahakam Samarinda karena Diduga Didorong Orang tak Dikenal

Baca Juga: BREAKING NEWS Ada Pria Menghilang di Perairan Sungai Mahakam Samarinda, Saksi Mengaku Didorong

Kartu berwarna merah untuk desimal, kartu berwarna biru untuk pecahan biasa, dan kartu berwarna kuning untuk persen.

Lima kartu merah menunjukkan desimal, yang akan mempunyai pasangan nilai pecahan pada kartu biru dan persen pada kartu kuning.

Siswa harus mengajak 2 orang anggota keluarganya.

Baca Juga: Ikatan Dokter Indonesia Beberkan Tingginya Jumlah Positif Covid-19 Dipengaruhi Mobilitas Warga

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Balikpapan Senin 23 November 2020, Siang Hari akan Hujan Ringan, Malam Berawan

Untuk memulai, dilakukan hompimpa, yang pertama mendapatkan kartu biru.

Lalu yang kedua mendapatkan kartu merah, yang ketiga mendapatkan kartu kuning.

Untuk giliran pertama, pemegang kartu biru, boleh mengambil kartu acak pertama untuk di buka, dan anggota permainan lainnya memilih persamaannya.

Hal ini berlanjut untuk pemain giliran kedua dan giliran ketiga.

Lalu, hasil ditaruh dalam tabel dan dipresentasikan di depan keluarga.

Foto bermain dan foto hasil kerja dikirim ke google classroom.

Setelah melakukan permainan, Kurnia melakukan penguatan.

Baca Juga: Berikut 3 Pesan Ustaz Abdul Somad Saat Safari Dakwah di Balikpapan

Baca Juga: Berikut Calon Penerima Vaksin Covid-19, Menkes Terawan Beberkan Kriteria yang Mendapatkan

Kurnia menjelaskan bahwa bentuk pecahan ada pecahan biasa, campuran, desimal, dan persen.

Pecahan biasa terdiri dari dua yaitu pecahan murni dan tidak murni.

Pecahan campuran terdiri atas bilangan bulat dan pecahan desimal.

Pecahan desimal adalah pecahan persepuluhan, perseratusan, perseribuan dan seterusnya yang ditulis dengan menggunakan tanda koma.

Baca Juga: Ekonomi Kaltim Mulai Membaik, Ekspor Batu Bara dan CPO Menggeliat

Baca Juga: Politisi Senior Partai Keadilan Sejahtera Sarankan Mahfud MD Temui Rizieq Shihab

Baca Juga: Azerbaijan dan Armenia Bersepakat Akhiri Perang, Sudah Enam Pekan Bertempur

Baca Juga: Pemkab Kukar Buat Pemeliharaan Jembatan Ing Martadipura Kota Bangun, Kirim Personel Atur Lalu Lintas

Persen adalah bentuk lain dari pecahan berpenyebut seratus yang di tulis dengan lambang %.

Aulia Riski, siswa kelas IV berpendapat lebih mudah memahami sekaligus senang bisa sambil bermain bersama adik dan ibu dirumah menggunakan kartu pecahan.

Baca Juga: Modal Mencegah Corona, Satgas Ingatkan Pegang Teguh Iman, Aman, dan Imun

Baca Juga: 60 Juta Orang di Indonesia akan Diberikan Vaksin Covid-19 Secara Gratis, Program dari Pemerintah

“Saya berharap dengan bermain sambil belajar pada kegiatan daring ini, membuat pembelajaran siswa lebih bermakna dan membuat siswa maupun orang tua sebagai pendamping dirumah tidak jenuh," ujarnya.

"Karena kegiatan bermain sambil belajar akan membuat anak tidak berpikir tentang hasil karena proses lebih penting daripada tujuan akhir,” tuturnya.

(TribunKaltim.co/Budi Susilo)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved